WAYANG-2
Bagong

Wayang Kulit Bagong gagrak Surakarta
Bagong adalah salah seorang tokoh Panakawan.Panakawan adalah pengiring atau pamong yang selalu ikut dan mendampingi seseorang atau suatu keluarga,sebagai tempat berbagi suka-duka dan dimintai saran-saran jika diperlukan.Bagong adalah anak hasil pujaan Semar atau Ki Lurah Badranaya.

Wayang Kulit Bagong gagrak Jogjakarta
Menurut cerita pewayangan,Bagong diciptakan dari bayangan Semar.Di hari-hari pertama Sang Hyang Ismaya turun ke dunia sebagai Semar untuk bertugas sebagai pamong golongan manusia yang berbudi baik,ia merasa kesepian.Karena itu ia mohon kepada ayahnya Sang Hyang Tunggal agar diberi teman.Sebagai teman setia Semar adalah bayangannya yang oleh Sang Hyang Tunggal kemudian diubah ujudnya menjadi Bagong.Itulah sebabnya bentuk dan wajah Bagong amat mirip dengan Semar dengan perut yang buncit,hidung pesek dan pantatnya besar.

Grafis Wayang Bagong gagrak Cirebon
Bagong memiliki sifat kekanak-kanakan,lucu,jarang bicara tapi sekali bicara membuat orang tertawa.Bagong merupakan pengritik tajam dan nylekit bagi tokoh wayang lain yang bertindak tidak benar.Pada Wayang Golek Sunda,tokoh Bagong sering dipersamakan dengan Cepot atau Astrajingga.Namun berbeda dengan Wayang Kulit Purwa,di Wayang Golek Sunda Cepot Astrajingga dianggap sebagai anak Semar yang tertua.Di Banyumas tokoh Bagong sering disebut dengan Bawor.

Wayang Kulit Bagong gagrak Jawa Timuran
Tokoh Wayang Bagong mulai diciptakan pada zaman pemerintahan Sunan Amangkurat II,raja Mataram Kartasura,dengan candra sengkala Mantri Sirna Sangoyag Jagad,dapat diperhitungkan Bagong tercipta pada tahun 1603 Saka atau 1679 Masehi.Namun siapa seniman penciptanya tidak diketahui.
Walaupun Bagong sebenarnya merupakan anak pertama Semar,dalam pewayangan ia sering dianggap sebagai anak bungsu.Salah kaprah ini terutama disebabkan karena sifat Bagong yang kekanak-kanakan itu.Biasanya dalam Wayang Kulit Purwa,Bagong berbicara dalam logat Jawa Banyumasan.Itulah antara lain sebab kenapa tokoh Bagong sangat digemari di daerah Banyumas.Khusus dalam pewayangan di Jawa Timur ada tokoh wayang yang disebut Hyang Katinja alias Besut,Besep,Bestil atau Besil.Tokoh wayang ini berasal dari tinja Semar yang terinjak oleh Bagong.

Grafis Wayang Bagong jadi Raja gagrak Surakarta
Bagong beristri cantik,bernama Dewi Bagnawati putri Prabu Balya dari Kerajaan Pucangsewu.Dalam lakon carangan,Semar Minta Bagus atau Semar Gugat,Bagong diajak Semar ke kahyangan dan diubah bentuknya menjadi ksatria tampan.Bagong diberi nama baru Bambang Lengkara,sedangkan Semar yang telah berganti rupa menjadi ksatria perkasa menamakan dirinya Bambang Dewalelana.Selain tampan,dalam lakon ini Bagong juga memiliki kesaktian seimbang dengan para dewa.

Grafis Wayang Bawor atau Bagong gagrak Banyumas
Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa,tokoh wayang Bagong dilukiskan dalam beberapa wanda.Diantara wanda Bagong adalah wanda Gembor,dengan bibir lebih lebar dan terbuka.Bagong wanda Gembor ini lebih tua usianya dan paling besar ukurannya.Hampir sebesar Semar,sikap tubuhnya agak membungkuk dan kepalanya agak menunduk.

Wayang Kulit Bagong menyamar wanita gagrak Surakarta
Jenis yang kedua adalah Bagong wanda Gilut,yakni yang bibir bawahnya lebih tebal.Tubuh Bagong wanda Gilut agak pendek,tetapi kepalanya mendongak dan dadanya membusung.Ciri lainnya Bagong wanda Gilut ini mengenakan keris berwarangka sandang walikat.

Grafis Wayang Bagong wanda Gembor gagrak Surakarta
Jenis ketiga,Bagong wanda Ngengkel,dimana sikap tubuhnya lebih tegak dan kepalanya agak mendongak.Yang terakhir disebut,Bagong wanda Blungkang,Bagong dengan gundul rambutnya dengan bibir bawahnya yang panjang.

Wayang Golek Sunda Cepot Astrajingga alias Bagong
Pada tahun 1987,Haryono Haryoguritno,seorang pakar seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta,menciptakan wanda baru bagi Bagong,yakni Bagong wanda Blo’on.Wanda baru ini diciptakan sebagai pasemon terhadap keadaan zaman,saat generasi muda yang kurang peduli pada keadaan sekitarnya.
Baladewa

Wayang Kulit Baladewa Kyai Inten gagrak Jogjakarta
Baladewa merupakan salah satu tokoh wayang yang dikenal adil,tegas,jujur,tetapi pemarah dan mudah dihasut.Ia adalah putera Prabu Basudewa dari Kerajaan Mandura,yang kemudian mewarisi tahta ayahnya.Sedangkan adiknya bernama Kresna,menjadi raja di Dwarawati.Baladewa dilahirkan kembar bersama Kresna,namun kulit mereka berbeda rupa.Baladewa berkulit putih,sedangkan Kresna hitam.Ibu mereka adalah Dewi Mahindra.Dari ibunya yang lain,mereka berdua mempunyai adik perempuan bernama Dewi Bratajaya alias Wara Subadra.Sementara dari ibunya yang lain lagi,yakni Dewi Maerah,Baladewa mempunyai saudara haram,yakni Kangsa.

Wayang Kulit Baladewa gagrak Surakarta
Permaisuri Baladewa bernama Dewi Erawati,puteri sulung Prabu Salyapati.Tidak seperti kebanyakan raja dalam pewayangan yang beristri banyak,sampai akhir hidupnya Prabu Baladewa hanya punya seorang istri.Anaknya dua,dinamakan Wisata dan Wimuka.

Wayang Kulit Parwa Baladewa gaya Bali
Pada masa kecilnya,bersama dua adiknya Baladewa terpaksa diungsikan ke Kademangan Widarakandang oleh orang tuanya.Waktu itu Baladewa masih menggunakan nama Kakrasana.Kresna memakai nama Narayana,sedangkan Dewi Bratajaya dipanggil Lara Ireng.

Wayang Golek Sunda Baladewa
Di Widarakandang mereka diasuh oleh Ki Demang Antagopa dan istrinya,Nyai Segopi.Pengungsian ini terpaksa dilakukan karena ketiga anak yang baru menjelang remaja itu diancam akan dibunuh oleh Kangsa,anak Prabu Gorawangsa yang lahir dari Dewi Maerah,istri pertama Prabu Basudewa.

Grafis Wayang Baladewa gagrak Cirebon
Dalam masa pengungsian di Kademangan Widarakandang,secara diam-diam Kakrasana belajar berbagai ilmu dari Dewa Brahma yang waktu itu menyamar sebagai seorang brahmana kelana.Pengajaran itu dilakukan di gunung Argasonya.Sesudah dinyatakan lulus,Baladewa diberi hadiah senjata pemusnah yang dahsyat bernama Nanggala dan Alugara.Nanggala berujud mata bajak,sedangkan Alugara berupa gada dengan kedua ujung runcing.Baladewa juga menguasai ilmu yang memungkinkan terbang dengan kecepatan tinggi.Ilmu itu disebut aji Jaladara.Dan karena itu pula,Baladewa juga disebut Wasi Jaladara.Selain memiliki berbagai ilmu,Baladewa dikenal sebagai ahli perkelahian dengan gada.Dalam ketrampilan gada ini ia dianggap guru oleh Bima dan juga Suyudana,raja muda Astina.Berkat Baladewa,kedua orang itu menjadi jago dalam pertempuran menggunakan gada.

Wayang Grafis Baladewa wanda Sembada gagrak Surakarta
Dalam banyak hal Baladewa yang merupakan titisan Batara Basuki ini sering berbeda pendapat dengan Kresna yang titisan Batara Wisnu.Tetapi pertentangan itu tidak membuat mereka bermusuhan.Bahkan kalau keduanya berdebat,selalu Kakrasana yang mengalah,karena ia menganggap adiknya itu memang lebih mahir bicara,pandai membujuk dan menyakinkan orang.Baladewa juga bernama Karsana,Balarama,Alayuda,Basukiyana.Tetapi Bima mempunyai julukan khusus pada raja Mandura ini,Bima memanggilnya dengan julukan bule,sebab kulitnya putih.Baladewa sendiri berarti prajurit para dewa.

Grafis Wayang Baladewa wanda Rayung gagrak Surakarta
Baladewa dapat memperistri Dewi Erawati karena bantuan Arjuna.Suatu ketika Dewi Erawati diculik oleh Kartopiyoga atau Kartawiyoga,anak Prabu Kurandageni dari Kerajaan Tirtakadasar.Negeri itu berada di dasar laut,itulah sebabnya tidak mudah menemukan putri sulung Prabu Salya tersebut.Arjuna lah yang kemudian membantu Baladewa sehingga ia dapat menemukan dan membebaskan Dewi Erawati,dan dapat membunuh si penculik,Kartawiyoga dan bapaknya,Prabu Kurandageni.
Menjelang saat pecah perang Baratayuda,Baladewa yang selalu menjunjung sikap adil berusaha tidak memihak.Akhirnya sesuai saran Kresna,Baladewa memutuskan untuk tidak ikut terlibat dalam perang Baratayuda.Kemudian ia bertapa di Grojogan Sewu agar gemuruh air yang selalu terjun di dekat pertapaan itu dapat membuat telinganya tidak mendengar suara perang.Namun ada versi lain,menyepinya Prabu Baladewa karena tipu muslihat Prabu Kresna yang tidak menghendaki kakaknya terlibat dalam Baratayuda.Kresna memperkirakan kalau abangnya ini akan memihak para Kurawa,karena mertua dan dua saudara iparnya ada di pihak Kurawa.Lalu Kresna meminta Baladewa untuk bertapa di Grojogan Sewu ditemani oleh anak Kresna yaitu Setyaka.Baladewa diminta jangan berhenti bertapa sebelum sebuah kuntum bunga Tunjung yang ada di pertapaan itu mekar.Sementara itu,sebenarnya Kresna telah mengikat kuntum bunga itu dengan sehelai rambutnya sehingga bunga itu tidak dapat mekar.

Grafis Wayang Baladewa gagrak Jogjakarta
Baladewa berumur panjang,ia sempat menyaksikan Prabu Parikesit dinobatkan dan memerintah Kerajaan Astina.Bahkan sewaktu kerajaan Astina diserbu kerajaan Ajibarang,yang dulunya bernama Trajutrisna,Baladewa datang membantu dan berhasil membunuh Prabu Wesiaji,raja Ajibarang.Prabu Wesiaji ini anak Prabu Bomantara.Mendengar berita kematian adiknya,Prabu Kresna dan hancurnya kerajaan Dwarawati membuat Baladewa sangat bersedih.Lalu Baladewa pergi menyepi di hutan dan bertapa berhari-hari sampai akhirnya meninggal.

Wayang Kulit Baladewa wanda Sembada gagrak Jogjakarta
Dalam seni kriya Wayang Kulit Gagrak Surakarta,Prabu Baladewa dilukiskan dalam tujuh wanda,yakni wanda Sembada,Paripeksa,Kaget,Geger,Rangkung,Rayung, dan Jangkung.Semua wanda itu diciptakan pada tahun 1563 Jawa atau 1641 Masehi pada saat pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma,Raja Mataram.

Wayang Kulit Baladewa wanda Banteng gagrak Jogjakarta
Tetapi menurut gagrak Jogjakarta,wanda Prabu Baladewa hanya tiga,yakni wanda Sembada,Geger dan Banteng(Kaget).Wanda Sembada untuk adegan perjamuan,wanda Geger untuk kondisi marah,dan wanda Banteng untuk waktu berperang.Sesuai dengan wataknya yang pemarah,peraga wayang Baladewa baik gagrak Surakarta maupun Jogjakarta digambarkan dengan warna kemerah-merahan.
Selain itu pada masa pemerintahan Paku Buwono X,raja Surakarta menciptakan wanda baru bagi Baladewa yakni wanda Begawan atauwanda Sepuh.Wanda ini digunakan manakala Baladewa tampil sebagai pertapa dengan nama Begawan Curiganata atau lakon-lakon yang mengisahkan pasca Baratayuda.
Balaupata

Grafis Wayang Balaupata gagrak Surakarta
Balaupata meskipun berujud raksasa,ia bertabiat jujur,dan baik hati.Ia adalah anak Begawan Bremani.Balaupata bersaudara kembar dengan Cingkara yang juga berujud raksasa.Mereka mempunyai kakak sulung yang lahir dalam ujud manusia tampan bernama Manumayasa.Manumayasa inilah yang dalam pewayangan disebut sebagai nenek moyang Pandawa dan Kurawa.Versi lain menyebutkan ia anak Begawan Gopatama.Balaupata dan Cingkara adalah kemenakan Lembu Andini,karena Begawan Gopatama adalah saudara kandung Andini.Oleh Batara Guru,Balaupata dan Cingkara ditugasi menjaga gerbang Selamatangkep,pintu masuk menuju Kahyangan Suralaya.
Bambang Kumbayana

Grafis Wayang Bambang Kumbayana gagrak Surakarta
Bambang Kumbayana merupakan nama asli Begawan Drona.Nama ini biasa digunakan oleh para dalang terutama di daerah Jawa Tengah untuk menyebut Drona ketika masih muda,waktu ia masih tampan,sebelum dianiaya oleh Gandamana.

