WAYANG

Gambar Pertunjukan Wayang Kulit Purwa Belakang Kelir
Wayang telah ada,tumbuh dan berkembang sejak lama hingga kini,melintasi perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia.Daya tahan dan daya kembang wayang telah teruji dalam menghadapi berbagai tantangan dari waktu ke waktu.Karena daya tahan dan kemampuannya mengantisipasi perkembangan zaman itulah,maka wayang dan seni pedalangan berhasil mencapai kualitas seni yang tinggi,bahkan sering disebut seni yang adiluhung.Dibanding dengan teater-teater boneka dari luar negeri,pertunjukan wayang memiliki beberapa kelebihan,terutama Wayang Kulit Purwa.
Gambar Beberapa Jenis Wayang Asia Tenggara
Budaya wayang dan seni pedalangan itu memang unik dan canggih,karena dalam pertunjukkannya mampu memadukan dengan serasi beraneka ragam seni,seperti seni drama,seni suara,seni sastra,seni rupa dan sebagainya dengan peran sentral seorang dalang.Wayang hadir dalam wujudnya yang utuh,baik dalam estetika,etika,maupun falsafahnya.

Foto Pertunjukan Wayang Kulit Purwa Gagrak Jogjakarta
Wayang dan seni pedalangan dapat disebut sebagai teater total.Setiap lakon wayang digelar dalam pentas total,terutama ketotalan kualitatif yang dinyatakan dalam bentuk lambang-lambang.Cerita wayang dan seluruh peralatannya secara efektif mengekspresikan keseluruhan hidup manusia.Ruangan kosong tempat pentas wayang melambangkan alam semesta sebelum Tuhan menggelar kehidupan.Kelir atau layar menggambarkan angkasa,pohon pisang sebagai bumi,blencong atau lampu sebagai matahari,wayang melambangkan manusia dan makhluk penghuni dunia lainnya,gamelan atau musik melambangkan keharmonisan hidup,dan para penonton melambangkan roh-roh yang hadir dalam pentas wayang.
Foto Pertunjukan Wayang Kulit Purwa Gagrak Surakarta
Penonton merupakan satu kesatuan dalam pergelaran wayang yang tidak saja disuguhi hiburan yang menarik,melainkan diajak untuk berpikir dengan kemampuan penalaran,rasa sosial,dan filosofi.Karena memang pergelaran wayang itu merupakan suatu gambaran perjalanan kerohanian guna memahami hakekat hidup serta proses mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Foto Salah Satu Simpingan Wayang Kulit Purwa
Seni budaya wayang ini memiliki kemampuan hamot,hamong,hamemangkat,yang artinya mampu menerima masukan budaya lain,namun tidak begitu saja diserap melainkan disaring untuk selanjutnya diangkat menjadi nilai baru yang cocok bagi perkembangan wayang.

Foto Ki Dalang Gagrak Surakarta
Wayang telah tersebar hampir di seluruh pelosok negeri di Indonesia.Dalam perkembangannya bermunculan aneka ragam jenis wayang yang disesuaikan dengan kondisi daerah dan selera masyarakatnya.Ada Wayang Kulit Purwa dari Jawa Tengah,Wayang Palembang dari Sumatera Selatan,Wayang Banjar dari Kalimantan Selatan,Wayang Sasak dari Pulau Lombok,Wayang Bali,Wayang Betawi,Wayang Golek Sunda,Wayang Cirebon,Wayang Golek Menak,Wayang Klithik,Wayang Krucil,Wayang Beber,dan lain lain.Namun diantara semua itu nampaknya yang tetap mampu berkembang dengan baik ialah Wayang Kulit Purwa dan Wayang Golek Sunda dengan cerita Ramayana dan Mahabharata.Gambar-gambar di bawah ini beberapa contoh jenis Wayang di Indonesia.

Wayang Golek Purwa Sunda

Foto Profil Ki Dalang Gaya Betawi

Gambar di atas ini adalah pertunjukan Wayang Bali

Gambar di atas ini adalah pertunjukan Wayang Banjar

Gambar di atas ini adalah pertunjukan Wayang Palembang

Gambar di atas ini adalah pertunjukan Wayang Potehi

Contoh Wayang Beber dengan Kisah Mahabarata

Gambar Wayang Wahyu Kisah Tentang Yesus Kristus

Wayang di atas adalah Wayang Gedhog dengan Kisah Panji

Gambar Pertunjukan Wayang Klithik

Gambar Pertunjukan Wayang Kancil

Gambar di atas adalah pertunjukan Wayang Suket

Gambar di atas adalah pertunjukan Wayang Orang
Asal-Usul Wayang
Asal-usul wayang memang tidak tercatat secara akurat seperti sejarah,namun orang selalu ingat dan merasakan kehadiran wayang dalam kehidupan masyarakat Indonesia.Wayang merupakan puncak hasil akal budi bangsa Indonesia.
Menurut para pakar,wayang sudah ada sejak zaman 1500 tahun Sebelum Masehi,jauh sebelum agama dan budaya luar masuk ke Indonesia.Jadi wayang dalam bentuknya yang masih sederhana adalah asli Indonesia,yang dalam perkembangannya telah mampu beradaptasi dengan unsur-unsur lain sehingga menjadi ujudnya yang seperti sekarang.Wayang yang kita lihat sekarang berbeda dengan wayang pada masa lalu,begitu pula wayang di masa yang akan datang akan berubah sesuai dengan zamannya.
Keaslian wayang yang berasal dari Indonesia bisa ditelusuri dari penggunaan bahasa Jawa asli seperti wayang,kelir,blencong,kepyak,dalang,kotak dan lain-lain.Dalam perkembangannya bahasa yang digunakan dalam wayang yang tadinya dari bahasa Jawa Kuno atau Kawi kemudian bercampur dengan bahasa Jawa Baru dan bahasa Indonesia.Bahasa campuran ini biasa disebut dengan basa rinengga,maksudnya bahasa yang telah disusun indah sesuai dengan kegunaannya.
Gambar Pertunjukan Wayang Beber Zaman Dahulu
Bermula dari jaman kuno ketika nenek moyang bangsa Indonesia masih menganut animisme dan dinamisme,yang mempercayai roh orang yang sudah meninggal masih tetap hidup dan semua benda itu bernyawa dan mempunyai kekuatan.Roh nenek moyang ini masih terus dipuja dan dimintai pertolongan.Untuk pemujaannya selain melakukan ritual tertentu,mereka juga mewujudkannya dalam bentuk gambar dan patung.Roh nenek moyang yang dipuja ini disebut dengan hyang atau dahyang.
Seseorang yang diyakini bisa berhubungan dan dijadikan sebagai medium perantara untuk meminta pertolongan pada roh nenek moyang,disebut dengan syaman.Ritual pemujaan nenek moyang,hyang dan syaman inilah yang merupakan asal mula pertunjukan wayang.Hyang menjadi wayang,dan syaman menjadi dalang.Sedangkan ceritanya adalah petualangan dan pengalaman nenek moyang.Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa Kuno yang sampai sekarang masih dipakai.

Foto Seni Pertunjukan Tari Topeng Panji di Keraton
Agama Hindu dan Buddha yang berasal dari India kemudian masuk ke Indonesia pada sekitar abad pertama Masehi.Kedua agama ini mempengaruhi perkembangan wayang dengan mengambil cerita dari kitab Ramayana dan Mahabarata yang lebih berbobot.Selama abad X sampai XV,wayang berkembang dalam rangka ritual agama dan pendidikan kepada masyarakat.Pada masa ini telah ditulis berbagai cerita tentang wayang.
Pada masa kejayaan kerajaan Kediri,Singasari dan Majapahit kepustakaan wayang mencapai puncaknya seperti tercatat dalam prasasti di candi-candi,dan karya-karya sastra yang ditulis oleh para empu terkenal seperti empu Sindok,Sedah,Panuluh,Tantular dan lain-lain.Pergelaran wayang sudah bagus,diperkaya dengan penciptaan peraga wayang terbuat dari kulit yang dipahat dan diiringi dengan gamelan.

Foto Seni Pertunjukan Tari Gatotkaca Gandrung
Menarik untuk diperhatikan cerita Ramayana dan Mahabarata yang aslinya berasal dari India telah diterima dalam pergelaran wayang di Indonesia sejak zaman Hindu hingga sekarang.Sehingga wayang identik dengan Ramayana dan Mahabarata.Namun demikian cerita versi aslinya yang berasal dari India itu sudah banyak berubah alur ceritanya.Kalau di India,Ramayana dan Mahabarata itu berbeda satu dengan yang lain,di Indonesia menjadi satu kesatuan.
Dalam pewayangan cerita bermula dari kisah Ramayana terus bersambung dengan Mahabarata,malahan dilanjutkan dengan kisah zaman kerajaan Kediri.Mahabarata asli berisi 20 parwa,di Indonesia tinggal 18 parwa.Perbedaan yang menonjol juga dari nilai falsafahnya,terutama setelah masuknya agama Islam ke Indonesia.
Falsafah Ramayana dan Mahabarata yang Hinduisme diolah sedemikian rupa sehingga diwarnai nilai-nilai agama Islam.Hal ini tampak dalam kedudukan para dewa,garis keturunan yang patriarkhat dan sebagainya.Wayang diperkaya juga dengan begitu banyak lakon atau cerita gubahan baru yang disebut dengan carangan.Di Indonesia,lebih banyak lakon yang digubah dari cerita Mahabarata daripada Ramayana olah para pujangga kita.
Masuknya agama Islam ke Indonesia pada abad XV membawa perubahan besar terhadap perkembangan wayang.Pembaharuan ini tidak saja dalam bentuk dan cara pergelaran wayang,melainkan juga isi dan fungsinya.Bentuk wayang yang semula realistik proposional seperti pada relief-relief candi,distilir menjadi bentuk imajinatif seperti wayang sekarang.Selain itu banyak tambahan dalam peralatan seperti kelir atau layar,blencong atau lampu,debog atau pohon pisang yang digunakan untuk menancapkan wayang,dan lain-lain.Wayang oleh para wali dahulu digunakan sebagai sarana dakwah,yang disesuaikan dengan nilai-nilai keislaman hingga sekarang.

Gambar Pertunjukan Wayang Panakawan Teletubbies
Dari perkembangan wayang tersebut di atas,tampak bahwa awalnya wayang itu berasal dari pemujaan roh nenek moyang pada zaman kuno,yang dikembangkan pada zaman Hindu,kemudian diadakan pembaharuan pada zaman kerajaan Islam dan terus berkembang hingga zaman penjajahan dan kemerdekaan hingga sekarang.

Foto Seni Tatahan atau Sunggingan Wayang Kulit
Wayang bukan sekedar tontonan bayang-bayang melainkan sebagai wewayangane ngaurip,yaitu bayangan hidup manusia.Dalam pertunjukkan wayang,dapat dinalar dan dirasakan bagaimana kehidupan manusia itu mulai dari lahir hingga mati.Perjuangan hidup manusia untuk menegakkan kebenaran dan keadilan,dan pesan-pesan moral lainnya juga dimasukkan dalam pertunjukkan wayang.Sehingga wayang tak ubahnya sebagai buku falsafah Nusantara yang bisa dipakai sebagai sumber etika dan moral bangsa Indonesia.
Mengenal Beberapa Tokoh Wayang
Abilawa

Jagal Abilawa grafis wayang gagrak Surakarta
Nama samaran yang digunakan oleh Bima,ketika ia bersama saudara-saudaranya,para Pandawa dan Dewi Drupadi bersembunyi di Kerajaan Wirata.Ini terjadi setelah para Pandawa bersama Dewi Drupadi selesai menjalani masa pembuangan di hutan selama 12 tahun,karena kalah di meja judi.

Wayang Kulit gagrak Cirebon Abilawa
Menurut perjanjian yang telah disepakati itu,sesudah masa pembuangan Pandawa harus bersembunyi dan menyamar selama satu tahun.Bilamana dalam satu tahun itu,ada salah seorang Pandawa yang dapat diketemukan dan dikenali penyamarannya oleh Kurawa,mereka harus menjalani hukuman pembuangan di hutan lagi selama 12 tahun.

Jagal Abilawa grafis wayang gagrak Yogyakarta
Dalam penyamarannya,Bima alias Abilawa bekerja sebagai penyembelih hewan ternak,yang dalam bahasa Jawa disebut Jagal.Ia bekerja pada seorang juru masak Istana Wirata bernama Jagal Welakas.

Wayang Ukur karya Ki Sukasman Jagal Abilawa
Selama setahun bersembunyi di Kerajaan Wirata,Abilawa sempat membunuh tiga orang senapati Wirata yang bernama,Rajamala,Rupakenca dan Kencakarupa.Mereka adalah ipar Raja Wirata,Prabu Matswapati.Para senapati itu hendak bertujuan mengambil kekuasaan.

Rupakenca dan Kencakarupa menantang Seta,Utara,dan Wratsangka yang adalah para putera Prabu Matswapati.Yang menjadi jago di pihak Rupakenca dan Kencakarupa adalah Rajamala.Sedangkan yang menjadi jago di pihak Seta,Utara,dan Wratsangka adalah Jagal Abilawa.Taruhannya adalah hak atas Kerajaan Wirata.

Wayang Kulit Jagal Abilawa
Dalam adu tanding sampai mati itu,Abilawa berhasil membunuh Rajamala dengan bantuan panah Pasopati yang dicelupkan di Sendang Panguripan di tepi gelanggang.Karena tiap kali berhasil terbunuh,mayat Rajamala yang dibawa oleh Rupakenca dan Kencakarupa kemudian diceburkan ke Sendang Panguripan,berhasil hidup lagi.Demikian hingga berkali-kali,sampai Abilawa kehabisan tenaga.

Peran Arjuna yang pada waktu itu menyamar dengan memakai nama Kendi Wrahatnala membantu dengan mencelupkan panah Pasopati miliknya ke dalam sendang tersebut.Sehingga pada waktu mayat Rajamala diceburkan lagi ke sendang,mayat itu segera melepuh dan hancur menjadi bubur.Melihat hal itu Rupakenca dan Kencakarupa menjadi marah besar dan mengamuk,namun mereka berdua akhirnya berhasil dibunuh oleh Abilawa.

Jagal Abilawa grafis wayang gagrak Banyumas
Menurut kitab Mahabarata,nama samaran Bima ketika bersembunyi di Wirata,adalah Balawa atau Walala.Sedangkan nama senapati Wirata yang dibunuh Balawa adalah Kincaka,karena Kincaka berbuat kurang sopan pada Dewi Drupadi yang pada waktu itu menyamar dengan nama Malini,Sairandri,Sairindri atau Syarindri,berperan sebagai pelayan pribadi permaisuri raja Wirata.Nama Rajamala dan Rupakenca tidak disebut di dalam kitab Mahabarata.
Abimanyu

Gambar Abimanyu berpamitan dengan istrinya Versi India
Abimanyu adalah putera kesayangan Arjuna dari salah seorang istrinya yang bernama Dewi Subadra.Abimanyu,berasal dari bahasa Sanskerta yaitu dari dua kata Abhi yang berarti berani,dan Manyu yang berarti tabiat.