Wayang Kulit Bambang Kumbayana sebelum dihajar Gandamana

Wayang Kulit Bambang Kumbayana setelah dihajar Gandamana
Setelah wajahnya rusak dan tubuhnya cacat barulah ia dikenal dengan nama Drona.Padahal sebenarnya nama Drona sudah disandangnya semenjak ia lahir.
Bambang Priyambada
Bambang Priyambada salah seorang anak Arjuna.Ia tampan dan sakti seperti ayahnya.Kemahirannya membidikan anak panah sukar dicari tandingannya.Sejak kecil ia diasuh oleh kakeknya,Begawan Sidikwaspada dari Pertapaan Glagahwangi.Bambang Priyambada pernah berjasa menolong Kerajaan Amarta,sewaktu Dewi Mustakaweni berhasil mencuri Jamus Kalimasada dengan cara menyamar sebagai Gatotkaca.
Dalam perjalanan ke Kerajaan Amarta untuk menghadap ayahnya,Bambang Priyambada berjumpa dengan Dewi Srikandi,salah seorang istri Arjuna,yang sedang mengejar Dewi Mustakaweni.Srikandi berjanji akan mempertemukan Bambang Priyambada dengan Arjuna asalkan dia dapat membantu mengejar dan sekaligus menangkap pencuri Jamus Kalimasada.Pusaka milik Kerajaan Amarta itu berhasil dicuri oleh Dewi Mustakaweni,putri Prabu Niwatakawaca dari Kerajaan Manimantaka.

Grafis Wayang Bambang Priyambada gagrak Surakarta
Setelah menyatakan kesanggupannya,Bambang Priyambada segera mengejar Dewi Mustakaweni.Sebenarnya pada saat perjumpaan pertama kedua manusia berlainan jenis itu merasa tertarik satu sama lain.Karena diminta tidak boleh,akhirnya mereka berkelahi.Kemahiran Bambang Priyambada membidikan anak panah membuat Dewi Mustakaweni menyerah kalah.Jamus Kalimasada dikembalikan pada Bambang Priyambada.Dengan restu para Pandawa dan Prabu Kresna,Dewi Mustakaweni akhirnya menjadi istri Bambang Priyambada.Dalam perang Baratayuda,Bambang Priyambada gugur terkena panah Begawan Drona di hari ketujuh.
Bambang Purwaganti

Grafis Wayang Bambang Purwaganti gagrak Surakarta
Bambang Purwaganti adalah putera Anoman,ibunya bernama Dewi Purwati.Kakeknya dari pihak ibu adalah seorang pertapa bernama Begawan Purwapada.Sejak lahir ia tinggal di pertapaan bersama kakek dan ibunya,tidak pernah berjumpa dengan ayahnya.Itulah sebabnya,setelah dewasa ia pergi mencari ayahnya di Kendalisada.

Wayang Kulit Bambang Purwaganti gagrak Jogjakarta
Dalam perjalanan,ketika sampai di Kerajaan Purwacarita ia menyaksikan perang antara Pandawa yang dibantu Prabu Kresna dengan bala tentara Kerajaan Purwacarita yang dipimpin oleh patih Dasagriwa.Atas permintaan Prabu Kresna,Bambang Purwaganti berhasil membantu Pandawa dengan membunuh Dasagriwa.Setelah patihnya mati,raja Purwacarita,Prabu Dewakusuma menuntut balas,tetapi ia dikalahkan oleh Nakula.Ternyata Prabu Dewakusuma adalah penjelmaan Sadewa,saudara kembarnya.Sebagai imbalan,Prabu Kresna mengantarkan Bambang Purwaganti ke Kendalisada untuk menemui Anoman.
Bambang Sumitra

Grafis Wayang Bambang Sumitra gagrak Surakarta
Bambang Sumitra adalah salah seorang putra Arjuna,yang lahir dari Dewi Sulastri atau Rarasati.Istrinya bernama Dewi Asmarawati,putri Prabu Suryasmara dari Kerajaan Argakencana.Perkawinan antara Bambang Sumitra dengan Dewi Asmarawati tidak mendapat perhatian yang semestinya dari Arjuna.

Wayang Kulit Bambang Sumitra gagrak Jogjakarta
Karenanya Semar dan anak-anaknya yang mengambil alih penyelenggaraan perkawinan itu.Sehingga perkawinan Bambang Sumitra dan Dewi Asmarawati menjadi yang paling mewah dan meriah yang pernah ada.Dalam kapasitasnya sebagai Sang Hyang Ismaya,Semar meminta bantuan para dewa dan bidadari kahyangan untuk ditugasi sebagai pelayan para tamu undangan.Makanan dan minuman yang disajikan semuanya dari kahyangan.

Wayang Kulit Bambang Sumitra gagrak Surakarta
Dengan cara itu Semar dapat menyadarkan Arjuna,bahwa seorang ayah tidak selayaknya membedakan anak dalam hal kasih sayang.Dalam Baratayuda,Bambang Sumitra bertugas sebagai pengemudi kereta perang Abimanyu.Bambang Sumitra gugur terkena panah Begawan Drona di hari ketigabelas.
Bambang Widapaksa

Wayang Kulit Bambang Widapaksa gagrak Jogjakarta
Bambang Widapaksa atau Bambang Sidapaksa adalah putera Sadewa,ibunya bernama Dewi Srenggini.Bambang Widapaksa kawin dengan Dewi Sri Tanjung,putri Nakula.Ia tinggal di kasatriyan Baweratalun.
Bambang Wijanarka

Grafis Wayang Bambang Wijanarka gagrak Surakarta
Bambang Wijanarka adalah salah seorang anak Arjuna dari ibunya bernama Dewi Ratri.Seperti saudaranya yang lain,Bambang Wijanarka gugur dalam Baratayuda pada hari keduabelas,sehari sebelum kematian Abimanyu,Bambang Sumitra,dan Brantalaras oleh panah Begawan Drona.
Banaputra

Grafis Wayang Banaputra gagrak Surakarta
Prabu Banaputra menjadi raja Ayodya menggantikan ayahnya,Prabu Banapati.Ibunya adalah Dewi Maurawa alias Dewi Barawati,putri Kerajaan Mantili.Prabu Banaputra juga bergelar Prabu Sumaraja mempunyai seorang putri tunggal bernama Dewi Sukasalya yang merupakan titisan Dewi Widowati.
Suatu ketika kerajaan Ayodya diserang raja Alengka,Prabu Dasamuka.Serangan ini terjadi karena Prabu Banaputra menolak pinangan Prabu Dasamuka yang ingin memperistri Dewi Sukasalya.Dalam perang itu,Prabu Banaputra gugur,namun Dewi Sukasalya sempat dititipkan pada Resi Rawatwaja agar diungsikan ke tempat yang aman.
Bancak

Wayang Gedog Bancak
Bancak adalah salah satu punakawan dalam wayang Gedog,pasangannya adalah Doyok.Dibandingkan dengan Doyok,tubuhnya lebih kecil,bentuknya lebih mirip dengan Semar,tetapi pantatnya lebih kecil.Hidungnya bulat dan besar,tidak berjambul rambutnya keriting.
Bandondari

Grafis Wayang Dewi Bandondari gagrak Surakarta
Dewi Bandondari alias Dewi Dayita adalah permaisuri Prabu Basukunti,Raja Mandura.Dari perkawinannya mempunyai lima anak yaitu,Dewi Sruta yang setelah dewasa menikah dengan Prabu Damagosa,raja Cedi.Mereka mempunyai anak tunggal bernama Sisupala.Anaknya yang kedua bernama Basudewa,setelah dewasa menggantikan kedudukan ayahnya menjadi raja Mandura.Anak yang ketiga bernama Harya Prabu Rukma,setelah dewasa menjadi raja Kumbina bergelar Prabu Bismaka.Anaknya yang keempat bernama Ugrasena,setelah dewasa menjadi raja Lesanpura dan bergelar Prabu Setiajid.Yang bungsu bernama Dewi Prita yang kemudian lebih dikenal dengan nama Dewi Kunti,diperistri oleh Prabu Pandu Dewanata,raja Astina.
Banendra

Wayang Kulit Patih Banendra gagrak Jogjakarta
Patih Banendra adalah patih Kerajaan Lokapala yang berujud raksasa.Dia menjadi patih pada dua era pemerintahan,yaitu pada masa pemerintahan Prabu Lokawarna yang kemudian mengundurkan diri menjadi pertapa bernama Begawan Wisrawa,kemudian mengangkat anaknya menjadi raja bergelar Prabu Danapati atau Danaraja.Patih Banendra gugur ketika ikut menyerbu kerajaan Alengka atas perintah Prabu Danaraja yang pada waktu itu sangat marah kepada ayahnya,karena Begawan Wisrawa yang diminta melamarkan Dewi Sukesi ternyata malah mengambilnya menjadi istri.
Banjaranjali

Grafis Wayang Prabu Banjaranjali gagrak Surakarta
Prabu Banjaranjali adalah raja pertama Kerajaan Alengka.Ia anak Hiranyakasipu dengan Dewi Nariti.Ketika ayahnya dibunuh Narasinga yang merupakan penjelmaan Batara Wisnu,Banjaranjali yang ketika itu masih remaja langsung menyerah kalah sehingga ia tidak dibunuh oleh Narasinga.Bahkan Banjaranjali meminta perlindungan Batara Brama.Oleh Batara Brama,Banjaranjali diperkenankan membangun dan menduduki tahta Kerajaan Alengka,bahkan dinikahkan dengan putri Batara Brama,yaitu Dewi Bramanawati.
Banowati

Grafis Wayang Dewi Banowati gagrak Surakarta
Dewi Banowati adalah permaisuri Prabu Anom Suyudana atau Duryudana dari Astinapura,salah satu putri Prabu Salya dari kerajaan Mandaraka.Banowati bersaudara lima orang.Kakaknya yang sulung bernama Dewi Erawati yang setelah dewasa diperistri Prabu Baladewa dari Mandura.Kakaknya yang kedua bernama Dewi Surtikanti yang menjadi istri Adipati Karna.Banowati sendiri anak yang ketiga.Dua adiknya bernama Burisrawa dan Rukmarata.

Grafis Wayang Dewi Banowati gagrak Jogjakarta
Walaupun menjadi istri Prabu Duryudana,Banowati sebenarnya amat mencintai Arjuna.Ketika Arjuna membantu Baladewa menemukan Dewi Erawati yang diculik oleh Kartawiyoga,Banowati berkenalan dengan Arjuna.Segera ia jatuh cinta pada Arjuna.Arjuna pun tidak menolak cinta Banowati,namun cinta mereka kandas karena terpaksa Banowati menerima menjadi istri Duryudana atas desakan ayahnya dan kakak iparnya,Prabu Baladewa.Ia bersedia diperistri Duryudana dengan syarat agar waktu menjadi pengantin Arjuna lah yang memandikan dan merias dirinya.Meskipun permintaan itu amat menyinggung perasaan Duryudana,namun akhirnya terpaksa disetujui.

Wayang Kulit Dewi Banowati gagrak Jogjakarta
Dalam pewayangan sosok Banowati adalah karakter wanita yang tidak setia pada suami,karena setelah kawin dengan Suyudana,Banowati masih tetap mencintai Arjuna,bahkan secara sembunyi menjalin hubungan gelap dengan Arjuna.Anak pertama Banowati sebenarnya amat mirip dengan Arjuna,tapi atas permohonan Arjuna pada para dewa,wajahnya menjadi berubah mirip Suyudana.Anak pertama ini diberi nama Lesmana Mandrakumara yang tingkah lakunya seperti orang yang idiot.Anak yang kedua lahir menjadi putri cantik bernama Dewi Lesmanawati yang nantinya diperistri oleh Warsakusuma,anak Adipati Karna.Sedangkan Lesmana Mandrakumara kelak matinya di tangan Abimanyu pada waktu perang Baratayuda.

Wayang Kulit Banowati gagrak Surakarta koleksi Ki Purba Asmara
Mengenai tabiat Banowati yang kurang terpuji ini sebenarnya seluruh keluarga Kurawa juga mengetahuinya atau mencurigainya.Tetapi karena sikap Duryudana yang tetap melindungi istrinya,membuat mereka takut dan tidak bereaksi secara terang-terangan.Hanya Aswatama,putera Begawan Drona yang diam-diam menaruh dendam pada Banowati.Kelak setelah perang Baratayuda,pada suatu malam Aswatama berhasil menyusup ke keraton Astina dan membunuh Banowati.
Barata

Grafis Wayang Barata gagrak Surakarta
Barata adalah seorang adik tiri Ramawijaya.Sebenarnya Barata lah yang diharapkan ibunya untuk menggantikan Prabu Dasarata sebagai raja Ayodya.Untuk mencapai harapannya,Dewi Kekayi,ibu Barata sampai tega menghasut Prabu Dasarata agar membuang Ramawijaya dan istrinya ke hutan Dandaka.Prabu Dasarata terpaksa mengabulkan permintaan Dewi Kekayi walaupun dengan hati yang sedih,karena Prabu Dasarata sudah terlanjur berjanji akan mengabulkan segala permintaan Dewi Kekayi.
Kepergian Ramawijaya dan Dewi Sinta disertai oleh adik tirinya yang lain yaitu Laksmana.Barata yang tidak menyetujui niat ibunya,tidak bersedia naik tahta bahkan kemudian pergi meninggalkan kerajaan menyusul ke hutan mencari Ramawijaya.Setelah bertemu dengan Ramawijaya,Barata minta agar abang tirinya itu kembali ke Kerajaan Ayodya dan mau menjadi raja.Namun Rama menolak,bahkan menganjurkan Barata agar mau menjadi raja sebagai wakil Ramawijaya,karena tahta kerajaan Ayodya tidak boleh dibiarkan kosong.Ramawijaya juga memberikan petuah ajaran Hastabrata yang berisi delapan pedoman bagaimana menjadi raja yang baik dan bijaksana.Setelah Ramawijaya kembali dari pengasingan 13 tahun kemudian,Barata akhirnya menyerahkan kekuasaan Ayodya kepada Ramawijaya.
Baratwaja

Grafis Wayang Begawan Baratwaja gagrak Surakarta
Begawan Baratwaja adalah pertapa dari negeri Atasangin,adalah ayah Bambang Kumbayana alias Resi Drona.Nama pertapaanya adalah Argajembangan di wilayah Kerajaan Atasangin.Ia mempunyai seorang murid bernama Bambang Sucitra yang kelak menjadi raja di Cempalaradya dengan gelar Prabu Drupada.Riwayat kelahiran Drona yang diceritakan dalam kitab Adiparwa,bagian dari Mahabarata seperti ini:
Suatu saat Begawan Baratwaja terlalu khusuk bertapa sehingga membuat para dewa menjadi gelisah maka dilakukan upaya untuk membatalkan tapanya.Diutuslah seorang bidadari yang bernama Dewi Grahitawati untuk mengoda Sang Begawan.Secara sengaja Dewi Grahitawati mandi di telaga di depan Begawan Baratwaja.Karena menyaksikan keindahan tubuh Dewi Grahitawati membuat Resi Baratwaja akhirnya tergoda dan gagal dalam tapanya.Tidak tahan menahan hasrat,tumpahlah kama(benih) Resi Baratwaja.Air kama itu ditampungnya dalam tempat air yang dalam bahasa Sanskerta disebut Dronah.Beberapa waktu kemudian kama tersebut menjelma menjadi bayi.Bayi yang lahir dari tempat air itu kemudian diberi nama Drona.
Baruna

Grafis Wayang Batara Baruna gagrak Jogjakarta
Batara Baruna kadang disebut Sang Hyang Waruna,bertugas memelihara segala kehidupan di laut.Ketika Ramawijaya hendak menyeberangi lautan guna menyerbu Alengka,ia mohon pada Batara Baruna untuk mengeringkan air laut.Karena permohonannya tidak dipenuhi,Rama lalu triwikrama menunujukkan bahwa dirinya adalah titisan Wisnu.Dengan perasaan tersinggung,Batara Baruna terpaksa menyurutkan air laut namun tetap tidak mau mengeringkannya,karena sesuai dengan tugasnya,ia harus menjaga kehidupan segenap makhluk lautan yang menjadi tanggung jawabnya.

Wayang Kulit Batara Baruna gagrak Jogjakarta
Menurut versi pedalangan gagrak Jogjakarta,Batara Baruna mempunyai dua orang putri,yaitu Dewi Urangayu dan Barunawati.Dewi Urangayu menjadi istri Bima dan Dewi Barunawati menjadi istri Arjuna.Sang Hyang Baruna juga pernah menjelma menjadi manusia,menggunakan nama Begawan Badawanganala.Selama menjadi pertapa,mempunyai dua orang putri cantik yaitu Dewi Srengganawati dan Dewi Srenggini yang dipersunting oleh Nakula dan Sadewa.
Basudewa

Grafis Wayang Prabu Basudewa gagrak Surakarta
Prabu Basudewa adalah raja Mandura,Kerajaan ini sebelumnya bernama Boja.Basudewa mewarisi tahta kerajaan ini dari ayahnya,yaitu Prabu Basukunti atau Kuntiboja.Ibu Basudewa bernama Dewi Bandondari,kakaknya bernama Dewi Sruta,adiknya tiga orang yaitu Aryaprabu Rukma,Ugrasena,dan Dewi Prita alias Kunti Nalibrata.

Wayang Kulit Prabu Basudewa gagrak Surakarta
Istri Prabu Basudewa ada tiga orang,yang pertama bernama Dewi Maerah yang terlibat skandal memalukan dengan Prabu Gorawangsa,raja raksasa dari Guwabarong dan melahirkan anak bernama Kangsa.Istri yang kedua bernama Dewi Mahindra yang melahirkan anak kembar bernama Kakrasana dan Narayana.Kakrasana kelak menggantikan kedudukan ayahnya menjadi raja bergelar Prabu Baladewa sedangkan Narayana menjadi raja Dwarawati bergelar Prabu Kresna.Dari istri ketiga bernama Dewi Badraini memperoleh anak perempuan bernama Bratajaya alias Wara Subadra yang kelak diperistri oleh Arjuna.

Wayang Kulit Ukur Basudewa karya Sigit Sukasman
Dewi Maerah,istri pertama,karena terlibat skandal yang memalukan dengan Prabu Gorawangsa,raja raksasa dari Kerajaan Gowabarong.Walaupun perselingkuhan ini bukan semata-mata kesalahan Dewi Maerah,demi martabat raja dan kerajaan Mandura,Dewi Maerah terpaksa dihukum mati.Namun adik Basudewa,yakni Haryaprabu Rukma yang ditugasi membunuh Dewi Maerah tidak sampai hati melaksanakan hukuman mati itu,setelah tahu bahwa Dewi Maerah mengandung.

Wayang Kulit Prabu Basudewa gagrak Jogjakarta
Akhirnya Dewi Maerah hanya ditinggalkan sendiri di tengah hutan.Wanita malang itu lalu ditolong oleh seorang pertapa berujud raksasa bernama Resi Anggawangsa.Kelak Dewi Maerah melahirkan seorang bayi berwajah raksasa bernama Kangsa.Sesudah melahirkan,Dewi Maerah meninggal dunia.Bayi itu dirawat,dipelihara dan dididik dengan penuh kasih sayang oleh Resi Anggawangsa.Setelah dewasa datang ke Mandura dan minta diakui sebagai anak Basudewa.Tuntutan Kangsa dikabulkan,Basudewa bahkan mengangkatnya menjadi raja muda di Sengkapura yang masih termasuk wilayah Mandura.

Wayang Kulit Prabu Basudewa gagrak Surakarta
Tetapi kebaikan hati Basudewa ternyata berbuah pahit.Pada suatu saat Kangsa datang ke Mandura menuntut agar diakui sebagai putra mahkota Kerajaan Mandura.Ia menantang Basudewa untuk mengadu jago dengan kerajaan sebagai taruhannya.Usaha Kangsa untuk merebut tahta Mandura akhirnya digagalkan oleh Kakrasana dan Narayana dengan bantuan Bima serta Arjuna.Peristiwa percobaan kudeta itu dikisahkan dalam lakon Kangsa Adu Jago.

Wayang Kulit Raden Basudewa muda gagrak Jogjakarta
Namun selain yang empat orang itu Prabu Basudewa sebenarnya mempunyai anak gelap yang lahir dari seorang wanita penghibur bernama Ken Sayuda(Nyai Segopi).Anak gelapnya ini bernama Udawa,yang kelak menjadi patih di kerajaan Dwarawati,ketika Narayana menjadi raja di negeri itu.
Basukarna

Grafis Wayang Basukarna gagrak Surakarta
Basukarna yang lebih terkenal dengan sebutan Adipati Karna adalah lawan utama Arjuna dalam Baratayuda.Padahal kedua ksatria itu sama-sama putra Dewi Kunti.

Grafis Wayang Karna gagrak Jogjakarta
Basukarna merupakan tokoh wayang yang otodidak,berjuang sendiri tanpa mengandalkan bantuan keluarga.Ia juga menjadi perlambang karakter manusia yang tahu balas budi,sekaligus rela berkorban bagi menangnya kebenaran,walaupun untuk itu ia harus merelakan jiwa bahkan nama baiknya.

Grafis Wayang Karna dengan senjata Kunta gagrak Surakarta
Basukarna adalah anak buangan.Ibunya adalah Dewi Kunti alias Dewi Prita,putri bungsu raja Mandura,Prabu Basukunti.Waktu masih berusia remaja,Dewi Kunti mencoba-coba menggunakan aji Adityarhedaya,yakni ilmu untuk mendatangkan seorang dewa yang dikehendakinya.Ilmu ini dipelajarinya dari gurunya,Resi Druwasa,yang sengaja didatangkan Prabu Basukunti untuk mendidik Dewi Kunti.

Wayang Kulit Adipati Karna gagrak Jogjakarta
Dewi Kunti mempunyai kebiasaan buruk,sering bangun kesiangan.Manakala hari telah terang dan matahari sudah naik ia masih tergolek di tempat tidurnya.Sinar terang matahari yang masuk ke kamarnya membuatnya kagum.Tanpa sadar ia mengamalkan ilmu ajaran gurunya itu.Ternyata ilmu Adityarhedaya itu benar-benar ampuh.Dengan membaca mantranya,Dewi Kunti berhasil mendatangkan Batara Surya.Kedatangan Batara Surya membuat Dewi Kunti akhirnya mengandung,padahal ia masih gadis.

Wayang Ukur Basukarna karya Ki Sukasman
Setelah Prabu Kuntiboja mengetahui perihal kehamilan putrinya,ia amat marah dan segera memanggil Resi Druwasa.Gurunya ini dipersalahkan telah mengajarkan ilmu Adityarhedaya pada gadis yang belum dewasa.Resi Druwasa mengaku bersalah dan akan menjamin keperawanan Dewi Kunti.Tetapi pertapa ini juga menjelaskan kelak ilmu ini akan diperlukan oleh Dewi Kunti.Dengan ilmunya yang tinggi,sesudah masa kehamilan yang dirasa cukup,Resi Druwasa mengeluarkan jabang bayi yang dikandung melalui telinga Dewi Kunti.Alasannya ilmu itu masuk dan diresapi oleh Dewi Kunti melalui telinganya.Itulah sebabnya anaknya ini kemudian diberi nama Karna yang artinya telinga.Dalam pewayangan juga disebut Suryaputra atau Suryatmaja,karena anak ini lahir dari hasil pertemuan ibunya dengan Batara Surya.

Grafis Wayang Suryatmaja gagrak Surakarta
Setelah lahir,Prabu Basukunti segera memerintahkan agar bayi itu dibuang.Maka bayi itupun ditaruh dalam sebuah peti dan dihanyutkan di sungai Gangga.Sebelum bayinya dibuang,Dewi Kunti sempat memperhatikan di telinga bayi itu terdapat Anting Mustika yang memancarkan sinar kemilau.

Kisah Pertemuan Dewi Kunti dengan Batara Surya versi India
Bayi yang malang itu kemudian ditemukan dan dirawat oleh Adirata,seorang sais kereta di Kerajaan Astina.Kebetulan mereka juga tidak punya anak.Bayi itu lalu diaku anak dan dipelihara dengan kasih sayang oleh Adirata dan istrinya yang bernama Nyai Nanda atau Radha.Itulah sebabnya Karna juga disebut dengan nama Rhadea.
Menjelang masa remaja,minat dan semangat Basukarna untuk belajar sangat tinggi.Suatu hari ia memberanikan diri menjumpai Begawan Drona dan minta agar mau menerima dirinya sebagai muridnya.Namun permohonan itu ditolak,karena Drona terikat aturan istana hanya boleh mengajar kepada para pangeran kerajaan Astina,yakni para Pandawa dan Kurawa.Dengan penolakan itu,Basukarna tetap hanya belajar dengan cara mengintip dan mencuri dengar.

Wayang Kulit Adipati Karna gagrak Surakarta
Untuk mengetahui sampai dimana tingkat kemajuan ilmu dan ketrampilan para Pandawa dan Kurawa secara berkala Begawan Drona dan Resi Krepa mengadakan uji ketrampilan bagi mereka.Pada ujian seperti itu ternyata Pandawa selalu lebih unggul.Terutama Arjuna,pada setiap pertandingan selalu mendapat nilai tertinggi.Keunggulan ini membuat Arjuna menjadi sombong.Hal inilah yang membuat Karna merasa kesal hatinya,lalu menantang Arjuna untuk beradu tanding.Tantangan Karna ini ditolak oleh Arjuna yang menganggap tidak pantas seorang anak sais kereta beradu tanding dengan seorang putera raja.Namun peristiwa ini oleh Duryudana dimanfaatkan untuk mempermalukan Pandawa,dengan pengaruh yang dimilikinya,Duryudana mengangkat Karna menjadi adipati di Kadipaten Awangga.
Dengan kedudukan Karna sebagai adipati,tidak ada alasan bagi Arjuna untuk menolak adu tanding dengan Karna.Dan ternyata keduanya sama kuat dan mahir,oleh Resi Drona dinilai kedua-duanya tidak ada yang menang juga tidak ada yang kalah.Dewi Kunti yang menyaksikan pertandingan itu menjadi terkejut akan kemiripan wajah dan gerak-gerik Karna dengan Arjuna selain itu dilihatnya ada pancaran sinar dari Anting Mustika yang dikenakan Karna.Dewi Kunti tercekam oleh perasaan antara yakin dan ragu.Yakin karena dari raut wajah dan bentuk tubuh Karna seolah bayangan dari Arjuna serta Anting Mustika yang dilihatnya,menjadi ragu apakah jika tiba-tiba ia mengakui Karna sebagai anaknya akan membawa dampak yang baik bagi situasi sekarang.