Grafis Wayang Abimanyu gagrak Surakarta
Abimanyu adalah seorang ksatria yang tampan,pendiam,berilmu tinggi,dan kuat bertapa.Itulah sebabnya ia berhasil mendapatkan Wahyu Cakraningrat,yang kelak keturunannya akan menjadi raja-raja besar.

Grafis Wayang Abimanyu gagrak Yogyakarta
Abimanyu beristrikan dua orang,yaitu Dewi Siti Sundari,puteri Prabu Kresna dan Dewi Utari,puteri Prabu Matswapati.Perkawinan dengan Dewi Siti Sundari tidak menghasilkan keturunan.Sedang dengan Dewi Utari,Abimanyu mendapatkan seorang putera yang tidak sempat ia saksikan kelahirannya,karena gugur dalam perang Baratayuda.Puteranya itu dinamakan Parikesit.Kelak setelah perang Baratayuda selesai,dan Pandawa menang,Parikesit lah yang menduduki tahta Kerajaan Astina.

Wayang Kulit Abimanyu gagrak Surakarta
Kasatrian tempat tinggalnya adalah Plangkawati,setelah dia berhasil membunuh raja gandarwa bernama Angkawijaya alias Jayamurcita dari kerajaan Plangkawati.
Dalam perang Baratayuda,Abimanyu tampil sebagai senapati perang dari pihak Pandawa pada hari ke-13.Sewaktu Abimanyu mendengar kematian adiknya,yang bernama Brantalaras dia menjadi kalap dan mengamuk,tidak mampu mengendalikan diri lagi.

Wayang Kulit Abimanyu wanda Padasih
Akhirnya Abimanyu menjadi terperangkap di dalam jebakan pasukan Kurawa yang memakai siasat perang Cakrabhuya atas saran Begawan Drona.Dia terpisah dari pasukannya,sementara usaha untuk mendekati Begawan Drona yang telah membunuh adik-adiknya tidak berhasil.

Wayang Kulit Abimanyu Gugur gagrak Cirebon
Serangan dari pasukan Kurawa menjadi bertubi-tubi,ratusan anak panah dilepaskan ke tubuh Abimanyu.Sehingga sampai diistilahkan lukanya sebagai tatune arang kranjang.Kondisinya sangat mengenaskan,namun masih sanggup membunuh putra mahkota kerajaan Astina,Lesmana Mandrakumara dengan panah Kyai Gusara,pemberian mertuanya,Prabu Kresna.

Wayang Kulit Raden Abimanyu
Hal ini membuat kemarahan besar pasukan Astina,segeralah Jayadrata,ipar Prabu Suyudana menaiki gajahnya,dan menginjak-injak tubuh Abimanyu yang penuh luka.Tidak hanya itu,dengan gada Kyai Glinggang milik Jayadrata,kepala Abimanyu remuk dihatamnya.

Wayang Kulit Abimanyu gagrak Jawa Timuran
Peristiwa gugurnya Abimanyu secara aniaya itu membuat dendam yang amat sangat pada diri Arjuna,ayah Abimanyu.Ia mengucapkan sumpah akan bunuh diri bilamana keesokan harinya tidak dapat membalaskan dendam kematian anaknya.Akhirnya dengan bantuan Prabu Kresna,Arjuna berhasil membunuh Jayadrata.
Abiyasa

Grafis wayang Abiyasa gagrak Surakarta
Abiyasa adalah kakek dari keluarga Pandawa dan Kurawa.Ayahnya adalah Begawan Palasara,pertapa terkenal dari Gunung Rahtawu,Ibunya adalah Dewi Durgandini yang telah pergi meninggalkannya sejak masih bayi.

Wayang Kulit Kyai Inten Abiyasa sewaktu muda
Kisah kelahiran Abiyasa menurut pewayangan adalah sebagai berikut:
Dewi Durgandini yang hidup sebagai wanita pendayung perahu tambangan di sungai Yamuna,suatu hari mendapat pelanggan seorang pertapa muda,bernama Palasara,yang meminta diseberangkan ke sisi lain sungai itu.Di dalam perahu Palasara menawarkan bantuan untuk menyembuhkan penyakit kulit yang diderita Dewi Durgandini.Pada waktu Palasara mengobatinya,si Penyakit melawan,sehingga terjadi perkelahian.Perkelahian dasyat itu menyebabkan terjadinya badai di sekitar perahu.Sang penyakit kalah,dan menjelma menjadi seorang pria berwajah buruk,bernama Rajamala.Akibat badai perahu itupun akhirnya pecah menjadi dua,dan menjelma menjadi manusia.Oleh Palasara,keduanya diberi nama Rupakenca dan Kencaka Rupa.Dayungnya kemudian berubah menjadi seorang wanita cantik,yang diberi nama Dewi Rekatawati.Mereka semua meminta diakui sebagai anak Palasara.Permintaan itu diterima,dan oleh Palasara disuruh pergi ke kerajaan Wirata,guna menghadap kakak Dewi Durgandini,yang bernama Durgandana atau Prabu Mastwapati.
Pecahnya perahu itu membuat Palasara dan Dewi Durgandini terdampar di sebuah pulau.Di pulau inilah Dewi Durgandini menikah dengan Palasara,hamil dan akhirnya melahirkan Abiyasa.
Ketika masih bayi,Abiyasa pernah berebut air susu Dewi Durgandini dengan bayi Resi Bisma(nama kecinya adalah Dewabrata).Pada waktu itu Sentanu,ayah Dewabrata, datang ke Astina bersama bayinya,meminta Dewi Durgandini mau membagi air susunya dengan Dewabrata.Dewi Durgandini yang pada waktu itu menjadi permaisuri Palasara tidak keberatan.Tetapi ternyata Dewabrata amat rakus,sehingga Abiyasa sering tidak kebagian air susu ibunya sendiri.Ini yang membuat Palasara,yang ketika itu sudah menjadi raja dan bergelar Prabu Dipakiswara menjadi marah.Karena persoalan air susu itu,Palasara bertanding dengan Sentanu.Akhirnya dapat dilerai oleh Batara Narada,dan atas kehendak para dewa,Palasara harus mengalah pada Sentanu.Ia harus merelakan tahta kerajaan Astina dan permaisurinya,Dewi Durgandini kepada Sentanu.

Grafis wayang Abiyasa ketika menjadi Raja gagrak Surakarta
Sebagai seorang pertapa sesungguhnya Abiyasa tidak berkeinginan menjadi Raja.Lagi pula ia memang tidak berhak menduduki tahta Kerajaan Astina,karena ia tahu yang lebih berhak adalah Resi Bisma atau Dewabrata,putera Prabu Sentanu,Raja Astina terdahulu.Namun karena Resi Bisma sudah bersumpah tidak akan menduduki tahta Astina,Abiyasa terpaksa menuruti kehendak ibunya,menjadi Raja.Ibu Abiyasa,Dewi Durgandini setelah berpisah dengan Palasara menjadi permaisuri Prabu Sentanu.

Wayang Kulit Prabu Kresna Dwipayana gagrak Jogjakarta
Sebelum Abiyasa naik tahta,yang menjadi Raja Astina adalah Citranggada dan Wicitrawirya.Keduanya adalah putra Dewi Durgandini dengan Prabu Sentanu.Namun ternyata keduanya tidak berumur panjang,mati dalam usia muda.Selain mengemban tugas menjadi Raja,Abiyasa juga berkewajiban melanjutkan garis keturunan keluarga Barata atau keluarga Kuru.Sehingga selain menjadi Raja Astina,Abiyasa juga disuruh mengawini kedua janda adik tirinya,yang bernama Dewi Ambika dan Ambalika,para putrinya Prabu Darmamuka dari Kerajaan Giyantipura.Mulanya keduanya itu sekaligus permaisuri Prabu Citranggada.Setelah Citranggada meninggal,keduanya diperistri Wicitrawirya,adik Citranggada.Setelah Wicitrawirya juga meninggal,akhirnya keduanya diperistri oleh Abiyasa.Tetapi di luar kemauannya,Abiyasa juga mengambil seorang dayang,bernama Drati.
Dari ketiga istri Abiyasa itu,masing-masing mendapat seorang putera.Ketiga puteranya cacat tubuhnya.Cacat yang diderita mereka disebabkan oleh kutukan Dewa,karena ketiga istrinya merasa jijik ketika harus melayani Abiyasa di tempat tidur.Walaupun pribadinya terpuji dan bersikap lembut,Abiyasa memang berwajah buruk,kulitnya kasar dan hitam.
Dewi Ambika selalu memejamkan matanya pada saat harus melayani suaminya di tempat tidur,akibatnya ia dikutuk para Dewa,anak yang dilahirkan akan menjadi buta.Anak itu diberi nama Destarata atau Drestarastra.Destarata inilah yang nantinya menurunkan keluarga Kurawa.Sedangkan Dewi Ambalika selalu berwajah pucat dan memalingkan muka bila melayani suaminya,sehingga ia pun juga dikutuk oleh para Dewa,anak yang dilahirkannya akan memiliki cacat yaitu memiliki leher yang kaku dan bermuka pucat,yang diberi nama Pandu Dewanata yang kemudian akan menurunkan keluarga Pandawa.Dayang yang bernama Drati pun juga tidak ikhlas dalam melayani suaminya,Abiyasa.Ia selalu menggelinjangkan kakinya bila sedang melayani,maka ia juga dikutuk para Dewa,anak yang dilahirkannya kelak akan memiliki panjang sebelah kakinya,yang kemudian mendapat nama Yama Widura.

Wayang Kulit Kyai Inten Abiyasa sewaktu murka
Abiyasa berumur sangat panjang,bahkan sempat menyaksikan upacara penobatan cicitnya,Prabu Parikesit,sebelum akhirnya moksa.Dialah yang bernama lain Wyasa yang menulis Kitab Mahabarata.Waktu menjadi Raja Astina,dia bernama Kresnadwipayana.Ia juga memiliki nama lain Sutiksnaprawa,artinya orang yang arif dan bijaksana.Atau Rancakaprawa,artinya orang yang suka menolong pada orang yang ditimpa kemalangan.Abiyasa sendiri dari kata Abhi berarti dekat,atau bersifat dan yasa berarti terpuji,jadi orang yang selalu bersifat terpuji.Kitab Mahabarata yang asli adalah mahakarya Begawan Abiyasa sebagai pujangga sastra.Buku yang kemudian sebagai buku suci umat Hindu ini,terdiri atas 18 parwa dan lebih dari 7000 seloka.
Achintya

Wayang Kulit Parwa Bali Achintya atau Sang Hyang Tunggal
Dalam Wayang Parwa Bali adalah pelindung dunia wayang,penguasa alam pewayangan,sering juga disebut Hyang Tunggal atau Hyang Licin.Peraga wayang Achintya adalah yang paling kecil diantara semua peraga wayang parwa Bali.Identik dengan Dewa Ruci,yang digambarkan serupa bayi tanpa busana.Di atas kepala,di kemaluan,telinga,di kedua bahu,siku,lutut,dan kedua ujung kakinya dibuat ornamen serupa trisula.
Adimanggala

Grafis Wayang Adimanggala gagrak Surakarta

Grafis Wayang Adimanggala gagrak Jogjakarta
Adimanggala adalah patih negara Awangga pada zaman pemerintahan Adipati Karna.Dia sebenarnya anak gelap yang lahir dari skandal yang dilakukan ibunya,Ken Sayuda atau Nyai Segopi dengan Ugrasena,putera Prabu Basukunti,Raja Mandura.Untuk menutupi skandal itu,Ken Sayuda kemudian dinikahkan dengan Antagopa,Demang Widarakandang.
Adirata

Grafis wayang Adirata gagrak Surakarta
Adirata adalah sais atau kusir di Kerajaan Astina,yang kemudian menjadi ayah angkat Adipati Karna,karena dia dan istrinya yang bernama Nadha atau Radha tidak memiliki keturunan.

Wayang Kulit karya Ki Bambang Suwarno Adirata
Adirata menemukan bayi yang terapung di dalam peti kayu yang hanyut di sungai,yang ternyata adalah anak Dewi Kunti dengan Batara Surya.
Adrika

Grafis wayang Dewi Adrika gagrak Surakarta
Dewi Adrika adalah seorang bidadari yang menjalani kutukan sehingga ia terpaksa turun ke dunia dan menjelma menjadi seekor ikan besar di Sungai Yamuna.Suatu ketika ikan itu menelan benih(mani) Prabu Basuparicara atau Basupati yang jatuh ke sungai,sehingga ikan betina itu akhirnya hamil,dan melahirkan bayi kembar,yang berwujud manusia laki-laki dan perempuan.Kedua bayi itu kemudian dititipkan kepada seorang pendayung tambang bernama Dasabala.Kelak di kemudian hari kedua bayi itu setelah dewasa diserahkan kepada Prabu Basupati,raja kerajaan Wirata,dan diberi nama Durgandana yang nantinya menjadi Prabu Matswapati dan Dewi Durgandini yang nantinya menjadi istri Palasara dan Prabu Sentanu,raja Astina.
Agnyanawati

Grafis wayang Dewi Agnyanawati gagrak Surakarta
Dewi Agnyanawati alias Dewi Sugatawati adalah puteri Prabu Krentagnyana dari Kerajaan Giyantipura.Sebelumnya dia adalah istri Prabu Boma Narakasura,raja Kerajaan Trajutrisna.Karena ketahuan terlibat skandal cinta dengan adik iparnya,Samba maka oleh Prabu Boma Narakasura,Samba kemudian tewas dengan tubuh tercabik-cabik oleh kakaknya sendiri.