Wayang Kulit Basukarna gagrak Surakarta
Selain berguru dengan cara mencuri dengar dari Begawan Drona,Karna juga berguru pada Rama Bargawa.Untuk berguru pada Rama Bargawa ini,Karna terpaksa harus menyamar sebagai brahmana.Penyamaran ini dilakukan karena Rama Bargawa sangat membenci golongan ksatria.Dari gurunya ini Karna mendapat ilmu Bramastra,yakni ilmu ketrampilan memanah.Namun akhirnya penyamaran ini terbongkar,pada saat Sang Guru tidur di paha muridnya,tiba-tiba ada kalajengking yang menyengat paha Karna,agar tidak mengganggu tidur gurunya,Karna berusaha sekuat tenaga untuk menahan sakit sampai keringatnya bercucuran.Cucuran keringat Karna inilah yang justru membangunkan Rama Bargawa.Sewaktu tahu apa yang terjadi,sadarlah Sang Guru kalau dirinya merasa tertipu,sebab hanya seorang ksatria sajalah yang sanggup menahan sakit sedemikian rupa.Marahlah Rama Bargawa dan keluarlah kutukan kelak waktu perang Baratayuda,pada saat penentuan hidup mati,Karna akan lupa bunyi mantera aji Bramastra.
Basukarna menikah dengan Dewi Surtikanti,putri Prabu Salya,raja Mandaraka.Pernikahan ini sebenarnya tidak disetujui oleh Prabu Salya yang telah merencanakan akan menikahkan Surtikanti dengan Prabu Duryudana.Oleh sebab itu diam-diam Karna memadu kasih dengan Dewi Surtikanti dan bahkan melarikannya yang membuat Prabu Salya terpaksa menikahkan putrinya itu dengan Karna.Sejak itulah timbul kebencian Prabu Salya terhadap menantunya,Karna.Sebagai gantinya,Duryudana kemudian dinikahkan dengan adik Surtikanti yang bernama Banowati.
Karena wajahnya yang mirip dengan Arjuna membuat Batara Narada pernah keliru tatkala akan memberikan senjata Kunta Wijayandanu.Senjata pusaka pemberian dewa itu harusnya diberikan kepada Arjuna untuk memotong tali pusar Gatotkaca yang baru lahir.Arjuna kemudian berusaha merebut kembali senjata Kunta itu,tetapi gagal.Yang berhasil direbut ialah warangka/sarungnya saja.

Wayang Kulit Karna gagrak Surakarta karya Ki Bambang Suwarno
Sebenarnya tiga hari menjelang Baratayuda,Batara Surya telah mengingatkan Karna,suatu saat akan ada seorang brahmana yang merupakan penjelmaan Batara Endra yang akan meminta dua buah pusaka pemberian Batara Surya pada Karna,yaitu Anting Mustika yang berguna mengingatkan Karna bila ada bahaya dan kotang Kerei Kaswargan yang kebal terhadap berbagai senjata apapun.Namun hal ini tidak dihiraukannya,karena bagi Karna siapapun jika dia seorang brahmana yang meminta apapun maka akan dia berikan.Tibalah saat brahmana penjelmaan Batara Endra itu meminta dua pusaka milik Karna yaitu Anting Mustika dan Kotang Krei Kaswaragan.Dua pusaka itu tetap dia berikan kepada sang brahmana.Karena terharu akan ketulusan Karna,membuat Batara Endra mengganti barang yang diambilnya dengan anak panah Wijayacapa.
Dalam Baratayuda,Basukarna sebagai panglima perang di pihak Kurawa pada hari ke-15 berhasil membunuh Gatotkaca dengan senjata Kunta Wijayandanu.Penggunaan senjata pamungkas ini sebenarnya di luar rencananya.Rencananya senjata ini akan digunakan di saat melawan Arjuna,namun karena perintah Duryudana untuk menghadapi amukan Gatotkaca,Karna tidak bisa menolak.Terpaksa Karna menggunakan senjata Kunta untuk menghadapi Gatotkaca.Gatotkaca dapat dikalahkan tetapi dia kehilangan senjata Kunta.Waktu bertanding melawan Arjuna,Karna sudah tidak memiliki senjata andalan.Supaya dirinya sederajat dengan Arjuna,ia minta agar mertuanya,Prabu Salya bersedia menjadi saisnya.Alasannya kereta perang Arjuna dikemudikan oleh Prabu Kresna,raja Dwarawati.Permintaan ini amat menyakitkan hati Prabu Salya,dan langsung mendampratnya sebagai menantu yang tidak tahu diri.Hanya karena bujuk rayu Prabu Duryudana lah akhirnya Prabu Salya akhirnya bersedia.Di medan perang Karna menggunakan kereta perang bernama Jaladara,sedangkan kereta perang Arjuna bernama Jatisura.Pada kesempatan pertama,Basukarna membidikan panah Wijayacapa dibidikan tepat mengenai leher Arjuna,namun pada saat yang tepat Prabu Salya menarik tali kekang kudanya sehingga kereta perang yang dikendarainya menjadi tergoncang,panah Wijayacapa meleset hanya mengenai mahkota gelung Arjuna.Sesaat berikutnya Arjuna melepaskan panah Pasopati dan tepat menebas leher Basukarna.Karna yang berperang dengan sepenuh hati akhirnya gugur sebagai ksatria utama dalam Baratayuda.Ia telah mendarmabaktikan jiwanya pada kerajaan Astina yang telah mengangkat derajatnya,dan ia juga merelakan jiwanya untuk membahagiakan ibunya,Dewi Kunti,ibu yang tidak pernah menyusui,merawat,dan mengasihinya.Karena jika bukan ia yang gugur,maka Arjunalah yang gugur dalam perang tanding ini.Dan bila ini terjadi tentu membuat ibunya akan sangat berduka.
Dari perkawinannya dengan Dewi Surtikanti,Basukarna mendapat dua orang putera yaitu Warsasena dan Warsakusuma.Kelak Warsakusuma kawin dengan Dewi Lesmanawati,putri Prabu Duryudana.
Basukesti

Grafik Wayang Prabu Basukesti gagrak Surakarta
Prabu Basukesti adalah putera Prabu Basumurti.Ia mempunyai anak bernama Basuparicara,yang menjadi raja di Kerajaan Cediwiyasa yang kesaktiannya melebihi ayahnya.Jadi Basukesti adalah kakek Durgandana dan Durgandini.Prabu Basukesti mempunyai dua istri,yaitu Dewi Pancawati dan Dewi Sugandi.Kerajaan Cediwiyasa kelak disebut Wirata.
Batara Basuki

Grafis Wayang Batara Basuki gagrak Surakarta
Batara Basuki kadang disebut Batara Wasu,dikenal sebagai dewa ular juga dewa keselamatan dan harapan.Dewa inilah yang kemudian menitis pada raga Baladewa,raja Mandura,sehingga Baladewa juga mendapat julukan Basukiyana.

Wayang Kulit Batara Basuki gagrak Jogjakarta
Karena itulah Baladewa akhirnya selamat dari pertikaian berdarah perang Baratayuda.Batara Basuki adalah putera Batara Wismanu.
Basukunti

Grafis Wayang Prabu Basukunti gagrak Surakarta
Prabu Basukunti terkadang disebut Prabu Kuntiboja,karena raja Mandura ini nunggak semi nama ayahnya.Kerajaan yang diperintah ayahnya sebelumnya bernama Boja,kemudian diubah namanya dengan nama Mandura.Raja ini kurang memperhatikan putra-putrinya sehingga sering terjadi skandal diantara mereka.
Dari permaisurinya yang bernama Dewi Bandondari,mempunyai lima orang anak,yaitu Dewi Sruta,Basudewa,Haryaprabu Rukma,Ugrasena,dan Kunti.Dewi Sruta setelah dewasa diperistri oleh Prabu Damagosa,raja Cedi.Dewi Sruta waktu remaja mempunyai kebiasaan jelek suka mengintip.Ia pernah mengintip Begawan Hudaya ketika mandi di telaga,karena ketahuan,oleh Sang Begawan,Dewi Sruta dikutuk kelak anaknya akan bermata tiga,dan berkaki lemas seperti ular.Basudewa,Aryaprabu Rukma,dan Ugrasena masing-masing membuat skandal dengan seorang wanita bernama Ken Sayuda.Dari masing-masing pangeran itu Ken Sayuda mendapat seorang anak.Sedangkan Dewi Kunti membuat skandal hamil sebelum bersuami.Bayi yang lahir dari hubungannya dengan Batara Surya itu,atas perintah Prabu Basukunti akhirnya dibuang di sungai.Bayi malang itu kelak bernama Adipati Karna.
Basupati

Grafis Wayang Prabu Basupati gagrak Surakarta
Prabu Basupati atau Basuparicara adalah raja Cediwiyasa,putera Prabu Basukesti.Permaisurinya bernama Dewi Girika,seorang wanita cantik yang lahir dari perkawinan Gunung Kolagiri dan Sungai Suktimati.Sang Prabu sangat mencintai istrinya,sehingga setiap kali pergi meninggalkan istana,ia selalu rindu pada Dewi Girika.
Pada suatu hari ketika sedang berburu di hutan,Basupati teringat akan istrinya yang ditinggalkan di istana.Karena tidak dapat menahan rasa rindu dan birahinya,jatuhlah kama(benih) Prabu Basupati.Raja sakti yang sanggup berbicara dalam bahasa binatang ini,lalu menampung benihnya pada selembar daun talas dan kemudian membungkusnya.Ia kemudian menyuruh seekor burung gagak untuk mengantarkan benih ini pada istrinya di istana.Terbanglah burung gagak itu sambil membawa bungkusan yang berisi kama Prabu Basupati di paruhnya.Dalam perjalanan burung gagak itu diserang oleh burung elang.Untuk mempertahankan diri,terpaksa burung gagak melepaskan bungkusan itu,sehingga akhirnya jatuh ke permukaan sungai Yamuna.Bungkusan yang berisi benih Basupati terapung di sungai lalu ditelan seekor ikan raksasa yang ternyata penjelmaan Dewi Adrika.
Akibatnya ikan betina itu akhirnya hamil,dan melahirkan bayi kembar yang diberi nama Durgandana dan Durgandini.Ikan besar itu pun berubah ujud menjadi bidadari lagi,sebelum berangkat ke kahyangan,Dewi Adrika menitipkan kedua bayinya pada seorang pendayung,bernama Dasabala,dengan pesan agar diantarkan kepada Prabu Basupati.Durgandana kelak menjadi raja Wirata bernama Prabu Matswapati dan Dewi Durgandini kelak menjadi permaisuri raja Astina,Prabu Sentanu.
Batara Guru

Grafis Wayang Batara Guru gagrak Surakarta
Batara Guru di pewayangan,adalah pemuka para dewa yang memerintah kahyangan,yaitu alam yang dihuni para dewa.Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa,Batara Guru dilukiskan bertangan empat,bertaring kecil,berleher biru,kakinya apus,dan hampir selalu mengendarai Lembu Andini.Ia juga dikenal dengan nama lain yaitu,Sang Hyang Manikmaya,Sang Hyang Caturbuja,Sang Hyang Otipati,Sang Hyang Jagadnata,Sang Hyang Nilakanta,Sang Hyang Trinetra,dan Sang Hyang Girinata.Batara Guru bersaudara dua orang yaitu Sang Hyang Maha Punggung dan Sang Hyang Ismaya.

Grafis Wayang Batara Guru gagrak Jogjakarta
Ayah ketiga bersaudara ini adalah Sang Hyang Tunggal,ibunya bernama Dewi Rekatawati.Suatu saat Dewi Rekatawati melahirkan anak berujud sebutir telur yang memancarkan cahaya terang.Dengan kesaktian yang dimilikinya Sang Hyang Tunggal mengubah ujud telur itu.Kulit telurnya berubah ujud menjadi Hyang Maha Punggung,dia dianggap sebagai anak sulung,putih telurnya berubah ujud menjadi Hyang Ismaya,dianggap sebagai anak kedua.Dan kuning telurnya berubah ujud menjadi Hyang Manikmaya,dianggap sebagai anak bungsunya.Kedua kakaknya diberi tugas menjadi pamong umat manusia di dunia,sedangkan Hyang Manikmaya bertugas mengepalai para dewa di kahyangan.

Grafis Wayang Batara Guru gagrak Cirebon
Mengenai pembagian tugas ini diceritakan bahwa pada mulanya ketiga bersaudara itu saling memperebutkan hak menjadi penguasa di alam kahyangan.Karena tidak ada satupun dari mereka yang mau mengalah,Sang Hyang Tunggal lalu memberi syarat,siapa diantara ketiganya yang sanggup menelan gunung Mahameru,lalu memuntahkannya kembali dalam keadaan utuh,dialah yang berhak memerintah kahyangan.Syarat yang berat ini disetujui ketiga bersaudara itu.

Wayang Kulit Batara Guru triwikrama
Sebagai anak yang dianggap sulung,Sang Hyang Maha Punggung memperoleh kesempatan pertama untuk membuktikan kesaktiannya.Ia mencoba menelan gunung Mahameru,dikerahkannya segala kesaktian yang dimilikinya.Tetapi sampai mulutnya robek,gunung itu tidak dapat masuk ke dalam mulutnya.Akhirnya terpaksa ia menyerah kalah.

Wayang Kulit Batara Siwa gagrak Jawa Timuran
Giliran kedua,dengan mengerahkan segala kesaktiannnya Sang Hyang Ismaya mencoba menelan gunung Mahameru itu.Ia berhasil,namun ketika berusaha memuntahkannya kembali ia tidak sanggup,lalu dicobanya dikeluarkan lewat jalan anus juga tidak bisa.Gunung itu malahan tetap bersemayam di dalam pantatnya.Akibatnya Sang Hyang Manikmaya tidak mendapat kesempatan mencoba kesaktiannya.Karena itu Sang Hyang Tunggal lalu menetapkan Manikmayalah yang berhak memerintah kahyangan.Keputusan ini diterima baik Hyang Maha Punggung maupun Hyang Ismaya.
Bagi penganut agama Hindu,Batara Guru adalah sebutan lain dari Batara Siwa.Karena agama Hindu yang pertama menyebar ke Indonesia adalah ajaran Resi Agastya dari sekte Syiwa/Siva.Untuk menghormati, resi Agastya juga disebut Batara Guru.

Wayang Golek Sunda Batara Guru
Dalam pewayangan,Batara Guru bukanlah makhluk yang sempurna,seperti juga manusia dan dewa lainnya,ia pun sering berbuat salah.Dalam berbagai lakon,diceritakan beberapa kali Batara Guru tidak dapat mengendalikan emosinya,seperti marah,dendam maupun birahinya.Sehingga tindakannya sering dikoreksi oleh Batara Narada dan juga Ki Lurah Semar.

Wayang Kulit Batara Guru gagrak Surakarta
Batara Guru bertempat tinggal di kahyangan Jonggring Salaka atau Suralaya.Ia beristri Dewi Uma atau Umayi.Dewi Uma yang cantik jelita dan sakti ini pada mulanya tidak bersedia menjadi istri Batara Guru,kecuali apabila Batara Guru berhasil menangkapnya.Mereka pun berkejaran.Berkali-kali Batara Guru berusaha menangkapnya namun berhasil lolos.Gerakan Dewi Uma licin bagai belut,membuat Batara Guru kesulitan menangkapnya.Akhirnya Batara Guru memohon pada kakeknya,Sang Hyang Wenang agar diberi tambahan sepasang tangan lagi yang diharapkan dapat membantu menangkap Dewi Uma.Sesudah tangan Batara Guru menjadi empat,barulah Dewi Uma berhasil ditangkap.Sesuai janjinya,Dewi Uma bersedia menjadi istri Batara Guru.Karena bertangan empat maka Batara Guru juga dipanggil dengan Sang Hyang Caturbuja.

Wayang Kulit Batara Guru gagrak Surakarta
Pada suatu senja,ketika Batara Guru mengajak istrinya,Dewi Uma bercengkerama di atas samodra sambil mengendarai lembu Andini.Timbullah hasrat birahi Batara Guru ingin bercumbu di atas punggung lembu Andini,namun ditolak oleh istrinya.Penolakan istrinya itu membuat Batara Guru merasa kesal.Pada peristiwa itu jatuhlah kama benih Batara Guru ke dasar samodra.Pada waktu mereka pulang ke kahyangan,Batara Guru bertengkar dengan istrinya,keluarlah kata-kata umpatan pada Dewi Uma.Dengan kesal Dewi Uma berkata kalau perkataan seperti itu hanya pantas diucapkan oleh makhluk bertaring.Karena sakti,perkataan Dewi Uma menjadi kenyataan,saat itu juga gigi taring Batara Guru tumbuh memanjang.Batara Guru juga menjadi semakin marah dan mengutuk istrinya menjadi raksasa.Akhirnya keduanya merasa menyesal,Dewi Uma kemudian diganti nama menjadi Batari Durga.
Sementara itu kama benih Batara Guru yang jatuh ke dasar samodra menjelma menjadi makhluk ganas yang mengerikan.Makhluk ganas itu mengamuk sampai ke kahyangan,ingin bertemu dengan Batara Guru.Semua dewa kahyangan tidak sanggup mencegahnya.Makhluk ganas itu mengajukan permintaan pada Batara Guru,yaitu minta diakui sebagai anak Batara Guru,minta nama dan minta diberi istri.Akhirnya oleh Batara Guru,permintaanya dikabulkan.Makhluk ganas itu diberi nama Batara Kala,diakui sebagai anak,dan Batari Durga ditunjuk menjadi istrinya.Tetapi yang menjadi istri Batara Kala adalah jasmani Batari Durga,sebab jiwanya ditukar dengan jiwa Batari Gendeng Permoni,seorang bidadari cantik.Dengan demikian Batara Guru tetap beristri wanita cantik.

Wayang Batara Guru wanda Mendung karya Ki Bambang Soewarno
Batari Durga yang jiwanya telah diganti dengan jiwa Batari Permoni dan Batara Kala diperintahkan menghuni Setra Gandamayit.Mereka diberi kekuasaan memerintah makhluk golongan jin,hantu,gandarwa dan sejenisnya.
Dalam menjalankan pemerintahan di kahyangan Batara Guru dibantu oleh Sang Hyang Kanekaputra atau Batara Narada.Dalam pewayangan Batara Narada sering bertindak lebih bijaksana dibanding dengan Batara Guru.Sebagai pemuka dewa,Batara Guru sering bertindak menuruti nafsu.Ia mudah tergiur wanita cantik,mudah marah,mudah terbujuk,mudah iri hati,padahal ia memiliki kesaktian yang tinggi.Dalam berbagai tindakan yang salah,Batara Guru sering mendapat teguran dari Semar.

Wayang Kulit Batara Guru
Pada Wayang Kulit Purwa,Batara Guru dilukiskan bertangan empat,dua tangan diantaranya menggenggam senjata.Ia mempunyai tiga mata,satu diantaranya berfungsi sebagai senjata yang dapat memancarkan sinar panas yang menghanguskan.Karena matanya tiga,Batara Guru disebut juga Sang Hyang Trinetra.

Wayang Kulit Batara Guru gagrak Jogjakarta
Anak-anak Batara Guru diantaranya ialah Batara Sambo,Batara Brama,Batara Endra,Batara Bayu,Batara Wisnu,Batara Kala,Batara Sakra,Batara Asmara,Batara Mahadewa dan Anoman.Menurut pewayangan warna biru pada leher Batara Guru disebabkan karena pernah meminum racun.Waktu itu dalam usahanya mencari air kehidupan,Tirta Amerta,tanpa sengaja Batara Guru meminum racun yang dikiranya Tirta Amerta.Namun sebelum tertelan,Batara Guru sempat memuntahkannya.Racun pekat itu menyebabkan lehernya berwarna biru.Itulah sebabnya Batara Guru juga disebut Sang Hyang Nilakanta,nila artinya biru dan kanta artinya leher.Kedua kakinya cacat akibat perkelahiannya dengan Kala Mercu,seorang raja gandarwa dari Nusa Tembini.Waktu itu Batara Guru terlempar jatuh sampai di gunung Tengguru,kakinya tergencet dan menjadi cacat.Itulah sebabnya Batara Guru selalu digambarkan mengendarai Lembu Andini.Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa,Batara Guru dirupakan dalam tiga wanda yaitu wanda Reca,Rama,dan Karna.
Batara Kala

Wayang Golek Sunda Batara Kala
Batara Kala anak Batara Guru yang keberadaannya tidak direncanakan dan tak terduga.Ia terjadi dari kama benih Batara Guru yang tidak tersalurkan secara semestinya,yang jatuh ke samudera.
Ini terjadi ketika pada suatu saat Batara Guru bertamasya bersama istrinya,Dewi Uma,menunggang lembu Andini mengarungi angkasa.Di atas Nusa Kambangan,dalam keindahan pemandangan senja hari,Batara Guru tergiur melihat betis istrinya.Ia lalu merayu Dewi Uma agar mau melayani hasratnya saat itu juga,di atas punggung Andini.Tetapi istrinya menolak.Selain karena malu,Dewi Uma menganggap perbuatan semacam itu tidak pantas dilakukan.

Grafis Wayang Batara Kala gagrak Cirebon
Karena gairah Batara Guru tak tertahankan lagi,akhirnya jatuhlah kama benihnya ke samudera.Seketika itu juga air laut bergolak hebat.Benih kama Batara Guru menjelma menjadi makhluk yang mengerikan.Dengan cepat makhluk itu tumbuh menjadi besar.Ia menyerang apa saja,melahap apa saja.Untuk meredakan kekalutan yang terjadi,Batara Guru memerintahkan beberapa orang dewa membasmi makhluk itu.Namun dewa-dewa itu tak ada yang mampu menghadapinya.Mereka bahkan lari kembali ke kahyangan.Makhluk ganas itu segera mengejar para dewa sampai ke Kahyangan Suralaya,tempat kediaman Batara Guru.Setelah berhadapan dengan Batara Guru,makhluk itu menuntut penjelasan,ia anak siapa,untuk kemudian minta nama dari ayahnya.Batara Guru segera mengakuinya sebagai anaknya karena kesalahannya.Dan memberinya nama Batara Kala.
Setelah mendapat nama,Batara Kala lalu minta diberi istri dan tempat tinggal.Maka Batari Durga lalu diperintahkan menjadi istri Batara Kala.Mereka diberi tempat di Setra Gandamayit,di telatah hutan Krendawahana.Perkawinan ini membuahkan dua anak,yang sulung bernama Kala Gotana berujud raksasa mengerikan,sedangkan anaknya yang kedua bernama Dewasrani yang tampan.

Grafis Wayang Batara Kala gagrak Surakarta
Karena Batara Kala makhluk yang amat rakus dan ganas,Batara Guru khawatir kalau-kalau manusia di bumi akan punah dimangsanya.Oleh sebab itu Batara Guru berusaha mengurangi kerakusan Batara Kala.Dengan cara memotong kedua taring dan lidah Batara Kala yang mengandung bisa.Oleh Batara Guru,potongan lidah Batara Kala dicipta menjadi senjata ampuh berupa anak panah yang diberi nama Pasopati.Kelak anak panah itu menjadi milik Arjuna.Sedang taring kirinya menjadi keris bernama Kaladite,yang kemudian menjadi milik Adipati Karna.Potongan taring kanan diubah menjadi keris bernama Kalanadah.Keris ini dianugerahkan kepada Arjuna,yang kemudian oleh Arjuna diberikan kepada Gatotkaca sebagai kancing gelung.
Batara Guru juga memberikan ketentuan hanya anak sukerta saja yang boleh dimangsa Batara Kala.Namun anak sukerta itupun tidak boleh dimangsa bilamana si anak telah diruwat oleh orang tuanya.Diantara sebagian anak yang tergolong sukerta ialah ontang-anting(anak tunggal),kedana-kedini(dua bersaudara satu laki-laki satu perempuan),uger-uger lawang(dua bersaudara laki-laki semua),kembang sepasang(dua perempuan semua),sendang kaapit pancuran(laki-perempuan-laki),pancuran kaapit sendang(perempuan-laki-perempuan),sarimpi(empat perempuan semua),pandawa(lima anak laki-laki semua),pandawi(lima anak perempuan semua),dan lain-lain.
Batari Durga

Wayang Kulit Batari Durga gagrak Surakarta
Batari Durga pada mulanya adalah istri Batara Guru,waktu ia masih berwajah cantik dan bernama Dewi Uma atau Dewi Umayi,karena adanya peristiwa di atas Nusakambangan yang menyebabkan pertengkaran antara Batara Guru dengan istrinya.

Wayang Kulit Batari Durga gagrak Jawa Timuran
Penolakan istrinya untuk bermesraan di tempat terbuka di atas punggung lembu Andini,menyebabkan Batara Guru kesal dan marah besar.Mereka saling mengutuk,Batara Guru menjadi bertaring panjang dan Dewi Uma berubah menjadi raseksi(raksasa perempuan).

Wayang Kulit Batari Durga gagrak Surakarta
Setelah berubah menjadi raksasa,Batara Guru kemudian menukar badan jasmani Dewi Uma dengan tubuh Sang Hyang Permoni yang cantik jelita tetapi berhati dengki dan culas.Sedangkan jiwa Sang Hyang Permoni dimasukkan ke tubuh Dewi Uma yang telah berujud raksasa itu,dan diberi nama Batari Durga.Kemudian Batari Durga diperistri oleh Batara Kala dan tinggal di Kahyangan Setra Gandamayit di hutan Krendawahana.Di tempat ini mereka berkuasa atas segala makhluk halus seperti jin,gandarwa,hantu dan lain-lain.

Grafis Wayang Batari Durga gagrak Surakarta
Dalam pewayangan,Batari Durga menjadi sesembahan oleh mereka yang memiliki sifat suka mengambil jalan pintas.

Wayang Kulit Batari Durga gagrak Surakarta
Kelak menjelang pecahnya Baratayuda,Dewi Kunti pernah meminta pertolongan Batari Durga agar membinasakan gandarwa sakti,Kalantaka dan Kalanjaya yang mengancam keselamatan para Pandawa karena mereka memihak Kurawa.Batari Durga bersedia memenuhi permintaan Dewi Kunti,dengan syarat Dewi Kunti harus menyerahkan Sadewa sebagai kurban.Dewi Kunti tidak sanggup memenuhi permintaan Batari Durga itu.