Wayang Kulit Kyai Inten Dewi Agnyanawati
Melihat hal ini,ayah mereka,Prabu Kresna justru membela Samba,karena menurut pendapatnya,memang Samba lah jodohnya Dewi Agnyanawati,Samba adalah titisan Dewa Drema sedangkan Dewi Agnyanawati adalah titisan Dewi Dremi.Kedua Dewa-Dewi itu sebelumnya telah bersepakat untuk membangun cintanya lagi setelah keduanya menitis di dunia.Oleh Prabu Kresna,mayat Samba berhasil dihidupkan kembali,karena memang belum saatnya mati,dengan Cangkok Wijayakusuma,Samba hidup lagi.Kemudian Prabu Kresna membunuh anaknya sendiri,Prabu Boma Narakasura dengan senjata Cakra.
Airawata

Gambar Batara Indra yang tengah menunggang gajah putih,Airawata

Wayang Kulit Gajah Putih Aerawata
Airawata atau Erawata adalah nama gajah tunggangan Dewa Indra.Dia adalah pemimpin para gajah,besarnya berlipat kali dari gajah biasa,bahkan dalam mitologi Hindu,dia digambarkan sebagai gajah yang berwarna putih berkepala lima.
Amba

Grafis Wayang Dewi Amba gagrak Surakarta
Adalah puteri sulung Prabu Darmamuka dari negara Giyantipura atau Sruwantipura.Dalam kitab Mahabarata negeri ini disebut Kerajaan Kasi,sedangkan rajanya disebut Kasendra.Dewi Amba bersaudara dengan Wahmuka,Arimuka,Ambika dan Ambalika.Ketiga puteri itu cantik semua,sedangkan Wahmuka dan Arimuka berujud raksasa gagah dan sakti yang sayang sekali kepada saudara-saudara perempuannya.
Pada suatu ketika diadakanlah sayembara,barang siapa yang bisa mengalahkan dalam pertandingan hidup mati dengan Wahmuka dan Arimuka,maka pemenangnya akan mendapatkan ketiga puteri Prabu Darmamuka itu.Banyak pelamar yang gagal dan tewas di tangan Wahmuka dan Arimuka.Sampai akhirnya,datanglah seorang ksatria dari Astina,bernama Dewabrata yang berhasil memenangkan pertandingan dan memboyong ketiga puteri tersebut.
Sesampainya di istana Astina,ketiga puteri boyongan itu tidak diperistri oleh Dewabrata,tapi dijodohkan dengan adik tiri Dewabrata,raja Astina,Prabu Citranggada(Citrasoma).Dewi Ambika dan Ambalika tidak protes,keduanya menurut saja.Namun Dewi Amba tidak mau,ia jatuh cinta pada Dewabrata dan beralasan bahwa yang membunuh Wahmuka dan Arimuka adalah Dewabrata(Bisma),bukan Citranggada,jadi Bisma lah yang seharusnya menjadi suaminya.
Bisma menolak cinta Dewi Amba,karena ia sebelumnya telah terikat sumpah,tidak akan menikah untuk selamanya.Namun Dewi Amba tidak mau mendengar alasannya,ia terus menuntut dan mendesak Bisma,sehingga akhirnya Bisma naik darah.Agar Dewi Amba takut kepadanya,Bisma menakutinya dengan mengacungkan anak panah,tapi Dewi Amba tidak mempedulikannya.Sampai akhirnya karena gugup,tanpa sengaja anak panah itu terlepas dari busur Bisma,menyebabkan tewasnya Dewi Amba.Bisma menjadi sangat menyesalinya.
Sebelum tewas,Dewi Amba sempat berpesan pada Bisma,bahwa ia akan tetap menuntut hidup bersama dengan ksatria pujaannya itu di alam lain.Dalam perang Baratayuda kelak,Bisma akan berhadapan dengan seorang prajurit wanita yang akan berhadapan dengannya,dan berhasil membunuhnya.Prajurit wanita itu nantinya adalah Srikandi,yang disusupi arwah Dewi Amba.
Ambika dan Ambalika

Grafis wayang Dewi Ambika gagrak Surakarta
Dewi Ambika dan Ambalika adalah kakak beradik yang selalu mengalami nasib serupa satu dengan yang lain.Mereka kawin dengan orang yang sama yaitu raja Astina,Prabu Citranggada alias Citrasoma.Kemudian waktu Prabu Citranggada tewas dalam pertempuran melawan raja raksasa,keduanya sama-sama menjadi janda.Dan kemudian keduanya kawin dengan adik Citranggada,yaitu Prabu Wicitrawirya.Suami kedua ini pun juga segera meninggal,dan kedua kakak beradik ini sama-sama menjanda lagi.Dari kedua perkawinan ini,Dewi Ambika dan Ambalika belum sempat memperoleh anak.Mereka berdua akhirnya kawin dengan suami ketiga,yaitu Abiyasa.
Abiyasa ini tidak tampan dan sudah tua,sehingga Dewi Ambika dan Ambalika tidak begitu mencintainya.Tetapi atas desakan dari ibu mertuanya,Dewi Durgandini agar keduanya mau diperistri oleh Abiyasa dan harus mendapatkan keturunan demi kelangsungan Dinasti Barata.
Dalam melayani suaminya,Dewi Ambika selalu memejamkan mata.Ia merasa jijik melihat wajah Abiyasa.Karena perbuatan yang tidak pantas ini,para Dewa lalu mengutuknya.Bayi yang akan dilahirkannya,buta matanya.Bayi tunanetra itu diberi nama Destarastra.

Grafis Wayang Dewi Ambalika gagrak Surakarta
Seperti saudarinya,Dewi Ambalika pun merasa jijik jika melayani suaminya.Ia selalu memalingkan wajah dan menjadi pucat setiap kali menunaikan kewajibannya.Perbuatan ini pun dikutuk para Dewa,kelak bayi yang dilahirkannya akan memiliki kelainan berwajah pucat dan leher kaku(tengeng).Bayi ini diberi nama Pandu Dewanata.
Amongdenta

Grafis Wayang Amongdenta gagrak Surakarta
Amongdenta adalah patih dari Kerajaan Jumapala,berwujud raksasa.Rajanya bernama Sridenta.Pada pergelaran Wayang Kulit Purwa,tokoh Amongdenta oleh para dalang sering dipakai untuk memerankan tokoh-tokoh patih raksasa sabrangan,sebagai wayang srambahan.Figur peraga Amongdenta muncul dalam berbagai nama.
Amongmurka

Grafis wayang Amongmurka gagrak Surakarta
Amongmurka atau Mamangmurka adalah tokoh sakti bala tentara sabrangan.Dalam pewayangan,figur ini juga merupakan wayang srambahan.Dianggap bisa ditampilkan sebagai senapati negara mana saja,asal bersifat sabrangan.
Anala

Grafis Wayang Kapi Anala gagrak Surakarta
Kapi Anala adalah pahlawan kera berbulu merah,putera pujaan Batara Brahma atau Batara Agni.Dalam pewayangan selain sakti,Anala juga dikenal sebagai ahli teknik yang menjadi arsitek pembantu dalam pembuatan tambak yang membendung laut yang memisahkan daratan Suwelagiri dengan Alengka.Sedangkan arsitek utamanya adalah Kapi Nala,putera Batara Wiswakarma.
Ancakogra

Gambar Wayang Ditya Kala Ancakogra
Ancakogra adalah tokoh lakon carangan,semula berwujud ancak,anyaman bambu untuk tempat sesajen,yang dihidupkan oleh Sitija,atau Boma Narakasura,ketika anak Prabu Kresna itu dalam perjalanan mencari ayahnya.Sitija kemudian mengangkatnya sebagai senapati Kerajaan Trajutrisna.
Kemampuan Sitija menhidupkan orang yang mati di luar takdir disebabkan dalam perjalanannya mencari ayahnya,Sitija dibekali oleh ibunya,Dewi Pratiwi,dengan cangkok Wijaya Kusuma.Di suatu pantai,Sitija melihat buih ombak laut,ancak sesajen,bangkai burung dara,sisa panggang ayam,dan sebuah anda(tangga).Oleh Sitija,barang-barang ini berhasil dihidupkan kembali dengan cangkok Wijaya Kusuma.Ancak sesajen menjelma menjadi raksasa diberi nama Ancakogra,tangga juga menjadi raksasa,diberi nama Amisunda,burung dara menjadi raksasa diberi nama Mahodara,panggang ayam menjadi burung Garuda Wilmana,dan buih ombak laut menjadi raseksi,diberi nama Nyai Cetisagara.
Ancakogra akhirnya mati di tangan Prabu Baladewa,terkena pusaka Nanggala,tubuhnya hancur berkeping-keping menjadi batang-batang bambu,karena Prabu Baladewa sangat marah pada Ancakogra yang dinilainya telah banyak menghasut Sitija untuk berani melawan bapaknya,Prabu Kresna.
Andini

Gambar Patung Lembu Andini
Andini adalah nama seekor lembu betina yang menjadi kendaraan Batara Guru,penguasa kahyangan.Sebenarnya lembu ini penjelmaan jin sakti sehingga bisa terbang.Karena ia ingin menjadi penguasa dunia,jin Andini bertapa di Gunung Tengguru selama bertahun-tahun.Maksudnya kemudian dicegah oleh Batara Guru,yang mengatakan bahwa penguasa bumi ini sudah ada,dialah sendiri,sang Batara Guru.Andini minta bukti,menanyakan siapa jati dirinya pada Batara Guru.Oleh Batara Guru dijelaskan kalau Andini sesungguhnya adalah anak raja jin bernama Rohpatama atau Rohpatanam dari dunia Sunyaruri.Akhirnya Andini mengakui keunggulan Batara Guru,dan kemudian menjadi kendaraan tunggangan Batara Guru.Ada yang menyebut lembu Andini dengan nama Nandini.
Anggada

Grafis Wayang Anggada gagrak Surakarta
Anggada adalah kera berbulu merah.Ia anak tunggal Resi Subali,raja kera dari Guwakiskenda.Ibunya adalah seorang bidadari bernama Dewi Tara.Ketika masih bayi,ayahnya tewas dipanah Rama pada saat berkelahi melawan Sugriwa.Mereka berkelahi memperebutkan Dewi Tara,sekaligus tahta kerajaan Guwakiskenda.

Grafis Wayang Anggada gagrak Jogjakarta
Setelah ayahnya tewas,ibunya kawin dengan Sugriwa.Anggada tetap diasuh dan dibesarkan dengan kasih sayang oleh Sugriwa,adik ayahnya.Walaupun masih muda,Anggada diangkat oleh Sugriwa sebagai salah satu senapati perang pada waktu membantu Rama dari kerajaan Ayodya melawan Rahwana dari kerajaan Alengka.

Wayang Kulit Anggada gagrak Jogjakarta
Anggada kemudian ditugasi sebagai duta Rama untuk menjajagi kekuatan Alengka sekaligus memberikan ultimatum.Setelah bertemu dengan Rahwana,Anggada malah menjadi terhasut oleh hasutan Rahwana yang mengatakan sebenarnya dia itu anak Resi Subali yang dibunuh oleh Prabu Rama pada waktu membela Sugriwa,pamannya sendiri.Dan ibunya,Dewi Tara adalah adik Dewi Tari,istrinya.

Wayang Golek Purwa Sunda Anggada
Hasutan Dasamuka ini berhasil mempengaruhi pendirian Anggada.Dengan dada penuh dendam,Anggada mengamuk di markas pasukan Rama di Suwelagiri,mengancam Rama dan Sugriwa.Oleh Anoman dan Sugriwa,Anggada berhasil diringkus dan disadarkan bahwa Rama membunuh Subali semata-mata hanyalah mengemban tugas dari Dewa.Karena Subali dinilai bersalah telah mengajarkan Rahwana,ilmu Aji Pancasona yang digunakan oleh Rahwana untuk berbuat angkara murka.Akhirnya Anggada menjadi insyaf dan menjadi sadar kembali.

Wayang Kulit Anggada gaya Surakarta
Atas jasa-jasanya yang telah membantu Rama dalam penyerbuannya ke Alengka,termasuk berhasil membunuh Aswani Kumba,putera Kumbakarna.Anggada mendapat nama tambahan yaitu Jaya Anggada.
Anggajali

Wayang Kulit Batara Anggajali gagrak Jogjakarta
Batara Anggajali sebenarnya adalah seniman dari Kerajaan Medang Kamulan.Ia kemudian dikenal sebagai empu pembuat senjata pusaka sakti milik para dewa.Atas perintah Batara Guru,Anggajali pernah menggembleng Tutuka di kawah Candradimuka,sehingga menjadi ksatria sakti yang kemudian bernama Gatotkaca.
Batara Anggajali adalah anak Batara Ramadi yang juga seorang empu yang bekerja untuk kepentingan para dewa.Atas jasa-jasanya,Batara Anggajali kemudian menjadi berkedudukan setara dengan para dewa.Istrinya bernama Dewi Saka,dan mempunyai anak bernama Aji Saka.Batara Guru pernah memberinya sebuah kerajaan bernama Surati,dan memakai nama Prabu Iwaksa.Aji Saka dalam pewayangan disebut-sebut sebagai cikal bakal leluhur suku Jawa.
Anggawangsa

Grafis Wayang Resi Anggawangsa gagrak Surakarta
Disebut juga Resi Hanggawangsa,adalah raksasa pertapa yang menolong Dewi Maerah setelah permaisuri Prabu Basudewa itu dibuang ke hutan dalam keadaan mengandung.Oleh Resi Anggawangsa,Dewi Maerah dibawa ke padepokannya,Wisarengga.Sampai kemudian melahirkan bayi yang diberi nama Kangsa.Namun Dewi Maerah akhirnya meninggal beberapa hari setelah melahirkan.
Resi Anggawangsa lalu mendidik dan mengajar Kangsa dengan berbagai ilmu sehingga menjadi pemuda yang sakti.Setelah dewasa,Resi Anggawangsa mengatakan bahwa Kangsa adalah putera Dewi Maerah,permaisuri Prabu Basudewa.Dan menyarankan agar Kangsa pergi ke kerajaan Mandura,menemui Prabu Basudewa.Saran ini kurang tepat,karena sesungguhnya Kangsa bukanlah anak yang sebenarnya dari Basudewa,melainkan anak Prabu Gorawangsa yang menyaru sebagai Basudewa.
Anggeni

Grafis Wayang Kapi Anggeni
Kapi Anggeni adalah kera berambut api,putera kesayangan Batara Brama.Ia salah seorang prajurit Guwakiskenda yang membantu Prabu Ramawijaya dalam membebaskan Dewi Sinta.
Anggira

Grafis Wayang Resi Anggira gagrak Surakarta
Resi Anggira dari pertapaan Giriwahana adalah putera Batara Brahma.Sejak remaja hingga lanjut usia terus-menerus bertapa dengan menggantungkan kakinya di tebing Jamurdipa sampai umur 100 tahun.Karena itu suatu saat Batara Guru datang menemuinya guna menanyakan maksud tujuannya dia bertapa.
Resi Anggira mengatakan dia akan terus bertapa sampai para dewa memberikan kesaktian pada kedua telapak tangannya.Pertapa itu ingin agar setiap kepala semua makhluk hidup yang dipegangnya dapat hancur luluh menjadi abu.
Karena kagum akan ketekunannya bertapa,Batara Guru meluluskan permintaanya itu.Namun Resi Anggira belum yakin jika belum mencobanya,ia minta agar diperbolehkan memegang kepala Batara Guru untuk membuktikannya.Permintaan yang kurang ajar itu membuat Batara Guru murka.Dan mengutus Batara Wisnu untuk menghukum Resi Anggira.
Batara Wisnu kemudian menjelma menjadi wanita muda dan cantik,yang mengaku bernama Dewi Anggarini,dan menemui Resi Anggira.Karena rayuannya,akhirnya Resi Anggira terpikat dan bermaksud memperistrinya.Wanita muda itu bersedia kawin asalkan Resi Anggira yang telah puluhan tahun bertapa itu mandi dan mencuci rambutnya terlebih dahulu.Tanpa berpikir panjang,Resi Anggira bergegas pergi ke kolam untuk mandi dan keramas.Begitu kedua tangannya memegang kepalanya,seketika itu juga kepalanya hancur luluh menjadi abu.
Anggisrana

Grafis Wayang Kala Anggisrana gagrak Surakarta
Kala Anggisrana adalah raksasa sakti yang sanggup mengubah wujudnya sesuai kenginannya.Termasuk anak buah dan kekasih Sarpakenaka,adik Rahwana.Anggisrana pernah disuruh menyusup dan membuat kekacauan ke markas Rama di Suwelagiri.Namun berhasil dipergoki oleh Anoman dan segera dapat dibunuh.
Dalam seni kriya wayang kulit gagrak Surakarta,Anggisrana dirupakan dalam bentuk mirip cakil berambut udalan,diurai sampai ke pantat.Dalam gerak dan perilakunya juga mirip cakil.
Anggraini

Grafis Wayang Dewi Anggraini gagrak Surakarta
Dewi Anggraini adalah permaisuri Bambang Ekalaya alias Palgunadi,raja negeri Nisada atau Paranggelung.Dia lebih memilih mati daripada mengkhianati cintanya pada suaminya.
Suatu ketika dia pernah bertemu dengan Arjuna,walaupun sudah diberitahu kalau dia sudah bersuami,tapi Arjuna yang merasa dirinya yang paling tampan dan sakti tetap berusaha merayunya,bahkan memaksa dengan kekerasan.Namun Aswatama,putera Resi Drona memergokinya,dan berhasil mencegah perbuatan nista yang akan dilakukan oleh Arjuna.Terjadilah perkelahian,Dewi Anggraini berhasil kabur dan melaporkan kejadian itu pada suaminya.Setelah yakin bahwa yang bersalah adalah Arjuna,maka dengan kemarahan yang meluap-luap,Bambang Ekalaya menantang Arjuna untuk berduel.Dalam perang tanding diantara keduanya,Bambang Ekalaya gugur.Mendengar kematian suaminya,Dewi Anggraini lalu bunuh diri.
Angkawijaya

Grafis Wayang Angkawijaya gagrak Surakarta

Wayang Kulit Prabu Angkawijaya
Angkawijaya adalah nama seorang raja gandarwa(jin) dari kerajaan Plangkawati.Raja gandarwa ini mati dibunuh Abimanyu ketika masih remaja karena berhasrat memperistri ibunya,Dewi Subadra.Selanjutnya nama Angkawijaya dipakai sebagai nama alias Abimanyu,dan Plangkawati dijadikan kasatriannya.
Anglingdarma

Wayang Kulit Madya Prabu Anglingdarma gaya Surakarta
Prabu Anglingdarma dalam Wayang Madya adalah Raja Malawapati.Ia dikenal sebagai raja titisan Batara Wisnu,yang memahami dan sanggup berbicara dalam bahasa binatang.Selain itu ia memiliki aji Gineng yang didapatnya dari Nagaraja.Permaisurinya bernama Dewi Ambarawati,dan mempunyai anak yang bernama Anglingkusuma.
Anila

Grafis Wayang Anila gagrak Yogyakarta

Grafis Wayang Anila Gagrak Surakarta

Grafis wayang Anila gaya Bali

Anila adalah kera bertubuh kecil,pendek dan agak gendut tetapi berakal cerdik.Dia diangkat sebagai patih di kerajaan Guwakiskenda pada masa pemerintahan Prabu Sugriwa.Kera yang berbulu ungu ini dianggap sebagai anak Batara Narada.Anila berhasil membunuh patih Prahastha yang mencoba mempertahankan kembang Dewaretna dengan tugu penjelmaan Dewi Indradi.
Animandaya

Grafis wayang Begawan Animandaya gagrak Surakarta
Begawan Animandaya adalah pertapa sakti yang mengutuk Batara Darma sehingga dewa kejujuran,keadilan,dan kebenaran itu harus menjalani hidup sebagai manusia biasa yang dilahirkan oleh wanita berdarah sudra.
Pada suatu ketika Begawan Animandaya sedang bertapa membisu,seorang pencuri masuk ke pertapaannya.Pencuri itu menyembunyikan barang curiannya di salah satu sudut pertapaan,kemudian ia bersembunyi.Beberapa saat kemudian datanglah para punggawa kerajaan yang mengejar pencuri itu.Mereka menanyakan kepada sang Pertapa,dimanakah pencuri itu bersembunyi.Namun karena selama bertapa membisu,tidak boleh bicara,Begawan Animandaya tidak menjawab sepatah katapun.Ia tetap terus saja meneruskan tapanya.
Karena tidak mendapat jawaban,para prajurit lalu masuk dan menggeledah pertapaan.Tidak lama kemudian mereka menemukan barang curian itu.Karena adanya barang bukti itu Begawan Animandaya ditangkap dan dibawa ke hadapan raja.
Sang Raja menanyakan soal barang curian yang ditemukan di pertapaan itu kepada Begawan Animandaya,tapi pertapa itu tetap saja membisu.Akibatnya sang Raja marah dan menjatuhkan hukuman yang amat berat kepada Begawan Animandaya.Tubuh pertapa itu ditusuk dengan tombak di bagian anusnya,tembus hingga ke ubun-ubun.Namun karena kesaktian yang dimilikinya,Begawan Animandaya tidak mati.Ia tetap hidup dan sehat segar walaupun sebatang tombak membuat tubuhnya seperti sate.
Melihat kesaktian sang Pertapa yang luar biasa ini sang Raja menyesal dan minta maaf atas kecerobohannya menjatuhkan hukuman.Sang pertapa memaafkannya.
Bertahun-tahun kemudian Begawan Animandaya meninggal karena usia tua.Di kahyangan sukma sang Pertapa datang menemui Batara Darma dan menanyakan tentang pengalamannya ketika hidup di dunia.Mengapa ketika masih hidup dulu ia harus mengalami penyiksaan keji padahal selalu berbuat kebaikan dan tidak pernah berbuat keji.Namun Batara Darma mengingatkan,ketika masih kecil Animandaya pernah menyiksa seekor belalang dengan menusuk tubuh binatang itu hidup-hidup dengan sebatang lidi.Menurut dewa keadilan itu,apa yang pernah dialami oleh Begawan Animandaya semasa hidupnya sudah sesuai karmanya.
Jawaban Batara Darma itu tidak memuaskan Begawan Animandaya.Setahu pertapa itu,aturan agama apa pun menyebutkan bahwa perbuatan anak-anak tidak dianggap sebagai suatu dosa,apalagi bilamana si anak yang berbuat itu belum paham mengenai soal salah dan benar.Mendengar bantahan ini,Batara Darma terdiam.Ia tidak dapat menjawab.
Karena tidak puas,Animandaya lalu mengucapkan kutukannya,Batara Darma harus menjalani hidup di dunia sebagai manusia biasa,dan dilahirkan oleh wanita berdarah sudra.Sudra adalah golongan masyarakat kelas bawah,menurut susunan masyarakat Hindu.Kutukan itu ternyata terbukti.Batara Darma terpaksa turun ke dunia dan menitis pada Yama Widura,putra Abiyasa dari Dayang Drati,seorang pelayan istana berdarah sudra.
Anjani

Grafis Wayang Dewi Anjani gagrak Surakarta
Dewi Anjani walaupun resminya adalah puteri sulung Begawan Gotama dari pertapaan Gratina di Gunung Sukendra,ayah yang sebenarnya adalah Batara Surya.Ibunya seorang bidadari bernama Dewi Indradi atau Dewi Windradi.Adiknya dua,laki-laki semua.Namanya Subali alias Guwarsa dan Sugriwa alias Guwarsi.Keduanya sesungguhnya juga anak Batara Surya.Karena peristiwa Cupumanik Astagina,Dewi Anjani yang semula seorang gadis cantik berubah menjadi wanita berwajah kera.

Grafis Wayang Dewi Anjani gagrak Jogjakarta
Suatu hari Dewi Anjani memergoki ibunya sedang bermain-main dengan Cupumanik Astagina,yakni sebuah alat yang berkhasiat untuk melihat dan menikmati keindahan alam dunia.Dewi Anjani menyaksikan betapa ibunya asik dengan Cupumanik Astagina,yang dikiranya alat permainan itu.Waktu Anjani meminta mainan itu,ibunya terpaksa memberikannya karena takut putrinya itu akan mengadukan soal adanya Cupumanik Astagina pada Begawan Gotama,suaminya.Dewi Indradi wanti-wanti agar Anjani menyembunyikan dan senantiasa merahasiakan alat permainan itu.

Wayang Kulit Anjani gagrak Jawa Timuran
Namun ternyata Anjani tidak mematuhi pesan ibunya.Ia justru memamerkan Cupumanik Astagina pada kedua adiknya.Segera terjadi keributan diantara mereka.Ketiga bersaudara itu saling memperebutkan Cupumanik Astagina.Keributan itu mengganggu Begawan Gotama yang sedang samadi.Ia mendatangi dan melihat apa yang mereka perebutkan.
Betapa terkejutnya Begawan Gotama ketika tahu bahwa yang diperebutkan anak-anaknya adalah Cupumanik Astagina,yang diketahuinya sebagai milik Batara Surya.Dewi Indradi pun segera dipanggil dan ditanya mengenai asal-usul Cupumanik Astagina.Karena takut,Dewi Indradi bungkam tak berani menjawab.Begawan Gotama marah dan cupu itu dilemparkannya jauh-jauh.Kepada ketiga anaknya ia berkata,siapa yang dapat menemukan cupu itu,maka ia boleh memilikinya.Kepada Dewi Indradi yang bungkam saja dikatakan seperti tugu saja,dan berubahlah Dewi Indradi menjadi tugu.

Grafis wayang Dewi Anjani berujud kera gagrak Surakarta
Cupumanik Astagina yang dilemparkan Begawan Gotama jatuh di telaga Mandirda atau telaga Sumala.Guwarsa dan Guwarsi yang larinya lebih cepat dibandingkan Dewi Anjani sampai ke telaga itu lebih dulu.Kedua kakak beradik itu segera terjun dan menyelam ke dalam air telaga mencari Cupumanik Astagina. Dewi Anjani yang datang lebih lambat,sampai ke telaga itu dalam keadaan lelah.Ia segera membungkuk dan mencuci muka dengan air telaga itu.
Sementara itu dua orang pengasuh Guwarsa dan Guwarsi yaitu Menda dan Jembawan berlarian pula mengikuti anak asuhnya.Mereka pun ikut terjun ke telaga.Terjadilah keajaiban.Begitu muncul kembali ke permukaan telaga,Sugriwa dan Subali telah berubah wujud menjadi kera.Sedangkan Dewi Anjani,hanya wajahnya saja yang berubah wujud menjadi kera,tetapi tubuhnya tetap manusia biasa.Menda dan Jembawan juga berubah ujud menjadi kera,selanjutnya disebut Kapi Menda dan Kapi Jembawan.Kapi berarti kera.

Grafis wayang Dewi Anjani berujud kera gagrak Jogjakarta
Ketiga anak Begawan Gotama menyesal sekali atas kejadian yang mereka alami itu.Mereka lalu kembali ke pertapaan.Begawan Gotama menyarankan agar anak-anaknya mau menerima takdir.Selain itu ia juga mengganti nama mereka.Guwarsa diganti dengan nama Subali,sedangkan Guwarsi menjadi Sugriwa.Keduanya lalu disuruh pergi ke hutan untuk bertapa.

Dewi Anjani pun melakukan hal serupa,ia bertapa nyantaka,yaitu telanjang,membenamkan tubuhnya,hanya kepalanya saja yang menyembul di permukaan telaga Nirmala selama berbulan-bulan.Selama bertapa itu Dewi Anjani hanya memakan apa saja yang hanyut di permukaan telaga.
Pada suatu ketika Batara Guru sedang melayang di angkasa dengan Lembu Andini.Saat itulah ia melihat seorang wanita tanpa busana berendam di telaga Nirmala.Timbul birahinya menyaksikan keindahan tubuh wanita itu sehingga jatuhlah kama(benih)nya menimpa setangkai daun sinom.Daun yang telah ternoda benih itu hanyut ke arah Dewi Anjani yang segera meraih dan memakannya.Betapa sedihnya Anjani ketika ia menyadari bahwa tiba-tiba dirinya hamil padahal merasa belum pernah bersentuhan dengan pria.
Maka ia pun protes kepada para Dewa.Batara Guru kemudian datang menemuinya,dan memberikan penjelasan mengenai apa yang telah terjadi.Batara Guru juga menyatakan bersedia mengaku bahwa anak yang dikandung Dewi Anjani adalah anaknya.Setelah lahir anak Dewi Anjani itu diberi nama Anoman,berupa seekor kera berbulu putih mulus.Kelak anak ini akan menjadi ksatria perkasa yang berumur panjang walaupun berujud kera.
Anjasmara

Wayang Klithik Dewi Anjasmara
Dewi Anjasmara adalah anak bungsu Patih Logender dari Majapahit,yang nantinya menjadi istri pertama Damarwulan pada Wayang Klithik.Anjasmara mempunyai dua orang abang,yaitu Layang Seta dan Layang Kumitir.Berbeda dengan tabiat kedua abangnya,Anjasmara berperangai baik hati dan lemah lembut.
Ketika Damarwulan datang ke Majapahit dan mengabdi ke Kepatihan,Patih Logender mempekerjakan Damarwulan sebagai tukang kuda.Pada saat itulah Damarwulan mengenal Dewi Anjasmara,dan keduanya kemudian saling jatuh cinta.Hubungan ini terpaksa dilakukan secara diam-diam,karena tidak mendapat persetujuan oleh kedua abangnya dan ayah mereka,Patih Logender.
Kelak ketika Damarwulan berhasil membunuh Adipati Menakjingga dari Blambangan,yang memberontak terhadap kekuasaan Majapahit,Damarwulan kemudian dipersuami oleh Ratu Kencana Wungu,dan diangkat menjadi raja.Tidak lupa Damarwulan kemudian menjemput Dewi Anjasmara ke istana dan diperistri.
Anoman

Grafis Wayang Anoman Gagrak Surakarta
Anoman adalah kera berbulu putih,ibunya adalah Dewi Anjani,sedangkan ayahnya adalah Batara Guru.Pada saat Ramawijaya mengerahkan bala tentara kera menyerbu Kerajaan Alengka untuk membebaskan Dewi Sinta yang diculik Dasamuka,Anoman bertindak sebagai salah satu senapatinya.Batara Guru memerintahkan Batara Bayu untuk mengasuhnya.Itulah sebabnya Anoman juga diberi nama Bayusuta atau Bayutanaya,Maruti atau Marutasuta.