Wayang Kulit Batari Durga
Namun ternyata akhirnya Batari Durga dapat pulih kembali menjadi bidadari cantik setelah diruwat oleh Sadewa,salah satu si kembar dari Pandawa.Sadewa sanggup meruwat Batari Durga setelah tubuhnya disusupi oleh Batara Guru.Peristiwa ini dikisahkan dalam lakon Sudamala atau Murwakala.Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa,tokoh Batari Durga digambarkan dengan tiga wanda yaitu,wanda Gidrah,Wewe,dan Gedrug.
Batik Madrim

Wayang Kulit Madya Patih Batik Madrim gagrak Surakarta
Batik Madrim adalah patih Prabu Anglingdarma dari Kerajaan Malawapati dalam cerita Wayang Madya.
Batara Bayu

Grafis Wayang Batara Bayu gagrak Surakarta
Batara Bayu adalah anak Batara Guru dengan Dewi Uma.Dalam pewayangan,Batara Bayu dikenal sebagai dewa yang menguasai angin.Itulah sebabnya Batara Bayu juga disebut Batara Anila atau Batara Maruta.Kata bayu dan anila ,dan maruta berarti angin.

Wayang Kulit Batara Bayu gagrak Surakarta
Dewa inilah ayah Bima yang sesunggguhnya.Itulah sebabnya Bima juga disebut Bayuputra,Bayusiwi,Bayutanaya atau Bayusuta.Kesemua nama itu berarti putera Bayu.Sebagai ayah Bima,Batara Bayu juga membantu memecahkan bungkus yang menyelimuti Bima ketika bayi.Pada waktu itu Batara Bayu merasuk ke dalam tubuh Gajah Sena untuk memecahkan kulit pembungkus bayi Bima dan menerbangkannya sampai ke pesisir Sindureja.

Wayang Golek Sunda Batara Bayu
Batara Bayu juga pernah menjelma menjadi Rukmakala,untuk menguji tekad Bima ketika disuruh gurunya,Resi Drona,untuk mencari air suci Tirta Perwitasari.

Wayang Kulit Batara Bayu gagrak Jogjakarta
Kahyangan tempat tinggal Batara Bayu di Panglawung.Istrinya bernama Dewi Sumi.Mempunyai empat anak yaitu,Batara Sumarma,Batara Sudarma,Batara Sangkara,dan Batara Bismakara.

Wayang Kulit Batara Bayu gagrak Surakarta
Ada sembilan makhluk yang dapat menguasai angin,yaitu Batara Bayu,Bima,Anoman,Wil Jajahwreka,Liman Situbanda,Nagakuwara,Garuda Mahambira,Begawan Maenaka dan Dewa Ruci.Tanda-tanda penguasa angin adalah berkain Dodot Poleng Bang Bintulu Aji dan berkuku Pancanaka.
Bilung
Grafis Wayang Bilung gagrak Surakarta
Bilung adalah rekan Togog Tejamantri.Kedua tokoh ini mengabdi pada tokoh-tokoh jahat,biasanya dari golongan raksasa atau raja sabrangan.Pada awalnya mereka memberi nasehat dan petuah pada majikannya yang jahat,tapi selalu sia-sia.Jika nasehatnya diabaikan,mereka malahan memberi saran-saran yang pada akhirnya justru akan menjerumuskan.

Wayang Kulit Bilung gagrak Surakarta
Tokoh Bilung digambarkan dengan tingkah laku dan wajah yang menyebalkan,hidungnya pesek,rambut keriting tapi tumbuhnya tidak rata,karena di kepalanya banyak kudis.Suaranya agak sengau dan selalu merengek-rengek,tidak enak didengar.Nama lain Bilung ialah Tokun,Sarahita,atau Sarawita.Pada Wayang Kulit Parwa Bali,ada tokoh panakawan yang serupa dengan Bilung disebut Sengut.

Wayang Kulit Bilung gagrak Jogjakarta
Karena Bilung selalu bertingkah laku angkuh dan sombong,ia sering dimusuhi Petruk bila mereka bertemu.Pertengkaran mereka selalu diakhiri dengan tangis Bilung karena tokoh ini sangat cengeng.Dalam pewayangan,Bilung dikenal sebagai tokoh panakawan dari negeri sabrang,maksudnya dari luar Jawa.Itulah sebabnya dalam berbicara Bilung selalu banyak menyelipkan kata-kata Melayu.

Wayang Ukur Bilung karya Sigit Sukasman
Pada mulanya pada pedalangan zaman Mataram Surakarta sekitar abad ke-19,Sarahita atau Sarawita adalah panakawan pasangan Caturgora,yang digunakan sebagai pamong khusus bagi tokoh sabrangan.Sedangkan Togog dan Bilung adalah pamong atau panakawan bagi tokoh jahat di pulau Jawa.Menurut pedalangan gaya Jawa Timuran,asal-usul Bilung yaitu dari gigi Sang Hyang Punggung atau Togog yang pecah atau cuwil pada waktu mencoba menelan gunung Saloka.
Bima

Grafis Wayang Bima wanda Lindhu gagrak Surakarta
Bima anak kedua Dewi Kunti.Ayahnya,Prabu Pandu Dewanata,raja Astina.Ia merupakan orang kedua dalam keluarga Pandawa.Sebenarnya Bima adalah anak kandung Batara Bayu,dewa penguasa angin.
Beberapa waktu sesudah Prabu Pandu menikah dengan Dewi Kunti dan Dewi Madrim,ia dikutuk oleh seorang brahmana bernama Resi Kimindama.Kutukannya berisi kalau sampai Prabu Pandu menjalankan kewajibannya sebagai suami,maka saat itu juga ajalnya akan tiba.Karena kutukan itu,Prabu Pandu tidak berani menyentuh istrinya.Namun sebagai raja,ia harus mempunyai keturunan sebagai pewaris tahta.Prabu Pandu kemudian mengijinkan Dewi Kunti menerapkan ajian Adityarhedaya,ajaran Resi Druwasa,untuk memanggil para dewa.

Grafis Wayang Bima wanda Lintang gagrak Surakarta
Beberapa waktu kemudian,Dewi Kunti atas ijin Prabu Pandu memanggil Batara Bayu.Dari dewa penguasa angin ini,Dewi Kunti mendapat putera yang diberi nama Bima.Bima berperwakan tinggi,besar,gagah,berkumis,dan berjenggot.Ia mempunyai kuku panjang dan kuat,yang menjadi senjata alamiah,disebut kuku Pancanaka.Pakaiannya juga khas seperti halnya putera angkat Batara Bayu lainnya,yakni berkain Poleng Bang Bintulu Aji.Kepada siapa pun Bima tidak pernah memakai bahasa krama inggil atau berbahasa halus.Ia selalu berbicara dengan bahasa ngoko atau bahasa lugas sederajat,bahkan juga kepada para dewa.Tapi khusus kepada Dewa Ruci,Bima mau menggunakan bahasa krama inggil.

Grafis Wayang Bima gagrak Jogjakarta
Bima dianggap mewakili karakter seorang yang jujur,lugas,tidak pandang bulu,ulet,tidak pernah putus asa,spontan,dan tidak pernah menghindari tantangan.Namun Bima pun dikenal sebagai ksatria yang tidak mengenal belas kasihan pada musuhnya yang jahat.Kepada Dursasana dan Sengkuni yang dibencinya,Bima melampiaskan dendamnya dalam Baratayuda.Setelah dibunuh,Dursasana dirobek dadanya dan dihirup darahnya,sedangkan Patih Sengkuni selain dipatahkan kaki dan tangannya,disobek kulitnya dan dirobek mulutnya.Peristiwa ini juga bukti terlaksananya kutukan Patih Gandamana terhadap Sengkuni yang telah memfitnahnya.

Grafis Wayang Bima gagrak Cirebon
Sejak kelahirannya,Bima dalam keadaan terbungkus kulit tebal.Berbagai senjata digunakan untuk memecahnya,namun tidak ada satupun yang berhasil.Atas petunjuk Batara Narada,seekor gajah bernama Sena disuruh memecahkan pembungkus itu.Saat itu juga,Batara Bayu merasuk ke tubuh Gajah Sena.Bayi Bima yang terbungkus kulit tebal itu lalu diinjak-injak dan ditendang Gajah Sena sehingga akhirnya pembungkus itu bisa robek.Begitu keluar dari pembungkusnya,bayi Bima langsung menyerang Gajah Sena.Sekali pukul gajah itu mati,lalu menghilang musnah dan menyatu dalam tubuh Bima.Itulah sebabnya ia juga disebut Bimasena,Bratasena atau Sena aja.Kulit bungkusnya lalu diterbangkan angin,akhirnya jatuh ke pangkuan Begawan Sapwani.Oleh Begawan Sapwani,kulit bungkus itu diubah ujudnya menjadi seorang bayi.Setelah besar,bayi itu tumbuh menjadi ksatria gagah perkasa dengan bentuk badan dan raut muka yang mirip dengan Bima,yang diberi nama Jayadrata.

Wayang Golek Purwa Sunda Bima
Pada masa kecilnya,ketika para Pandawa masih berkumpul bersama para Kurawa di kerajaan Astina,Bima sudah menjadi saingan Duryudana.Mereka sering berkelahi.Pada suatu saat,atas hasutan patih Sengkuni,para Kurawa pernah meracuni Bima.Tetapi setelah kena racun,ternyata Bima tidak mati.Ia hanya tak sadarkan diri.Para Kurawa yang mengira Bima telah mati,beramai-ramai membuangnya di sumur Jalatunda yang beracun.Di sumur itu,tubuh Bima digigit puluhan ular berbisa.Namun bisa ular itu tidak membunuhnya,malah menambah kesaktiannya.Berkat bisa ular itu,Bima malah kebal terhadap racun apa pun.Itu semua juga berkat pertolongan Batara Dawung Nala.Kemudian Batara Dawung Nala memberi nama baru Bima dengan sebutan Bondan Peksajandu.

Wayang Kulit Parwa Bali Bima
Kebulatan hati dan sifatnya yang pantang menyerah dibuktikan Bima waktu Resi Drona menyuruhnya mencari Tirta Perwitasari.Selain menjunjung tinggi perintah gurunya,Bima sendiri memang bertekad tidak akan berhenti berusaha sebelum apa yang dicarinya diperoleh.Dalam pencariannya itu,Bima harus menghadapi banyak halangan.Semua dihadapinya.Di antaranya di Gunung Candramuka ia harus melawan dua raksasa sakti bernama Rukmuka dan Rukamakala.Setelah dua raksasa itu berhasil dikalahkan,mereka berubah ujud menjadi Batara Endra dan Batara Bayu.Sewaktu harus pergi ke Teleng Samudra,ia dicegat seekor ular naga bernama Nawawata atau Nemburnawa,dengan kuku Pancanaka naga itu dibunuhnya.Akhirnya Bima berjumpa dengan Dewa Ruci,dewa kerdil yang amat mirip dengan dirinya.Dewa Ruci menyuruh Bima masuk ke dalam telinganya.Walaupun tidak masuk akal,karena Bima percaya,ia menurutinya.Di dalam tubuh Dewa Ruci,Bima justru dapat menyaksikan alam semesta.Dewa Ruci kemudian memberi berbagai wejangan berharga yang bermanfaat untuk mengenal diri pribadinya dan mengerti akan makna hidup.

Wayang Kulit Bima koleksi Ki Enthus
Pada masa remaja,Bima menyelamatkan ibu dan saudara-saudaranya dari amukan api,ketika para Kurawa mencoba membunuh mereka atas hasutan patih Sengkuni.Waktu itu mereka sedang menginap di Bale Sigala-gala.Pada waktu itu Bima diperingatkan oleh Yama Widura,paman dari pihak ayahnya bahaya yang akan terjadi.Pada waktu api berkobar,Bima menggendong ibu dan membimbing saudara-saudaranya berlari mengikuti garangan putih(semacam musang) masuk ke dalam liang.Liang itu ternyata jalan menuju Kahyangan Saptapertala,tempat Sang Hyang Antaboga.Di sini Bima bertemu dengan Dewi Nagagini,puteri Sang Hyang Antaboga.Mereka menikah dan membuahkan anak,yang diberi nama Antareja.

Grafis Wayang Bima gagrak Banyumas
Sesudah menikah Bima dengan Dewi Nagagini,para Pandawa dan Dewi Kunti meneruskan pengembaraanya di hutan.Disini mereka bertemu dengan Prabu Arimba yang hendak membalas dendam kematian ayahnya,Prabu Trembaka yang tewas terbunuh oleh Prabu Pandu Dewanata.Bima dan Arimba berkelahi selama berhari-hari.Dewi Arimbi yang menyaksikannya menjadi kagum dan akhirnya jatuh cinta pada Bima.Ia berusaha melerai,namun tidak berhasil.Arimba akhirnya tewas.Sebelum tewas,Arimba berpesan merestui cinta adiknya pada Bima.Selain itu Arimba juga mewariskan tahta Pringgandani pada Dewi Arimbi.Pada awalnya cinta Arimbi bertepuk sebelah tangan.Berkat Dewi Kunti,ujud Arimbi yang semula raseksi menjadi gadis cantik yang bertubuh tinggi besar.Bima akhirnya menikah dengan Arimbi dan mendapatkan seorang anak bernama Gatotkaca.