Grafis Wayang Anoman Gagrak Jogjakarta
Sebagai putera angkat atau anak asuh Batara Bayu,Anoman mengenakan kain Poleng Bang Bintulu Aji dan berkuku Pancanaka.Dalam pewayangan ada sembilan tokoh yang merupakan ’saudara tunggal Bayu‘.Mereka adalah Anoman,Bima,Wil Jajahwreka,Begawan Maenaka,Liman Situbanda,Dewa Ruci,Garuda Mahambira,dan Naga Kuwara.

Wayang Kulit Anoman gaya Surakarta
Anoman setelah dewasa,diperintahkan Batara Guru turun ke dunia untuk mengabdi pada Ramawijaya yang merupakan titisan Batara Wisnu.Anoman menjumpai Rama dan Laksmana ketika kedua ksatria itu sedang dalam perjalanan menuju kerajaan Alengka.

Wayang Kulit Anoman gagrak Jogjakarta
Saat itu Anoman sedang diperintah Sugriwa,raja Guwakiskenda mencari bantuan untuk mengalahkan Subali.Setelah Ramawijaya membunuh Resi Subali,Sugriwa bersedia membantu usaha Rama membebaskan Dewi Sinta dengan mengerahkan bala tentara keranya.

Wayang Kulit Anoman gaya Surakarta
Pada waktu Dewi Sinta disekap di taman Argasoka,Alengka,Ramawijaya mengutus Anoman untuk menemui istrinya secara diam-diam.Anoman berhasil menyelundup masuk dan bertemu muka serta menyampaikan pesan Ramawijaya kepada Dewi Sinta.

Wayang Kulit Anoman gagrak Cirebon
Sesudah menunaikan tugasnya,Anoman kemudian membuat huru-hara di Alengka.Dasamuka kemudian memerintahkan Indrajit,anaknya untuk menangkap Anoman.Dengan panah Nagapasa yang berubah menjadi ribuan ular yang melilitnya,Anoman berhasil diringkus.

Wayang Kulit Anoman triwikrama

Wayang Kulit Anoman triwikrama
Dalam keadaan terikat Anoman lalu dibakar hidup-hidup.Tetapi justru dengan bulunya yang terbakar itulah,Anoman berhasil meloloskan diri sambil membakar istana Alengka.

Wayang Golek Purwa Sunda Anoman
Pada waktu terjadi penyerbuan ke Alengka,Anoman bertindak sebagai salah satu senapatinya dan berhasil menindih tubuh Prabu Dasamuka dengan gunung karena Raja Alengka itu selalu dapat hidup kembali setelah terkena panah Ramawijaya.

Gambar Tokoh Hanuman versi India
Dengan Dewi Sayempraba,Anoman mempunyai anak berujud kera juga yang diberi nama Trigangga atau Triyangga.Sedangkan dengan Dewi Purwati mempunyai anak bernama Purwaganti.

Wayang Kulit Anjila Kencana dan Anoman gagrak Jawa Timuran
Anoman tua kemudian tinggal di pertapaan Kendalisada,dan menjadi pertapa bernama Begawan Mayangkara.Anoman memang ditakdirkan berumur panjang,karena mendapat tugas dari para Dewa untuk menjaga Prabu Dasamuka.Raja Alengka ini tidak dapat mati karena memiliki aji Pancasona yang diwarisinya dari Resi Subali.Karena setiap kali mati,dan tubuhnya menyentuh bumi,ia akan hidup kembali.
Antaboga

Wayang Kulit Grafis Sang Hyang Antaboga gagrak Surakarta
Sang Hyang Antaboga atau Nagasesa atau Anantaboga atau Sang Hyang Basuki adalah dewa penguasa dasar bumi.Bersemayam di Kahyangan Saptapratala atau lapisan ketujuh dasar bumi.Dari istrinya,Dewi Supreti ia mempunyai dua anak yaitu Dewi Nagagini dan Nagatatmala.

Wayang Golek Sunda Sang Hyang Antaboga
Dalam keadaan biasa,Sang Hyang Antaboga serupa dengan ujud manusia,tetapi dalam keadaan triwikrama,tubuhnya berubah menjadi ular naga besar.

Wayang Kulit Sang Hyang Antaboga triwikrama gaya Surakarta
Selain itu setiap seribu tahun sekali,Sang Hyang Antaboga berganti kulit.Dalam pewayangan,Sang Hyang Antaboga mempunyai aji Kawastrawam,yang membuatnya dapat menjelma menjadi apa saja,sesuai dengan kehendaknya.Antara lain ia pernah menjadi garangan putih(semacam musang) yang menyelamatkan Pandawa dan Kunti dari amukan api pada peristiwa Bale Sigala-gala.Putrinya,Dewi Nagagini menikah dengan Bima,dan mempunyai anak bernama Anantaraja,atau Antareja.

Wayang Kulit Grafis Sang Hyang Antaboga keadaan triwikrama
Sang Hyang Antaboga mempunyai kemampuan menghidupkan orang yang mati yang kematiannya belum digariskan,karena ia mempunyai Tirta Amerta.Air sakti ini pernah diberikan kepada cucunya,Antareja dan dimanfaatkan untuk menghidupkan Dewi Subadra yang mati karena dibunuh Burisrawa dalam lakon Subadra Larung.

Wayang Kulit Sang Hyang Antaboga gagrak Jogjakarta
Batara Guru juga pernah mengambil kulit yang tersisa ketika Sang Hyang Antaboga mlungsungi dan menciptanya menjadi makhluk ganas yang mengerikan yang diberi nama Candrabirawa.

Wayang Kulit Kyai Inten Sang Hyang Antaboga
Sang Hyang Antaboga ketika masih muda bernama Nagasesa.Walaupun ia cucu Sang Hyang Wenang,ujudnya tetap seekor naga,karena ayahnya yang bernama Antawisesa juga seekor naga.Ibu Nagasesa bernama Dewi Sayati,putri Sang Hyang Wenang.Nama Antaboga atau Anantaboga berarti naga yang kelokannya tidak mengenal batas,artinya besar sekali ukurannya.
Antagopa

Grafis Wayang Antagopa gagrak Surakarta
Demang Antagopa mendapat tugas dari Prabu Basudewa untuk mengasuh dan mendidik,sekaligus menyembunyikan ketiga puteranya,yaitu Kakrasana,Narayana,dan Rara Ireng atau Bratajaya yang terancam keselamatannya karena menjadi sasaran pembunuhan yang akan dilakukan oleh Kangsa.Dengan berbagai kesulitan akhirnya tugas itu berhasil diselesaikan dengan baik.
Ia bersedia menjadi suami Ken Sayuda,dayang istana yang terlibat skandal dengan Aryaprabu Rukma,Ugrasena,Basudewa bahkan dengan Prabu Basukunti sendiri.Skandal ini mengakibatkan Ken Sayuda melahirkan lima orang anak gelap,yakni Pragota,Prabawa,Udawa,Adimenggala,dan Rarasati atau Larasati.Setelah menjadi istri Demang Antagopa,nama Ken Sayuda kemudian mengganti namanya dengan Nyai Segopi.Antagopa kemudian diangkat menjadi demang di Widarakandang.
Antareja

Grafis Wayang Antareja gagrak Banyumas
Antareja kadang disebut Anantaraja,anak sulung Bima dengan Dewi Nagagini.Antareja memang tidak tinggal bersama ayahnya,melainkan tetap di kahyangan Saptapratala bersama kakeknya Sang Hyang Antaboga.

Wayang Kulit Antareja gagrak Kedu
Kesaktian Antareja memang luar biasa,semburan ludahnya yang mengandung bisa,akan mematikan siapa saja yang terkena.Bahkan tanah bekas telapak kaki orang yang dijilatinya pun akan menyebabkan si empunya tapak akan meninggal seketika.

Grafis Wayang Antareja triwikrama gagrak Jawa Timuran

Wayang Kulit Antareja triwikrama gagrak Jawa Timuran
Antareja bahkan dapat menghidupkan orang mati,jika garis ajalnya belum sampai.Kemampuan menghidupkan orang mati sebelum ajalnya ini disebabkan karena ia memiliki air suci Tirta Amerta,hadiah dari kakeknya.Dalam lakon Sembadra Larung,ia menghidupkan kembali Dewi Wara Sembadra yang mati dibunuh Burisrawa.

Wayang Kulit Antareja gagrak Surakarta
Ketika masih bayi,Antareja pernah diadu melawan raja Jangkarbumi atau Puserbumi,Prabu Nagabaginda.Sebelum bertarung,Antareja lebih dahulu dikulum oleh kakeknya sehingga tubuhnya basah oleh air liur Sang Hyang Antaboga.Dengan begitu tubuhnya menjadi licin dan kebal.Dalam pertarungan ini,Antareja menang,dan Kerajaan Jangkarbumi menjadi miliknya.

Wayang Kulit Antareja gagrak Cirebon

Wayang Kulit Antareja gagrak Jogjakarta

Wayang Kulit Antareja wanda Hindu

Wayang Kulit Antareja wanda Naga

Wayang Kulit Antareja wanda Wisnua
Karena kesaktiannya,para dewa menjadi bingung,dalam perang besar Baratayuda,Antareja tentu akan mengacaukan suratan rencana para dewa yang tertulis dalam kitab Jitapsara.Antareja tentunya akan mampu membunuh siapa saja yang menjadi musuhnya.Dalam kitab itu,Antareja nantinya akan berhadapan dengan Prabu Baladewa.Oleh karena itu Prabu Kresna berusaha mencari jalan keluar.

Wayang Golek Purwa Sunda Antareja
Untuk menyelamatkan Baladewa,dengan tipu muslihatnya,sebelum perang Baratayuda,Antareja harus dimatikan.Dengan cara Kresna menanyakan apakah Antareja sanggup berkorban jiwa demi keluarga Pandawa.Antareja berkata sanggup,lalu Kresna menyuruh menjilat telapak kakinya sendiri,dan akhirnya Antareja gugur.

Grafis Wayang Antareja gagrak Jogjakarta
Istri Antareja bernama Dewi Ganggi,putri Prabu Ganggapranawa,raja ular dari negeri Tawingnarmada,dan mendapat anak bernama Arya Danurwenda,yang kemudian nantinya menjadi salah satu senapati Prabu Parikesit,raja Astina.

Wayang Kulit Kyai Inten Antareja
Tokoh Antareja tidak terdapat dalam kitab Mahabarata.Nama Anantareja berarti kesaktian yang tidak terbatas.
Antasena

Grafis Wayang Antasena gagrak Banyumas
Antasena,kadang-kadang disebut Anantasena,oleh sebagian orang dianggap sebagai nama lain dari Antareja.Jadi Antasena dianggap identik dengan Antareja.Versi ini menganut Kitab Pustakaraja,salah satu buku acuan pedalangan.Tetapi sebagian yang lain mengatakan Antasena adalah adik Antareja dari lain ibu,ibunya adalah Dewi Urangayu,puteri Begawan Mintuna.Ini menurut versi kitab pedalangan yang lain yaitu Kitab Purwakanda.

Foto Wayang Kulit Antasena gagrak Jogjakarta
Para dalang di daerah Surakarta ke timur pada umumnya menganggap Antasena adalah nama lain dari Antareja.Sedangkan para dalang Yogyakarta ke barat dan Wayang Golek Purwa Sunda umunya menganggap Antasena adalah anak Bima dari Dewi Urangayu.Tapi sejak tahun 1950 sampai sekarang tokoh Antasena dianggap sebagai tokoh tersendiri oleh para dalang Surakarta ke timur yang tadinya menganut Kitab Pustakaraja.

Grafis Wayang Antasena gagrak Surakarta
Kelahiran Antasena bermula dari niat Resi Bisma untuk memberi kegiatan yang bermanfaat bagi para Kurawa dan Pandawa yang waktu itu masih remaja.Bisma membuat semacam perlombaan,yaitu menggali sungai dari daerah Kurujenggala di utara Astina sampai tembus ke sungai Gangga.
Dalam penggalian sungai baru itu,Pandawa diam-diam mendapat bantuan dari para anak buah Begawan Mintuna,yakni puluhan ribu ketam dan belut.Dengan demikian pembuatan sungai oleh para Pandawa itu dapat dikerjakan dengan lancar dan selesai sebelum waktunya.Sungai buatan para Pandawa ini disebut sungai Serayu.

Wayang Kulit Antasena
Setelah peristiwa itu,Begawan Mintuna kemudian memungut Bima sebagai menantunya dan dikawinkan dengan Dewi Urangayu.Perkawinan ini membuahkan seorang anak yang diberi nama Antasena.Dengan demikian,sesungguhnya Antasena adalah anak sulung Bima karena ia lahir sebelum peristiwa Bale Sigala-gala.

Wayang Golek Purwa Sunda Jakatawang alias Antasena
Ketika masih bayi,Antasena pernah dimintai bantuan para dewa untuk melawan Prabu Kalarudra,raja Kerajaan Girikedasar.Antasena ternyata menang,dan sebagai hadiahnya Kerajaan Girikedasar dianugerahkan kepada Antasena.Nama Antasena mengandung arti keperwiraan yang tiada batas.Kematian Antasena dengan cara mati muksa sebagai tumbal kemenangan para Pandawa sebelum perang Baratayuda.
Antawirya

Grafis Wayang Antawirya gagrak Surakarta
Antawirya atau Anantawirya alias Nagapustaka adalah putera Bambang Nagatatmala,cucu Sang Hyang Antaboga.Ibunya bernama Dewi Mumpuni,seorang bidadari.Setelah dewasa ia tumbuh menjadi seorang ksatria muda yang amat cerdas,rajin,luas pengetahuannya,dan tinggi ilmunya.Ia memahami hampir semua buku pengetahuan yang ada di dunia sehingga menjadi tempat bertanya dan dijuluki Nagapustaka.
Suatu ketika ia melihat seekor burung kecil yang indah sekali warna bulunya.Burung cantik itu ternyata bisa bercakap bagai manusia.Sang Burung mengaku bernama Dewi Rukmawati.Karena jatuh cinta,Antawirya meminta agar burung indah itu bersedia menjadi istrinya.Sang Burung bersedia menjadi istrinya,asal saja Antawirya dapat mengubah dirinya menjadi seorang puteri cantik.Tetapi Antawirya keberatan,karena yang dicintainya adalah seekor burung,dan bukan puteri yang cantik.
Maka dengan terpaksa Sang Burung menuruti kemauan Antawirya untuk memadu kasih.Terjadilah keajaiban sewaktu kedua makhluk berbeda jenis dan berbeda ujud itu melampiaskan hasratnya,keduanya berubah ujud menjadi cahaya terang yang menggumpal dan bergulung-gulung,akhirnya menyatu menjadi sebuah pustaka kecil yang disebut Pustaka(buku) Jamus.Kelak Pustaka Jamus menjadi pusaka Kerajaan Amarta yang disebut dengan Jamus Kalimasada.
Antrakawulan

Grafis Wayang Dewi Antrakawulan gagrak Surakarta
Antrakawulan atau Dewi Lara Wangen,dalam cerita lakon sempalan,adalah istri Barata,adik Ramawijaya.Namun perkawinan ini kurang harmonis karena Dewi Antrakawulan menganggap suaminya kurang cerdas.Penilaian ini disebabkan Barata tidak sanggup menebak teka-teki yang diajukannya.Waktu itu karena tidak bisa menebak,maka Barata kemudian menyuruh adiknya,Satrugena menjemput Laksmana guna membantu menjawab teka-teki itu.
Akhirnya Laksmana sanggup menebak teka-teki yang diajukan oleh Dewi Antrakawulan,yang kemudian membuat Sang Dewi jatuh cinta kepada Laksmana.Hal ini justru menyulitkan posisi Laksmana,karena dia sesungguhnya telah menjadi wadat(memotong alat kelaminnya sendiri),disamping Dewi Antrakawulan juga sudah bersuami.Namun Sang Dewi tidak peduli,dia tetap mengejar-ngejar Laksmana.Untunglah Laksmana dapat ditolong oleh Anoman dengan dibawa terbang ke hadapan Rama.Perkawinan Barata dengan Dewi Antrakawulan tidak membuahkan keturunan.
Arimba

Grafis Wayang Prabu Arimba gagrak Surakarta
Arimba atau Hidimba adalah raja raksasa di kerajaan Pringgandani.Ayahnya bernama Prabu Trembaka tewas dalam perang tanding melawan Prabu Pandu Dewanata,raja Astina.Ketika mendengar kabar Para Pandawa sedang membabat hutan Wanamarta,Prabu Arimba pergi mencegat kesana.Arimba bertemu Bima,dan tahu kalau Bima adalah anak Pandu Dewanata,kemudian dia hendak menuntut balas atas kematian ayahnya.Niat ini dicegah oleh adiknya,Arimbi yang telah jatuh cinta kepada Bima.Namun niat Arimba untuk membalas dendam tidak dapat dihalangi.Akhirnya Arimba tewas di tangan Bima.
Sebelum meninggal,Prabu Arimba menyatakan keikhlasannya dan restunya pada maksud Dewi Arimbi untuk menjadi istri Bima,dan dia menaruh hormat kepada Bima yang telah mengalahkannya secara ksatria.Kemudian tahta kerajaan Pringgandani diserahkan kepada Arimbi.Selain Arimbi,Prabu Arimba juga mempunyai beberapa adik laki-laki,seperti: Brajadenta,Brajamusti,Prabakesa,Brajawikalpa,Brajalamatan,dan Kala Bendana.
Arimbi

Grafis Wayang Dewi Arimbi raseksi gagrak Surakarta
Dewi Arimbi atau Hidimbi atau Hidimbah adalah istri kedua Bima.Perkawinan mereka membuahkan anak yang kemudian menjadi ksatria terkenal bernama Gatotkaca.

Wayang Kulit Dewi Arimbi raseksi gagrak Jogjakarta
Arimbi sebenarnya seorang raksasa perempuan,anak kedua Prabu Trembaka,kakak sulungnya adalah Arimba,raja Pringgandani yang tewas di tangan Bima.

Grafis Wayang Arimbi yang berubah menjadi putri cantik gagrak Surakarta
Pada mulanya cinta Dewi Arimbi pada Bima tidak mendapat sambutan.Tetapi Dewi Kunti,ibu Bima,menyadari betapa besar cinta Dewi Arimbi kepada Bima hingga kemudian merubah ujud Dewi Arimbi yang tadinya raksasa menjadi putri cantik dengan tubuh tinggi besar.

Wayang Kulit Dewi Arimbi setelah dirias gagrak Jogjakarta
Dengan restu Dewi Kunti,Arimbi kemudian menjadi istri Bima,dan menjadi ratu di Kerajaan Pringgandani.Setelah Gatotkaca,anaknya,menjadi dewasa tahta Pringgandani diserahkan kepadanya.

Wayang Golek Purwa Sunda Dewi Arimbi
Ketika Gatotkaca gugur di medan laga Baratayuda,Arimbi meminta ijin Bima untuk melakukan belapati pada saat pembakaran jenazah Gatotkaca.Dalam kitab Mahabarata,Arimbi tidak pernah berubah ujud,selamanya berujud raksasa.

Grafis Wayang Arimbi raseksi gagrak Jogjakarta
Karena pada dasarnya Arimbi adalah seorang raseksi,pada seni kriya Wayang Kulit Purwa zaman dulu,Gatotkaca dilukiskan sebagai raksasa pula.Perubahan bentuk seni kriya wayang Gatotkaca menjadi ksatria gagah baru dilakukan pada akhir abad ke-19.

Wayang Kulit Arimbi raseksi gagrak Jawa Timuran
Pada perangkat Wayang Kulit Purwa yang lengkap,biasanya terdapat dua peraga wayang Arimbi,yakni ketika masih berupa raksasa dan setelah menjadi putri cantik.
Arimuka

Grafis Wayang Arimuka gagrak Surakarta
Arimuka dan Wahmuka adalah putera Prabu Darmamuka dari Kerajaan Giyantipura.Ia mempunyai saudara empat orang,yaitu Wahmuka,Amba,Ambika dan Ambalika.Arimuka dan Wahmuka lahir dengan ujud raksasa,sedangkan saudaranya yang perempuan lahir sebagai puteri cantik.
Wahmuka dan Arimuka mempunyai kesaktian yang hebat.Bilamana salah satu dari mereka mati,dan yang lain melompati mayat saudaranya,maka yang mati akan hidup kembali.Waktu saudara-saudara perempuannya menginjak dewasaa,atas izin Prabu Darmamuka,Arimuka dan Wahmuka sepakat mengadakan sayembara untuk mencari calon suami Amba,Ambika dan Ambalika.Hanya pelamar yang sanggup mengalahkan Arimuka dan Wahmuka,akan dinikahkan dengan ketiga puteri raja itu.
Banyak para raja dan ksatria yang mengikuti sayembara itu,tetapi semuanya dapat dikalahkan oleh Arimuka dan Wahmuka.Hanya Dewabrata,seorang ksatria muda dari Kerajaan Astina yang berhasil membunuh keduanya dengan bantuan Semar.Untuk dapat membunuhnya,kedua telapak tangan Dewabrata harus dilumuri dengan kunyit dan air kapur sirih.Jika Dewabrata dapat memukul keduanya sekaligus,maka Arimuka dan Wahmuka pasti akan mati.Ternyata saran itu terbukti benar.
Arjuna

Grafis Wayang Arjuna gagrak Cirebon
Arjuna adalah orang ketiga dari Pandawa Lima,putera Dewi Kunti.Dalam pewayangan dia sering dijuluki Panengah Pandawa.Kata Arjuna dalam bahasa Sanskerta artinya putih atau bening,bersih.Dalam pewayangan tokoh Arjuna sangat populer selain karena kesaktiannya juga ketampanannya,juga banyak lakon wayang melibatkan namanya.

Grafis Wayang Arjuna gagrak Surakarta
Arjuna mempunyai dua orang kakak,yang sulung bernama Yudistira alias Puntadewa yang kelak menjadi raja Amarta dengan gelar Prabu Darmakusuma.Sesudah itu abangnya yang kedua bernama Bima alias Harya Sena,Bratasena atau Wrekudara.Adik kembarnya bernama Pinten dan Tangsen yang juga dikenal dengan Nakula dan Sadewa.

Gambar Arjuna versi India
Walaupun ia resminya adalah putera raja Astina,namun sesungguhnya Arjuna adalah putera Batara Endra.Hal ini disebabkan karena Prabu Pandu Dewanata sendiri tidak dapat membuahkan keturunan,karena kekeliruan yang dibuatnya,ia terkena kutukan Begawan Kimindama alias Kindima.Kutukan itu menyebutkan,Prabu Pandu akan mati seketika bilamana ia memadu kasih bersama istrinya.Sejak itu Prabu Pandu tidak lagi berani tidur dengan istrinya.

Wayang Kulit Parwa Bali Arjuna bertapa
Karena harus ada keturunan untuk melanjutkan dinasti yang memerintah Astina,Pandu mengizinkan istrinya memanggil dewa yang dikehendakinya guna membuahi Kunti.Kebetulan Kunti memiliki Aji Adityahredaya yang dipelajarinya dari Resi Druwasa.Ilmu ini menyebabkan ia kuasa memanggil dewa yang mana saja.Dan sebagai ayah bagi Arjuna,Dewi Kunti memanggil Batara Endra.Itulah sebabnya Arjuna juga disebut Endratanaya atau Endrapura.

Wayang Kulit Permadi(Arjuna muda)
Selain tampan,Arjuna sejak kecil gemar menuntut ilmu.Untuk menambah ilmunya,jika perlu Arjuna berkelana ke negeri lain.Ia merupakan murid yang paling disayangi Begawan Drona.Bahkan Begawan Dorna pernah berjanji,tidak akan mengajarkan ilmunya kepada murid lain,selengkap yang diajarkan kepada Arjuna.Arjuna juga dikenal sebagai ksatria yang tekun bertapa.

Wayang Kulit Parwa Arjuna dari Bali
Namun sebagai manusia Arjuna pun memiliki beberapa kekurangan.Ketampanan wajah dan ilmu tinggi yang dimilikinya,beberapa kali disalah gunakan.Kesalahan yang menyolok adalah ketika ia memburu-buru Dewi Anggraini,walaupun ia tahu bahwa wanita itu telah bersuami.Wanita itu akhirnya memilih kematian daripada harus melayani hasrat Arjuna.Bahkan Arjuna akhirnya dapat membunuh suaminya,Ekalaya,yang setelah tahu perlakuan Arjuna terhadap istrinya,ia lalu menantangnya.(dalam lakon Palguna-Palgunadi atau Bambang Ekalaya).

Wayang Kulit Arjuna wanda Kinanti gagrak Jogjakarta
Sesudah Baratayuda selesai,sifat Arjuna yang buruk masih juga diulanginya.Ia menginginkan Dewi Citrahoyi,padahal wanita itu telah menjadi istri Prabu Arjunapati,raja Sriwedari.Secara sembunyi-sembunyi Arjuna memang telah berhasil memenuhi hasratnya bercumbu dengan Dewi Citrahoyi.Tetapi skandal itu harus ditebus dengan kematiannya.Namun karena kematian Arjuna itu dianggap belum waktunya,oleh Prabu Kresna dapat dihidupkan kembali dengan bantuan Cangkok Wijayakusuma.Kresna kemudian mengutus patihnya Udawa memimpin bala tentara Dwarawati menyerbu kerajaan Siwedari.Pada peperangan itu Patih Udawa dan Arjunapati mati sampyuh,mati bersama-sama.Dengan demikian tidak ada halangan lagi bagi Arjuna untuk memperistri Dewi Citrahoyi.

Wayang Kulit Arjuna gagrak Surakarta
Dalam pewayangan,tokoh Arjuna menggambarkan karakter manusia yang berilmu tinggi tetapi kadang-kadang ragu dan bimbang dalam bertindak.Sifat manusiawi Arjuna makin tampak jelas sewaktu akan turun ke gelanggang pertempuran menghadapi Adipati Karna dalam Baratayuda.Ia tahu Adipati Karna sesungguhnya juga putera Dewi Kunti,bahkan putera sulung.Ketika itulah ia merasa bahwa perang tidak ada manfaatnya dan tidak membawa kebaikan baik bagi dirinya maupun bagi dunia.Arjuna berpendapat bahwa baik kalah atau menang yang menjadi korban tetap saudara-saudaranya sendiri dan rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa.

Wayang Kulit Permadi(Arjuna muda)
Keraguan Arjuna yang manusiawi itu akhirnya lenyap setelah Arjuna menerima wejangan Prabu Kresna.Sebagai titisan Batara Wisnu,Kresna berhasil memberikan motivasi kuat pada Arjuna,bahwa dalam perang tidak ada kakak dan adik,tidak ada guru dan murid,yang ada adalah lawan dan kawan.Selain itu setiap manusia pada dasarnya hidup di dunia dengan tugas dan kewajiban masing-masing.Manusia harus melaksanakan tugas dan darmanya dengan sebaik-baiknya,tanpa menghitung untung rugi.Wejangan yang panjang lebar itu kemudian dikenal sebagai Bagawat Gita.

Wayang Kulit Permadi (Arjuna muda) Rampek
Di waktu masih remaja,Arjuna pernah ditegur Kunti karena meminta makanan pada orang lain bagi kedua adiknya,Nakula dan Sadewa atas dasar belas kasihan.Peristiwa ini terjadi ketika keluarga Pandawa dan Kunti berkelana di hutan setelah lolos dari usaha pembunuhan oleh pihak Kurawa di Bale Sigala-gala.Nasi yang dibawa Arjuna itu sebenarnya pemberian Ki Lurah Sagotra,yang menganggap Arjuna berjasa baginya karena telah membuat istrinya yang semula tak acuh menjadi sayang kepadanya.

Wayang Kulit Arjuna gagrak Surakarta
Sebagai manusia Arjuna juga mempunyai sifat sombong.Waktu masih remaja,dengan angkuh ia menolak mengadu kepandaian dengan Karna,hanya karena waktu itu Arjuna merasa martabatnya lebih tinggi.Arjuna merasa dirinya keturunan bangsawan,karena ia anak Prabu Pandu Dewanata,sedangkan Karna waktu itu hanya dikenal sebagai anak kusir.Baru di kemudian hari,menjelang Baratayuda,setelah Arjuna tahu bahwa sebenarnya Karna adalah kakak tertua satu ibu lain ayah,ia dapat tulus menghargai Karna.

Wayang Kulit Arjuna bertopong gagrak Jogjakarta
Dalam salah satu lakon wayang,Arjuna juga pernah ditegur Semar,karena dinilai terlalu mementingkan diri sendiri dan saudara-saudaranya saja,tetapi kurang memperhatikan kepentingan dan masa depan anak-anak mereka.Teguran ini disampaikan Semar setelah Arjuna berhasil membunuh Prabu Niwatakawaca,raja raksasa dari Manimantaka yang menjadi musuh para dewa.Ketika itu sebagai imbalan Arjuna diperbolehkan mengajukan permintaan apa saja.Tanpa berpikir panjang Arjuna minta agar dalam Baratayuda kelak kelima Pandawa selamat dan menang perang dalam Baratayuda.Permohonan seperti itu dinilai salah besar oleh Semar,karena dalam permohonan itu Arjuna sama sekali tidak memikirkan kepentingan anak-anaknya dan generasi penerus.Kelak dalam Baratayuda terbukti tidak seorang pun anak Pandawa yang hidup.Mereka mati semua,tidak seorang pun yang selamat.Untunglah cucu Arjuna yaitu Parikesit yang lahir menjelang Baratayuda usai dapat selamat.