Tokoh Bima dalam Wayang Orang
Suatu ketika,dalam pengembaraan mereka di tengah hutan,Nakula dan Sadewa menangis karena kelaparan.Dewi Kunti mengutus Bima dan Arjuna untuk mencari makanan.Mereka pergi ke arah yang berbeda.Dalam perjalanan itu Bima berjumpa dengan orang-orang yang sedang mengungsi.Setelah menanyakan sebabnya,Bima tahu bahwa raja negeri itu bernama Prabu Baka,mempunyai kegemaran makan orang.Mendengar hal itu,Bima lalu menawarkan dirinya sebagai santapan Prabu Baka.Pada saat berhadapan dengan Prabu Baka,Bima menantang dan akhirnya dapat membunuhnya.Sebagai rasa terima kasih,rakyat negeri itu menawarkan Bima untuk menjadi raja mereka,namun Bima menolaknya.Dirinya hanya menginginkan dua bungkus nasi untuk adiknya yang sedang kelaparan.Nasi yang dibawa Bima diterima dengan senang hati oleh ibunya,karena nasi itu diperoleh dengan cucuran keringat.Sedangkan nasi yang dibawa oleh Arjuna ditolak ibunya,karena merupakan pemberian orang berdasar belas kasihan semata.

Wayang Kulit Bima gagrak Surakarta
Pada Wayang Parwa Bali,Bima pernah menyelamatkan arwah ayahnya,Pandu Dewanata dan ibu tirinya,Dewi Madrim dari siksaan neraka.Prakarsa itu datangnya dari ibunya,Dewi Kunti.Bima menyanggupinya,dengan ilmu Angkusprana yang dimilikinya dari Batara Bayu,Bima berhasil menghimpun jiwa Dewi Kunti dan keempat saudaranya untuk masuk ke dalam dirinya.Kemudian Bima masuk ke dalam neraka,menyelamatkan Pandu dan Madrim untuk dibawanya ke sorga.Kisah itu terdapat dalam lakon Bima Swarga yang lazim dipentaskan pada upacara kremasi(pembakaran jenazah) atau Pitra Yadnya.

Wayang Kulit Bima gagrak Jogjakarta
Suatu ketika dalam pengembaraanya,sampailah Pandawa ke wilayah Cempalaradya.Meraka mendengar berita tentang adanya sayembara putri Cempala.Bunyi sayembara itu,siapa saja pria yang dapat mengalahkan Patih Gandamana,ia berhak menjadi suami putri raja Cempala yang bernama Dewi Drupadi.Banyak raja dan ksatria yang mengadu nasib namun akhirnya gagal semua,mereka dapat dikalahkan oleh Patih Gandamana.Akhirnya Bima maju ke gelanggang.Dalam mengadu kekuatan,Bima selalu terdesak.Bahkan Bima berhasil diringkus sehingga sulit bergerak.Untuk melepaskan diri dari cengkeraman Gandamana,tanpa sengaja kuku Pancanaka milik Bima menusuk dada Gandamana.Seketika itu juga tubuh Gandamana menjadi kehilangan daya dan terhuyung jatuh.Menjelang ajalnya,Gandamana teringat bahwa menurut suratan takdir,ia hanya bisa mati bilamana dikalahkan oleh salah seorang keluarga Pandawa.Karena itu ia lalu bertanya tentang asal-usul Bima.Setelah tahu siapa Bima,Gandamana lalu mewariskan ilmunya,yakni Aji Wungkal Bener dan Aji Bandung Bandawasa.Dengan ilmu itu,Bima akan memperoleh semangat dan kekuatan berlipat ganda bilamana ia merasa tindakannya benar.Sesudah mengalahkan Gandamana,Bima mengatakan kepada Prabu Drupada bahwa ia mengikuti sayembara itu sebagai wakil kakak sulungnya,Puntadewa.Karena itu menurut pewayangan,yang menikah dengan Dewi Drupadi adalah Puntadewa.Kalau menurut versi Mahabarata,Arjuna lah yang memenangkan sayembara itu.Sayembaranya berbunyi,barangsiapa yang sanggup memanah dengan gendewa pusaka kerajaan Pancala,dialah yang akan dinikahkan dengan Dewi Drupadi.Dan Dewi Drupadi bukan hanya istri Puntadewa,melainkan istri kelima Pandawa.

Wayang Kulit Bima gagrak Jogjakarta
Bima juga pernah menolong Prabu Basudewa dari pemberontakan Kangsa,anak yang lahir dari skandal Dewi Maerah dengan Prabu Gorawangsa.Dalam lakon Kangsa Adu Jago,dengan bantuan Arjuna,Bima berhasil mengalahkan Patih Suratimantra yang terkenal amat sakti dan nyaris tidak bisa mati.Sedangkan Kangsa sendiri mati dibunuh oleh Narayana dan Kakrasana,putra Prabu Basudewa sendiri.Peristiwa inilah yang menumbuhkan persahabatan antara Pandawa dengan Baladewa dan Kresna.

Wayang Kulit Bima gagrak Jogjakarta
Bima juga berjasa pada Prabu Matswapati,raja Wirata.Ketika para Pandawa dan Dewi Drupadi bersembunyi dan menyamar di Wirata,Bima menyamar sebagai pemotong hewan dengan nama Jagal Abilawa.Waktu itu Bima membunuh Rajamala,Rupakenca dan Kencakarupa.Ketiganya adalah ipar Prabu Matswapati sendiri,yang berniat memberontak pada raja.Selain itu Bima dan saudara-saudaranya juga membantu Kerajaan Wirata mengusir bala tentara Astina dan Trigata yang datang menyerang.

Wayang Kulit Bima gagrak Surakarta
Ketika para Pandawa kalah judi melawan Kurawa,Dewi Drupadi mendapat penghinaan yang melampaui batas oleh Dursasana.Dewi Drupadi bersumpah tidak akan menyanggul rambut untuk selamanya sebelum ia berkeramas dengan darah Dursasana.Bima yang menyaksikan kesewenangan itu bersumpah akan membunuh Dursasana dan akan menghirup darahnya.Sumpahnya itu akhirnya terlaksana ketika pecah perang Baratayuda.

Wayang Kulit Bima alias Bratasena waktu muda
Setelah mengetahui Gatotkaca gugur oleh senjata Kunta Wijayandanu milik Adipati Karna,Bima mengamuk.Ia berusaha keras mendekati Adipati Karna,namun barisan Kurawa sekuat tenaga menghalanginya.Pada hari ke-16,ia berjumpa dengan Dursasana yang ikut menghalangi usaha Bima mendekati Adipati Karna.Keduanya terlibat adu perang tanding,namun tak lama kemudian Dursasana melarikan diri.Bima terus mengejar,ketika sampai di sungai Kelawing,Dursasana terjatuh.Dengan mudah Bima menangkapnya dan menjambak rambutnya seperti pernah dilakukan kepada Dewi Drupadi.Diseret kembali Dursasana ke gelanggang Tegal Kurusetra.Akhirnya dengan kuku Pancanakanya,Bima berhasil membunuh Dursasana,darahnya dihirup oleh Bima dan digunakan untuk mengeramas rambut Dewi Drupadi.

Wayang Kulit Werkudara gagrak Jogjakarta
Dalam Baratayuda pada hari ke-17,Bima juga membunuh Patih Sengkuni secara kejam.Si penyebar fitnah dan perencana kejahatan itu dirobek mulutnya.Belum puas dengan itu,Bima menusukkan kuku Pancanaka ke anus Patih Sengkuni dan mengulitinya,sehingga seluruh kulitnya lepas dari tubuhnya.Hanya dengan cara itulah Patih Sengkuni dapat dibunuh,karena seluruh kulitnya memang kebal berkat Lenga Tala yang pernah dilumurkan ke seluruh tubuhnya kecuali anusnya.Kematian Sengkuni secara menyedihkan itu akibat kutukan Patih Gandamana yang pernah difitnah Sengkuni.

Wayang Kulit Bima waktu berperang melawan Duryudana
Kemenangan akhir para Pandawa atas Kurawa dalam Baratayuda ditentukan pada hari ke-18.Setelah semua senapati Kurawa dikalahkan Pandawa,Prabu Duryudana terpaksa turun ke gelanggang.Ia berhadapan dengan Bima.Mereka memang menjadi musuh bebuyutan sejak kecil.Badan mereka sama-sama tinggi besar,mempunyai guru yang sama,Resi Drona dan Krepa.Juga sama-sama belajar gada pada Baladewa.Karena itu perkelahian di antara mereka sangat seru dan seimbang.Perang tanding antara Bima dengan Duryudana mendapat pengawasan Baladewa.Dalam perang gada itu ditentukan peraturan hanya bagian pinggang ke atas yang boleh dijadikan sasaran pukulan.Walaupun Bima lebih kuat dan lebih lincah,tetapi Duryudana mempunyai kelebihan,seluruh tubuhnya kebal kecuali wentis(paha) kirinya.Kekebalan tubuh ini berkat Lenga Tala yang pernah melumuri hampir seluruh tubuhnya.Itulah sebabnya walaupun pukulan Bima lebih banyak yang mengena,Duryudana masih tetap segar karena kekebalannya.Jika ini dibiarkan terus berlangsung,Bima tentu akan kehabisan tenaga.Kresna lalu berbisik pada Arjuna,bahwa sebenarnya tidak seluruh tubuh Duryudana kebal,ada bagian tubuhnya yang tidak kebal yaitu paha kirinya.Setelah memahami bisikan Kresna itu,Arjuna lalu memberi isyarat pada Bima dengan cara menepuk-nepuk paha kirinya.Bima segera maklum dengan isyarat Arjuna,dengan sekuat tenaga dihantamnya paha kiri Duryudana hingga remuk sehingga sulit berdiri.Pukulan berikutnya berhasil menghabisi nyawa Duryudana hingga tewas seketika.Baladewa yang melihat itu,menjadi marah besar,menganggap Bima telah melanggar perjanjian yang disepakati.Namun oleh Kresna segera ditenangkan amarah kakaknya itu,dan mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi karena kutukan Begawan Maetreya yang pernah dihina Duryudana pada waktu menghadap Duryudana guna memberi saran agar memenuhi segala tututan Pandawa.Waktu itu Duryudana tidak mendengarkan sarannya,tapi malah membuang muka sambil menepuk-nepuk paha kirinya.Karena sakit hati,Begawan Maetreya lalu mengutuknya,kelak paha kirinya akan remuk dalam Baratayuda nanti.

Wayang Kulit Wrekudara gagrak Surakarta
Bima hampir menemui ajalnya setelah perang Baratayuda,waktu diantar Prabu Kresna datang ke Astina untuk menghadap Prabu Drestrarastra.Meskipun Drestrarastra adalah ayah para Kurawa,namun ia adalah kakak kandung Pandu Dewanata,ayah para Pandawa.Karena itu,Puntadewa selalu mengingatkan adik-adiknya agar selalu tetap hormat pada Prabu Drestarastra.Namun rupanya Prabu Drestaratra masih tetap menyimpan dendam pada para Pandawa,terutama pada Bima yang dianggapnya telah bertindak keji kepada anak-anaknya terutama pada waktu dia mendengar tentang kematian Dursasana yang dirobek dadanya dan dihirup darahnya oleh Bima.Dan juga tentang kematian Duryudana yang dianggapnya Bima telah berbuat curang dan semena-mena atas tewasnya Duryudana.Dendam inilah yang membuat Prabu Drestarastra nyaris membunuh Bima dengan aji Lebur Seketi.Dengan ajian ini,Drestarastra sanggup menghancurluluhkan apa saja yang disentuhnya.Ketika giliran Bima untuk menghaturkan sembah hormatnya,jari-jari Drestarastra menjulur ke depan hendak menyentuhnya.Prabu Kresna yang berdiri di belakang Bima serta merta mendorong Bima ke samping,sehingga jari-jari Drestarastra hanya menyentuh sebuah arca batu.Seketika itu juga arca batu lebur luluh jadi abu.

Wayang Kulit Bratasena gagrak Surakarta
Bima memiliki banyak nama.Nama Bratasena atau Wijasena sering digunakan untuk menyebut Bima ketika masih muda.Nama Wrekudara yang berarti perut srigala menandakan ia adalah seorang yang amat banyak makan.Nama Sena menandakan ia pernah membunuh Gajah Sena waktu masih bayi.Nama Aryabrata menunjukkan ia adalah seorang tahan menderita.Arya Jodipati sebutannya karena ia tinggal di kasatriyan Jodipati,yang sebelumnya adalah sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Dandunwacana.Raja jin itu dikalahkan dan kemudian menyatu dalam tubuh Bima.Dari Dandunwacana,ia mewarisi gada Lukitasari.Nama Jayadilaga menandakan ia adalah seorang yang selalu jaya dalam berperang dan nama Kusumadilaga karena ia menjadi kembangnya peperangan.Bayunendra,Bayuputra,Bayutanaya,Bayusuta dan Bayusiwi menandakan ia adalah putera Batara Bayu.

Tokoh Bima India
Selain Antareja dan Gatotkaca,Bima juga mempunyai anak dari Dewi Urangayu yaitu Antasena.Menurut pewayangan gagrak Banyumas,Antasena mempunyai seorang adik bernama Srenggini,yang penampilannya mirip dengan Antasena tetapi mempunyai capit di kepalanya dan insang di lehernya.

Patung Bima versi India
Selain kuku Pancanaka,Bima memiliki dua gada sakti,yakni gada Rujakpolo dan Lukitasari.Dan juga memiliki anak panah Bargawastra yang besar sekali ukurannya.Anak panah itu dapat digunakan berkali-kali karena Bargawastra selalu kembali pada pemiliknya setelah mengenai sasarannya.