Wayang Kulit Arjuna wanda Janggleng gagrak Jogjakarta
Pada waktu para Pandawa harus bersembunyi dan menyamar selama satu tahun,setelah menyelesaikan masa pembuangan selama 12 tahun,mereka berada di wilayah Wirata.Di negeri ini Arjuna menyamar sebagai banci bernama Kendi Wrahatnala.Ia bekerja sebagai guru tari dan guru kesenian.Penyamaran mereka waktu itu nyaris terbongkar waktu bala tentara Kurawa bersama sekutunya dari Kerajaan Trigata datang menyerbu Wirata.Sebagai ksatria,para Pandawa tidak dapat berdiam diri melihat serangan itu.Mereka turun gelanggang membantu pihak Wirata.Gerak-gerik para Pandawa berperang sebenarnya dikenali Kurawa,tetapi tidak dapat membuktikan bahwa mereka Pandawa.

Wayang Kulit Arjuna wanda Kinanthi gagrak Jogjakarta
Istri Arjuna banyak,ada 41 orang jumlahnya.Nama para istri Arjuna yang cukup terkenal antara lain adalah : Subadra,Srikandi,Larasati,Ulup,Manohara,Citrahoyi,Wilutama,Supraba dan Dresanala.Walaupun sudah demikian banyak istrinya,karena ketampanan dan sikapnya yang lembut,Arjuna tetap saja dicintai para wanita.Antara lain oleh iparnya sendiri,yaitu Dewi Banowati,istri Duryudana.Bahkan ketika Banowati menikah dengan Duryudana,Banowati meminta Arjunalah yang memandikan dan meriasnya.Banowati terlaksana menjadi istri Arjuna setelah menjanda seusai Baratayuda.

Wayang Kulit Arjuna wanda Yudasmara gagrak Jogjakarta
Dalam kehidupan perkawinan Arjuna,yang dianggap istri utama adalah Dewi Wara Subadra,adik Prabu Kresna.Tetapi perkawinan mereka tidak berjalan mulus karena sebenarnya ditentang oleh Prabu Baladewa,raja Mandura.Baladewa menginginkan agar Dewi Subadra dinikahkan dengan Burisrawa,putera Prabu Salya.Kisah perkawinan ini dalam pewayangan diceritakan dalam satu lakon Parta Krama.Meskipun Subadra bukan istri pertama Arjuna,namun dalam pewayangan adik Kresna ini dianggap sebagai permaisurinya.

Grafis Wayang Raden Permadi(Arjuna muda) gagrak Jogjakarta
Karena istrinya banyak,anak Arjuna juga banyak.Kebanyakan laki-laki.Anak Arjuna yang terkenal antara lain:Abimanyu adalah anak dari istrinya yang bernama Subadra,Bambang Irawan dari istrinya bernama Dewi Palupi,Bambang Sumitra dan Brantalaras dari istrinya Dewi Larasati,Wilugangga dari istrinya Batari Wilutama,Wisanggeni anak dari istrinya Batari Dresanala,dan Wijanarka dari istrinya Dewi Ratri,Kumaladewa dan Kumalasekti dari istrinya Dewi Jimambang,Prabakusuma dari istrinya Batari Supraba.Sedangkan anak perempuannya antara lain adalah Pregiwa dan Pregiwati dari istrinya yang bernama Dewi Manuhara.Semua anak laki-lakinya gugur dalam Baratayuda,tidak seorang pun yang hidup.

Wayang Kulit Arjuna gagrak Jogjakarta
Tentang banyaknya istri Arjuna,budayawan Soenarto Timoer berpendapat,bahwa itu hanya merupakan simbolisme.Sebagian besar istri Arjuna adalah putri pendeta/pertapa yang merupakan guru Arjuna.Memperistri putri para resi yang menjadi gurunya,merupakan simbol dari keberhasilan Arjuna menyadap ilmu sang guru.

Wayang Kulit Prabu Kariti gagrak Jogjakarta
Pada waktu Arjuna berhasil mengalahkan Prabu Niwatakawaca,Arjuna mendapat berbagai macam anugerah.Selain berbagai senjata pusaka,Arjuna diperkenankan tinggal di kahyangan dan berkedudukan sebagai raja,dengan gelar Prabu Kariti.Di tempat itu banyak bidadari yang terpikat pada ketampanan Arjuna.

Wayang Golek Puwa Sunda Arjuna
Arti nama-nama Arjuna dalam pewayangan antara lain,Panduputra karena ia anak Pandu,Kuntadi karena ia memiliki senjata panah sakti,Palguna karena ia pandai mengukur kekuatan lawan,Dananjaya karena ia tidak mementingkan harta benda,Prabu Kariti karena ia pernah diwisuda menjadi raja Tenjamaya yaitu kahyangan para bidadari,Margana karena ia dapat terbang walaupun tanpa sayap,Parta karena ia seorang yang berbudi luhur dan sentosa,Parantapa karena ia amat tekun bertapa,Kuruprawira atau Kurusatama karena ia adalah pahlawan Baratayuda yang dilangsungkan di medan Kurusetra,Mahabahu karena walaupun tubuhnya tidak besar tetapi memiliki kekuatan yang dahsyat,Danasmara karena ia tak pernah menolak cinta wanita manapun.Permadi atau Pamade untuk menyebut Arjuna ketika masih muda remaja sebelum kawin dengan Dewi Subadra.Sedangkan nama Janaka atau Arjuna biasa digunakan untuk menyebut Arjuna setelah dewasa.Bima,abangnya menggunakan nama panggilan jlamprong,yang artinya bulu merak kepada Arjuna.Dalam Wayang Golek Purwa Sunda,Arjuna juga mempunyai banyak nama alias,diantaranya Bangbang Manonbawa,Banjarasa,Lalumita,Banjarsekti,dan Enasabda.

Wayang Kulit Arjuna gagrak Pakualaman
Arjuna pada mulanya tinggal di kasatriyan Madukara.Namun setelah Baratayuda usai ia tinggal di Banakeling,kerajaan kecil yang sebelumnya diperintah oleh Jayadrata.Kasatriyan Madukara semula adalah sebuah kerajaan yang diperintah oleh raja gandarwa atau raja jin bernama Kumbang Ali-ali atau Kumbawali.Setelah raja gandarwa ini dikalahkan,ia menyusup ke tubuh Arjuna dan namanya digunakan sebagai nama alias.

Foto Wayang Kulit Arjuna gagrak Surakarta koleksi Ki Purbo Asmara
Arjuna juga banyak memiliki senjata pusaka.Sebagian besar senjata itu pemberian para dewa.Diantaranya adalah Pulanggeni,Pasopati,Ardadedali,Agnirastra,Kalanadah,Sarotama,Arya Sengkali,Cundamanik,dan Kalamisani.Keris Kalanadah yang konon berasal dari taringnya Batara Kala,kemudian dihadiahkan kepada Gatotkaca sebagai kancing gelung,ketika menikahi putri Arjuna yang bernama Dewi Pregiwa.

Grafis Wayang Premadi gagrak Surakarta
Dalam Seni Kriya Pewayangan,rambut Arjuna bergelung Minangkara,mengenakan kain kampuh Limar Sawo atau Limar Sumbul,kalungnya bernama Candra Katon,ikat pinggangnya Limar Ketanggi.Ada beberapa macam wanda untuk Arjuna seperti wanda Kinanti,Jimat,Mangu,Renteng,Melati dan Janggleng.Sementara Arjuna muda yang dalam pewayangan disebut Premadi,wandanya adalah Pengasih,Jimat,Pengawe,Pacel,Kinanti dan Manten.Sedangkan Arjuna yang memakai sampir biasa digunakan untuk Arjuna yang bertapa atau para leluhur Pandawa.Arjuna yang memakai mahkota diperuntukan pada waktu perang tanding melawan Adipati Karna dalam Baratayuda.
Arjunapati

Grafis Wayang Arjunapati gagrak Surakarta
Prabu Arjunapati adalah raja Sriwedari yang sakti,beristri cantik bernama Dewi Citrahoyi.Wajah,bentuk tubuh dan tingkah laku Dewi Citrahoyi mirip dengan Dewi Banowati.Itulah sebabnya Arjuna menjadi jatuh cinta pada permaisuri Prabu Arjunapati itu.Apalagi setelah Dewi Banowati terbunuh oleh Aswatama usai Baratayuda,rindu Arjuna makin menjadi-jadi.Prabu Kresna yang mengetahui keinginan Arjuna,maka untuk menyenangkan hati Arjuna,Prabu Kresna meminta secara baik-baik agar Prabu Arjunapati bersedia menyerahkan istrinya,Dewi Citrahoyi kepada Arjuna.Permintaan ini ditolak dengan sopan,karena Prabu Arjunapati segan dan sangat mengagumi Prabu Kresna.
Karena usaha meminta Dewi Citrahoyi secara baik-baik ditolak,maka Arjuna lalu menemui Dewi Citrahoyi secara sembunyi-sembunyi untuk mengungkapkan cintanya.Dan kebetulan Dewi Citrahoyi menyambut cintanya.Hubungan gelap ini diketahui Prabu Arjunapati,yang kemudian marah besar dan terjadilah perang tanding antara Arjuna dan Prabu Arjunapati,yang dimenangkan oleh Prabu Arjunapati.
Kematian Arjuna membuat Prabu Kresna marah,dan mengirimkan bala tentaranya menyerang kerajaan Sriwedari yang dipimpin Patih Udawa.Terjadilah peperangan,Prabu Arjunapati akhirnya mati sampyuh bersama Patih Udawa.Prabu Kresna kemudian menghidupkan Arjuna yang belum saatnya mati dengan cangkok Wijayakusuma.Maka tercapailah keinginan Arjuna untuk memperistri Dewi Citrahoyi dan tinggal di Kerajaan Banakeling.Peristiwa ini terjadi setelah perang Baratayuda.
Arjuna Sasrabahu

Grafis Wayang Arjuna Sasrabahu gagrak Surakarta
Prabu Arjuna Sasrabahu adalah raja di kerajaan Maespati yang di masa mudanya bernama Arjunawijaya,dalam pewayangan adalah termasuk titisan Batara Wisnu.Ia adalah putera Prabu Kartawirya alias Sasrawirya.Istrinya yang pertama bernama Dewi Citralangeni dari Kerajaan Tunjungpura.Yang kedua bernama Dewi Srinadi,puteri Begawan Jumanten dari pertapaan Giriretna.Selain itu Prabu Arjuna Sasrabahu masih mempunyai ratusan istri selir lainnya,sampai disebut dengan istilah sekethi kurang siji,artinya seribu kurang satu.Sebagai permaisurinya adalah Dewi Citrawati dari negeri Magada.Dewi Citrawati merupakan titisan Dewi Sri.

Wayang Kulit Arjuna Sasrabahu gagrak Jogjakarta
Nama lain Arjuna Sasrabahu adalah Wingsatibahu,yang artinya berbahu seribu.Nama ini sebagai julukan atas kekaguman orang akan kekuatan dan kesaktian Arjuna Sasrabahu.Patih Suwanda alias Bambang Sumantri yang semula meragukan kesaktiannya pernah mencoba menantangnya.Tantangan ini membuat Prabu Arjuna Sasrabahu murka dan melakukan triwikrama,mengubah wujud dirinya menjadi raksasa amat besar dan bengis.Menyadari bahwa rajanya bukan tandingannya,Patih Suwanda langsung bertekuk lutut dan mohon ampun.Patih Suwanda diampuni,namun dia akhirnya dipecat sebagai patih menjadi prajurit biasa.

Wayang Kulit Arjuna Sasrabahu gagrak Surakarta
Dewi Citrawati adalah termasuk wanita yang banyak permintaan.Suatu saat Prabu Arjuna Sasrabahu dibuat bingung dengan permintaan istrinya ini.Dewi Citrawati meminta agar suaminya memindahkan Taman Sriwedari dari kahyangan Untarasegara ke Maespati dalam keadaan utuh.Untuk memenuhi permintaan istrinya,Arjuna Sasrabahu menawarkan tugas pemindahan taman itu pada Bambang Sumantri.Jika berhasil,Bambang Sumantri akan diangkat kembali menjadi patihnya.Untunglah Bambang Sumantri dibantu oleh adiknya yang sakti,Sukasrana.Taman Sriwedari berhasil dipindahkan ke Maespati dalam keadaan utuh dan lengkap.Dengan demikian jabatan Patih Maespati kembali diserahkan pada Bambang Sumantri.

Wayang Golek Sunda Arjuna Sasrabahu
Pada waktu Prabu Dasamuka menyerbu Maespati,Patih Suwanda yang datang menghadang.Terjadilah perang tanding keduanya,dan akhirnya Patih Suwanda gugur.Mendengar tewasnya Patih Suwanda,Prabu Arjuna Sasrabahu segera tampil menghadapi Dasamuka.Namun Dasamuka yang memiliki aji Pancasona ternyata tidak dapat mati.Begitu tewas,dan badannya menghempas ke bumi,langsung ia bangkit dan hidup kembali.Demikian berkali-kali terjadi.Walaupun tidak berhasil membunuh Dasamuka,Prabu Arjuna Sasrabahu yang triwikrama akhirnya dapat meringkus Dasamuka.Dengan anak panah pusaka Kalamanggaseta,raja Alengka itu dirantai,dibawa ke Maespati.Sepanjang perjalanan ke Maespati,Dasamuka diseret kereta kerajaan dan dijadikan tontonan rakyat.Setelah Patih Suwanda tewas,Prabu Arjuna Sasrabahu mengangkat Bambang Kartanadi sebagai patihnya,dan mengganti namanya menjadi Patih Surata.Akhirnya Prabu Arjuna Sasrabahu mati terbunuh oleh Rama Parasu,anak bungsu Begawan Jamadagni karena perbuatan Prabu Arjuna Sasrabahu yang kurang bijaksana menghukum mati Begawan Jamadagni yang melakukan protes kepada Sang Prabu karena ternak peliharaannya dibunuh oleh para prajurit pengawalnya.Pada peristiwa itu,Batara Wisnu sudah tidak menitis lagi pada Arjuna Sasrabahu karena sikapnya yang sudah tidak adil dan bijaksana lagi.
Arjunawijaya

Grafis Wayang Arjunawijaya
Arjunawijaya adalah nama Arjuna Sasrabahu ketika masih muda.Ketika menginjak dewasa,ayahnya yaitu Prabu Kartawirya,raja Kerajaan Maespati menyuruh puteranya untuk segera menikah.Tetapi Arjunawijaya menolak karena merasa dirinya belum siap menjadi suami.Akibatnya ayahnya marah dan ia diusir dari kerajaan Maespati.Baru diperbolehkan pulang ke kerajaan jika telah membawa istri.
Untuk menenangkan hatinya yang gundah itu,Arjunawijaya lalu bertapa di Gua Ringin Putih.Suatu saat,di hadapannya jatuh seorang raksasa yang terluka,lalu ditolongnya.Raksasa itu bernama Yaksamuka,yang akhirnya mengabdi pada Arjunawijaya.Beberapa saat kemudian datanglah seorang ksatria bernama Bambang Kartanadi yang langsung hendak membunuh Yaksamuka,tapi dihalangi oleh Arjunawijaya.Maka terjadilah perkelahian antara Bambang Kartanadi dengan Arjunawijaya.Ternyata Bambang Kartanadi amat sakti,sehingga membuat Arjunawijaya kemudian melakukan triwikrama,berubah menjadi brahala,raksasa yang amat besar dan garang.Bambang Kartanadi langsung menyerah kalah dan mengabdi pada Arjunawujaya.
Kepada Yaksamuka dan Bambang Kartanadi,Arjunawijaya menyatakan maksudnya hendak mencari putri yang pantas untuk menjadi istrinya.Yaksamuka menyarankan agar Arjunawijaya melamar Dewi Citralangeni puteri Raja Tunjungpura.Tetapi Bambang Kartanadi menyarankan agar Arjunawijaya memilih Dewi Srinadi,adiknya.Yaksamuka segera bertindak cepat,dengan ilmu yang dimilikinya,ia melarikan Arjunawijaya ke Tunjungpura.Bambang Kartanadi tidak mau kalah,waktu Yaksamuka dan Arjunawijaya tiba di Tunjungpura ternyata Bambang Kartanadi telah lebih dulu sampai di tempat itu bersama adiknya,Dewi Srinadi.Akhirnya Arjunawijaya mengambil keduanya sebagai istri yaitu Dewi Citralangeni dan Dewi Srinadi dan dibawalah menghadap ayahnya di kerajaan Maespati.Arjunawijaya menjadi raja Maespati bergelar Arjuna Sasrabahu.
Asmara

Grafis wayang Batara Asmara gagrak Surakarta
Batara Asmara adalah putera ketiga Batara Guru dari istrinya yang kedua,Dewi Laksmi.Saudaranya yang seayah dan seibu lainnya adalah Batara Cakra dan Mahadewa atau Batara Ganesha.Batara Asmara adalah dewa yang selalu memberi perlindungan bagi pria dan wanita yang sedang jatuh cinta.Dewa cinta ini juga membantu memelihara cinta pasangan suami istri.

Wayang Kulit Batara Asmara gagrak Jogjakarta
Sebagian pecinta wayang mengelirukan Batara Asmara dengan Batara Kamajaya.Sebenarnya Batara Kamajaya adalah Dewa Ketampanan,bukan Dewa Cinta.Perbedaan lainnya Batara Asmara adalah anak dari Batara Guru,sedangkan Batara Kamajaya adalah anak Sang Hyang Ismaya atau Semar.
Aswani Kumba

Grafis Wayang Aswani Kumba gagrak Surakarta
Adalah anak Kumbakarna dengan Dewi Aswani,seorang bidadari yang dianugerahkan Rahwana kepada Kumbakarna.Aswani Kumba mempunyai kakak bernama Kumba-Kumba.Seperti ayahnya Aswani Kumba berujud raksasa,bertempur sebagai prajurit membela negara,bukan karena membela Rahwana.Dia gugur terkena panah Laksmana,adik Ramawijaya pada hari yang sama dengan gugurnya Kumbakarna.
Aswatama

Grafis wayang Aswatama gagrak Surakarta
Adalah anak Begawan Drona dari ibunya seekor kuda betina penjelmaan seorang bidadari bernama Dewi Wilutama.Kasatriaannya bernama Tirtatinalang.Walaupun ayahnya adalah seorang guru besar dalam ilmu keprajuritan dan siasat perang,Aswatama bukanlah seorang yang terlalu menonjol dalam hal kesaktian.Ia bahkan dilukiskan sebagai seorang yang banyak akal,licik,kurang ksatria dan lebih suka memukul dari belakang.Ia juga suka menghalalkan segala cara untuk melampiaskan dendamnya.

Wayang Kulit Bambang Aswatama gagrak Jogjakarta
Aswatama termasuk tokoh yang memihak para Kurawa dalam Baratayuda,dan dia berhasil lolos dari kematian pada perang besar itu.Menjelang berakhirnya perang Baratayuda,Aswatama sempat berselisih dengan Prabu Salya,karena menurut pendapatnya kekalahan Kurawa akibat kelicikan Prabu Kresna sebagai ahli siasat di pihak Pandawa.Beberapa senapati perang Kurawa,seperti Bisma,Karna dan bahkan Prabu Salya tidak berperang secara sungguh-sungguh.Penilaian inilah yang membuat Prabu Salya sangat berang.Karena merasa sungkan terhadap mertuanya,Duryudana lebih memihak pada Prabu Salya,sehingga membuat Aswatama sakit hati.

Wayang Golek Sunda Bambang Aswatama
Terbunuhnya Begawan Drona,ayahnya membuat Aswatama menaruh dendam.Begitu perang usai ia mengajak Kartamarma dan Resi Krepa untuk menyelundup masuk ke perkemahan para Pandawa di padang Kurusetra,karena pada waktu itu setelah perang Baratayuda usai,para Pandawa belum masuk ke istana Astina.Aswatama hendak membunuh para Pandawa dan keluarganya yang menurut perhitungannya sedang lengah.Resi Krepa menolak ajakannya.Mula-mula ia masuk ke keputren,dan berhasil membunuh Dewi Srikandi dan Banowati,kemudian ia pindah ke kemah lain dan berhasil membunuh Drestajumena dan Pancawala.Waktu ia mau membunuh Parikesit,putera Abimanyu yang waktu itu masih bayi,tiba-tiba Parikesit terbangun menangis dan kakinya menendang-nendang.Pasopati,anak panah pusaka Arjuna yang pada waktu itu ditaruh di ranjang bayi,tertendang dan mental yang kebetulan tepat mengenai leher Aswatama,seketika itu tewaslah Aswatama.
Aswin

Grafis Wayang Batara Aswin gagrak Surakarta
Adalah dewa kembar bersama dengan Batara Aswan,tapi versi lain menyebutkan Batara Aswan dan Batara Aswin menyatu dalam tubuh Batara Aswin.Mereka adalah putera Batara Sumeru dengan ibu bernama Dewi Kurani.Selain dikenal sebagai Dewa Kembar,Batara Aswin juga dikenal sebagai Dewa Tabib karena dia ahli dalam obat-obatan dan menyembuhkan penyakit.Dewa inilah yang didatangkan oleh Dewi Madrim untuk membuahi dirinya atas ijin suaminya.Ilmu untuk mengundang para dewa diperolehnya dari madunya,Dewi Kunti yang bernama ilmu Adityarhedaya.Pertemuan antara Dewi Madrim dan Batara Aswin membuahkan anak bernama Pinten dan Tangsen.Setelah dewasa,Pinten dan Tangsen berubah nama menjadi Nakula dan Sadewa.
Badawanganala

Grafis Wayang Badawanganala gagrak Jogjakarta
Begawan Badawanganala adalah pertapa berujud kura-kura,pandai berbicara.Ia hidup di muara Sungai Waila,yaitu salah satu cabang sungai Gangga.Karena ketekunannya bertapa,ia mendapatkan anak kembar yang diberi nama Dewi Srenggini dan Srengganawati.Kelak kedua putri kembar ini diperistri oleh Nakula dan Sadewa.Dewi Srengganawati menikah dengan Nakula melahirkan anak bernama Dewi Sri Tanjung,sedang Dewi Srenggini menikah dengan Sadewa melahirkan anak bernama Bambang Widapaksa.
Badraini

Grafis Wayang Dewi Badraini gagrak Surakarta
Dewi Badraini atau Dewi Rohini adalah istri ketiga Prabu Basudewa,raja Mandura.Ia adalah putri Begawan Anipita dari pertapaan Girisekar.Dari perkawinannya dengan Prabu Basudewa,Dewi Badraini melahirkan seorang putri bernama Dewi Bratajaya alias Wara Subadra.Kelak Dewi Subadra diperistri oleh Arjuna.Badraini berarti pembawa keselamatan.
Bagal Buntung

Grafis Wayang Bagal Buntung gagrak Cirebon
adalah salah seorang di antara sembilan panakawan pada Wayang Kulit Purwa gagrak Cirebon.Bentuknya agak mirip Gareng,tetapi kaki depannya buntung sebatas pergelangan kaki.Di antara para panakawan pada Wayang Kulit Purwa gagrak Cirebon,ia dikenal yang paling keras kepala,sukar diatur.
Bagaspati

Grafis Wayang Begawan Bagaspati gagrak Surakarta
Begawan Bagaspati walaupun berujud raksasa buruk rupa,namun ia berhati mulia dan sakti.Bagaspati mempunyai seorang istri bidadari bernama Dewi Darmastuti,putri Sang Hyang Ismaya.Meskipun ia sendiri raksasa,Bagaspati mempunyai anak seorang putri cantik yang diberi nama Pujawati.Setelah dewasa anaknya menikah dengan Narasoma,putera kerajaan Mandaraka.
Begawan Bagaspati adalah putera Batara Nagapasa.Ia mempunyai seorang abang,juga berujud raksasa,bernama Bagaswara,yang juga hidup sebagai pertapa.Pertapaan Bagaspati bernama Arga Belah.Bagaspati disebutkan sebagai salah satu di antara tiga makhluk berdarah putih yang pernah hidup di dunia.Makhluk hidup berdarah putih lainnya adalah Resi Subali berujud kera.Dan yang satunya adalah Puntadewa dari keluarga Pandawa,berujud manusia.

Wayang Kulit Begawan Bagaspati gagrak Jogjakarta
Suatu saat Bagaspati berhasil menolong para dewa dengan mengalahkan pasukan gandarwa yang menyerbu kahyangan.Karena jasanya itu,Batara Guru berkenan memberinya hadiah.Bagaspati disuruh memilih salah satu bidadari yang ada di kahyangan untuk dijadikan istrinya.Namun Bagaspati membuat kesalahan dengan memilih Dewi Laksmi,istri Batara Guru.Tentu saja pilihannya ini membuat murka Batara Guru.Maka terucaplah kutukan dari Batara Guru,bahwa kelak Bagaspati akan dibunuh oleh menantunya sendiri.
Begawan Bagaspati sadar akan kelancangannya,lalu memohon ampun.Namun kutukan telah terjadi,tidak mungkin diralat lagi.Para dewa telah berjanji memberinya hadiah seorang bidadari bernama Dewi Darmastuti,salah seorang putri Batara Ismaya(Semar) sebagai istrinya.Namun pemberian itu disertai syarat,setelah bidadari itu melahirkan anak,ia harus kembali ke kahyangan.

Wayang Kulit Begawan Bagaspati gagrak Surakarta
Sementara Batara Guru sendiri,masih tetap merasa dendam terhadap penghinaan Begawan Bagaspati.Bagaimana mungkin seorang raksasa berani merendahkan martabatnya dengan memilih Dewi Laksmi sebagai istri yang diidamkannya.Dendam Batara Guru ternyata cukup mendalam.Belum puas dengan kutukannya,beberapa waktu kemudian Batara Guru menciptakan seekor makhluk ganas dari selongsong kulit Batara Antaboga yang berganti kulit tiap seribu tahun sekali.Disuruhnya makhluk ganas yang diberi nama Candrabirawa itu menyerang Begawan Bagaspati.Tetapi ternyata Candrabirawa tidak sanggup melawan Bagaspati yang berdarah putih.Setiap kali Candrabirawa menyerang,jika dilawan tubuh makhluk itu terbelah dua.Demikian seterusnya sehingga jumlahnya ribuan.Tetapi Bagaspati tidak melawan.Sehingga akhirnya,Candrabirawa menyerah,kemudian memohon agar dibolehkan mengabdi pada Bagaspati.Dan sejak itulah kesaktian Bagaspati bertambah.
Meskipun ujudnya raksasa,Begawan Bagaspati ternyata dapat menjadi ayah yang baik.Ia memelihara dan mendidik Pujawati sehingga menjadi gadis yang tinggi sopan santunnya dan berhati mulia.Pada suatu hari Dewi Pujawati menghadap ayahnya dan menceritakan tentang mimpinya.Dalam mimpinya,dia bertemu dengan seorang ksatria yang tampan dan perkasa,bernama Raden Narasoma.Ia mohon pada ayahnya agar mencarikan ksatria yang muncul dalam mimpinya.Sang Begawan segera tahu bahwa anaknya telah jatuh cinta.Begawan Bagaspati segera teringat akan kutukan Batara Guru.Walaupun demikian demi kebahagiaan anak tunggalnya,Begawan Bagaspati tidak mempedulikan soal kutukan itu.Yang penting baginya,Pujawati dapat hidup bahagia kawin dengan pria pujaannya.Karena itu,ia segera berangkat mencari ksatria itu.
Narasoma mudah ditemukan,tetapi tidak mudah membawanya ke pertapaan Arga Belah.Apalagi ketika Narasoma mendengar alasan Begawan Bagaspati bahwa ajakan itu dimaksudkan hendak memperkenalkannya dengan putrinya.Dalam pikiran Narasoma,seorang raksasa yang buruk rupa tentu begitu pula rupa anaknya.Karena itu serta merta Narasoma menolak ajakan Bagaspati.Maka terpaksa Bagaspati membawa Narasoma dengan cara paksa.Sesampainya di pertapaan Arga Belah,ternyata Narasoma kagum bukan main melihat kecantikan dan perilaku Dewi Pujawati.Kali ini tanpa disuruh ia segera jatuh cinta pada putri Bagaspati itu.Mereka pun kawin.
Suatu hari Narasoma datang menghadap Bagaspati,dengan kata-kata kiasan sebenarnya ia malu mempunyai mertua berujud raksasa.Apalagi ia adalah putra mahkota kerajaan Mandaraka.Mendengar hal ini,Sang Begawan menjawab bahwa ia ikhlas meninggalkan dunia ini demi kebahagiaan putrinya.Raksasa pertapa itu lalu mewariskan berbagai ilmunya,termasuk Aji Candrabirawa.Begawan Bagaspati juga berpesan agar sesudah ia meninggal nanti,nama Pujawati diubah menjadi Setiawati.Dan juga berpesan,bilamana ayah Narasoma menanyakan asal-usul Pujawati,Narasoma agar menjawab kalau istrinya itu pemberian dewa.Setelah berpesan demikian,Bagaspati menyuruh Narasoma menusukkan kerisnya ke dadanya.Pertapa raksasa berhati mulia itu akhirnya tewas.

Inggih siap pak Petrus…dipun rantos nggih…matur nuwun…
iya mas Ulil…terima kasih berkenan mampir…:)