Wayang Kulit Bima versi India
Watak Bima yang lugas,jujur,tidak pandang bulu dan tegas sebenarnya sangat bertentangan dengan watak Puntadewa,kakaknya.Bima menganggap Puntadewa sering bersikap terlalu nrima,pemaaf,dan lama dalam mengambil keputusan.Ia juga membenci kebiasaan Puntadewa yang dinilainya suka berjudi.Waktu menyaksikan penistaan Dursasana terhadap Drupadi,selain mengutuk Dursasana,Bima hendak mengumpat kakak sulungnya itu yang dinilainya bertanggung jawab terhadap semua kesengsaraan ini.Namun niatnya dapat dicegah oleh Arjuna,bahwa di hadapan para Kurawa mereka tidak boleh tampak bertengkar.Ketegasan sikap Bima juga tercermin tatkala Prabu Kresna memastikan keteguhan sikap para Pandawa atas keputusan berperang melawan Kurawa.Puntadewa menjawab dengan nada keengganan,sedang Arjuna akan mengikuti apa yang terbaik yang diputuskan oleh Kresna.Bima dengan tegas menjawab,jika negara Astina tidak diserahkan kita harus berperang,Baratayuda harus menjadi kenyataan.

Grafis Wayang Bima gagrak Surakarta
Bima mengenakan hiasan kening yang bernama pupuk mas.Di telinganya ada hiasan yang bernama sumping pudak sinumpet.Di lehernya melingkar kalung bernama nagabanda yang berbentuk lilitan ular naga.Sedangkan di lengannya,terikat hiasan kelat bahu bernama balibar manggis.Gelang yang dikenakannya bernama candra kirana.Kain kampuhnya yang bermotif poleng bernama kampuh poleng bang bintulu.Dalam pewayangan tokoh Bima mempunyai banyak wanda,bahkan Arjuna pun kalah banyak,ini menandakan bahwa Bima sejak dulu adalah tokoh idola bagi banyak penggemar wayang.Pada seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta dan Jogjakarta,tokoh Bima ditampilkan dalam 13 wanda.Yaitu wanda Mimis,Lintang,Lindu Panon,Lindu Bambang,Tatit,Ketug,Jagur,Kedu,Gandu,Jagong,Bedil,Mbugis,dan Gurnat.Wanda Lindu Panon ditampilkan manakala Bima sedang mengamuk.Wanda Lindu Bambang digunakan sebagai peraga Bima waktu muda,tubuhnya lebih langsing dibanding wanda Lindu Panon.Tokoh Bima pada seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Jogjakarta digambarkan bercawat,tidak bercelana.Sedangkan pada gagrak Surakarta bercelana.
Bisawarna

Grafis Wayang Bisawarna gagrak Surakarta
Prabu Bisawarna adalah raja Alengka kesepuluh.Nama kecilnya adalah Dentawilukrama.Ia menggantikan kedudukan ayahnya,Gunawan Wibisana yang memutuskan menjalani hidup sebagai pertapa di hari tuanya.Pada zaman pemerintahannya nama kerajaan Alengka diganti menjadi Singgelapura.Yang menjadi patihnya adalah Kartabangsa.

Wayang Kulit Prabu Bisawarna gagrak Jogjakarta
Selain mewarisi tahta Alengka,Prabu Bisawarna juga mewarisi kereta kencana yang dulu pernah dipakai oleh Prabu Ramawijaya,yang bernama kereta kyai Jatisura yang awalnya diberikan kepada Gunawan Wibisana.Kereta kencana ini juga pernah dipinjam Arjuna ketika hendak menikahi Dewi Subadra.Dalam Baratayuda,Arjuna juga menggunakan kereta kencana ini.
Bisma

Grafis Wayang Resi Bisma gagrak Surakarta
Resi Bisma sewaktu masih muda bernama Dewabrata,yang berarti kesayangan para dewa.Ia adalah putera raja Astinapura,Prabu Sentanu.Ibunya seorang bidadari bernama Dewi Gangga.Namun sesungguhnya,Dewabrata bukanlah anak Dewi Gangga dan Prabu Sentanu.Ia adalah penjelmaan delapan wasu yang terkena kutukan.Wasu atau Basu adalah makhluk setengah dewa,tinggal di alam yang sama dengan kediaman para dewa.Agar kutukan itu tidak berlangsung lama,Dewi Gangga sanggup menolong mereka dengan cara melahirkan para wasu itu sebagai bayinya,dan kemudian langsung membunuhnya dengan cara membuangnya ke sungai Gangga.Dengan cara itu para wasu bisa terbebas dari kutukan sehingga dapat kembali ke kahyangan.

Wayang Kulit Resi Bisma gagrak Surakarta
Namun waktu kelahiran bayi yang kedelapan,Prabu Sentanu mencegah niat Dewi Gangga membunuh bayinya.Akibatnya wasu yang kedelapan itu harus menjalani kutukan,hidup sebagai manusia biasa di dunia.Sejak kelahirannya Dewabrata langsung ditinggalkan ibunya yang kembali ke kahyangan.Ini sesuai perjanjian antara Dewi Gangga dengan Sentanu sebelum mereka menikah.Waktu itu Dewi Gangga memberi syarat,bersedia menjadi istri Sentanu asal saja Sentanu tidak melarang apapun yang diperbuatnya,walaupun perbuatannya itu tidak masuk akal.Tetapi ketika kelahiran yang kedelapan,Sentanu berkeras melarang Dewi Gangga membuang bayinya.Ini berarti Sentanu telah melanggar janjinya sendiri,dan Dewi Gangga merasa berhak meninggalkan Sentanu dan bayinya untuk kembali ke kahyangan.

Wayang Ukur Resi Bisma karya Sigit Sukasman
Dalam pewayangan diceritakan,sejak saat itu Dewabrata diasuh dan dipelihara penuh oleh Sentanu seorang diri.Sambil menggendong anaknya,Sentanu berkelana tak tentu tujuan,sampai akhirnya tiba di negeri Astina.Yang menjadi raja negeri itu adalah Palasara,yang menjadi raja Astina bergelar Prabu Dipakiswara.Kedatangan Sentanu diterima baik oleh Prabu Dipakiswara dan permaisurinya.Karena bayi Dewabrata menangis kehausan,Sentanu memohon agar bayinya itu disusui oleh Durgandini.Kebetulan Dewi Durgandini juga mempunyai bayi yang masih menyusui,yakni Abiyasa.Sehingga Prabu Dipakiswara dan istrinya,Durgandini tidak keberatan.Namun ternyata bayi Dewabrata amat rakus,sehingga jatah air susunya tidak mencukupi.Sentanu minta agar jatah air susu Abiyasa dikurangi untuk kepentingan Dewabrata,Prabu Dipakiswara tidak rela.Mereka sama-sama ngotot demi kepentingan anaknya.Maka terjadilah perang tanding antara Sentanu dan Dipakiswara.Ternyata kesaktian mereka seimbang,berhari-hari mereka berperang,tidak ada yang kalah maupun menang.Batara Narada akhirnya datang memisah.Keduanya ditanya apakah mereka setuju bilamana sengketa itu diputuskan sendiri oleh kedua bayi mereka.Sentanu dan Dipakiswara setuju.Batara Narada lalu berkata bahwa menurut suratan para dewa,Dewabrata berhak atas ibu,dan Abiayasa berhak atas negara.Tetapi Abiyasa memilih ibu,dan rela bilamana negara Astina diberikan kepada Bisma.Bahkan bayi Abiyasa menegaskan kalau ia tidak mendapatkan ibu,lebih baik ia tidak mendapatkan keduanya.Keputusan Abiyasa itu membuat Dipakiswara kemudian menyerahkan negara Astina dan Dewi Durgandini kepada Sentanu.Ia kemudian pergi ke Sapta Arga bersama Abiayasa membangun pertapaan Wukiratawu.

Wayang Golek Sunda Bisma
Namun kisah Dewabrata ini berbeda cukup jauh dengan kisah Mahabarata.Dalam pewayangan Dewabrata bertemu dengan Dewi Durgandini ketika masih bayi,sedang dalam Mahabarata,pertemuan itu terjadi ketika Dewabrata menginjak remaja.Seharusnya Dewabrata berhak menjadi raja Astina menggantikan ayahnya karena dia putera tertua.Namun ketika Dewabrata tahu kalau ayahnya jatuh cinta pada Dewi Durgandini,sedangkan Dewi Durgandini menghendaki agar anak yang dilahirkannya lah yang kelak menjadi raja.Dewabrata lalu menanggalkan haknya sebagai pewaris tahta.Di hadapan ayahnya,Prabu Sentanu dan Durgandini,Dewabrata menyatakan keikhlasannya menyerahkan haknya sebagai pewaris tahta kepada adik tirinya yang akan dilahirkan kelak.Namun ternyata Dewi Durgandini belum cukup puas,ia khawatir kalau-kalau kelak di kemudian hari,anak atau keturunan Dewabrata akan menuntut hak tahta Astina.Karena itulah Dewabrata segera bersumpah bahwa ia tidak akan menyentuh wanita atau menikah seumur hidupnya dan akan hidup sebagai brahmacarya.Sumpah yang sangat berat ini telah menggoncangkan dunia,yang melukiskan kekaguman seisi alam terhadap ketulusan hati Dewabrata.

Wayang Kulit Resi Bisma gagrak Jogjakarta
Sebagai pernyataan akan kekaguman akan ketulusan hati Dewabrata,seketika itu juga Prabu Sentanu memohon pada para dewa agar Dewabrata diberi umur panjang dan tidak akan mati bila ia sendiri yang tidak menginginkannya.Para dewa mengabulkan permohonan ini,Dewabrata diperkenankan memilih sendiri jalan kematiannya.Dan kelak itu terbukti,dalam Baratayuda,Bisma atau Dewabrata terluka parah dengan ratusan anak panah menancap di tubuhnya.Namun ia belum mau mati karena ingin menyaksikan jalannya perang Baratayuda sampai selesai.Ia memilih kematian sebagai prajurit sejati,dan itu juga terlaksana.

Grafis Wayang Bisma gagrak Jogjakarta
Dewabrata sangat haus akan ilmu,ia banyak mempelajari berbagai ilmu.Di antara gurunya adalah Rama Bargawa atau Rama Parasu,seorang brahmana sakti.Rama Parasu bersedia menjadi gurunya,karena walaupun Bisma berdarah ksatria namun ia menjalani hidup sebagai seorang pertapa.Setelah berguru pada Rama Parasu,kesaktian Bisma bertambah hebat.Bisma sendiri berarti hebat,luar biasa atau dahsyat.Sebenarnya,setelah berguru pada Rama Parasu,Dewabrata dilarang mengenakan pakaian ksatria.Kalau ini dilanggar,Bisma akan menemui pengalaman pahit dan akan menyesal sepanjang hidupnya.Namun karena kedudukan dan tugasnya di Kerajaan Astina,Bisma terpaksa mengenakan kembali pakaian ksatrianya.

Grafis Wayang Dewabrata gagrak Surakarta
Ketulusan hati Bisma tidak berkurang ketika Prabu Sentanu meninggal dunia dan Citranggada,adik tirinya,mewarisi tahta Astina.Dengan kesaktian yang dimilikinya,Bisma berhasil memperluas wilayah Kerajaan Astina.Ia berhasil membunuh Wahmuka dan Arimuka dari Kerajaan Giyantipura,sehingga dapat memboyong tiga puteri Prabu Darmamuka,untuk dikawinkan dengan adik tirinya,Citranggada.Dari ketiga puteri ini hanya Dewi Ambika dan Ambalika yang mau dinikahkan dengan Citranggada.Sedangkan Dewi Amba yang kagum melihat kegagahan Bisma dalam pakaian kasatriannya,menuntut agar ia diperistri oleh Bisma.Alasan Dewi Amba,Bisma lah yang membunuh Wahmuka dan Arimuka,bukan Citranggada.Permintaan ini ditolak oleh Bisma,karena ia sudah bersumpah seumur hidup tidak akan menyentuh wanita.Dewi Amba tidak mau menerima alasan ini.Ia tetap saja mendesak agar Bisma mau memperistrinya.Karena Dewi Amba tetap pada tuntutannya,Bisma lalu menakut-nakutinya dengan anak panah terpasang di busur.Tanpa sengaja anak panah itu terlepas dari busurnya dan tepat mengenai dada Dewi Amba.Sebelum tewas,Dewi Amba berkata jika nantinya terjadi perang Baratayuda,Bisma akan menemui ajalnya di tangan seorang prajurit wanita.Kelak dalam Baratayuda nantinya memang Bisma mendapat lawan Srikandi,istri Arjuna.

Grafis Wayang Bisma gagrak Surakarta
Keputusan Bisma untuk menjalani brahmacarya nyaris menjadi sebab utama terhentinya garis keturunan keluarga Barata.Putera Prabu Sentanu hanya tiga orang.Dewabrata dan kedua orang adik tirinya yang lahir dari Dewi Durgandini,yakni Citranggada dan Wicitrawirya.Tetapi kedua anak Dewi Durgandini semua mati muda,sebelum mereka mempunyai anak.Dengan begitu sama sekali Prabu Sentanu tidak mempunyai cucu.Terhentinya garis keturunan semu inilah yang kemudian menjadi sebab pertikaian antara keluarga Kurawa dan Pandawa.Seandainya Dewabrata tidak bersumpah menjalani brahmacarya dan ia mempunyai anak,maka seharusnya keturunan Dewabrata itulah yang menjadi raja di Astina.Bukan Kurawa,bukan pula Pandawa.Ketika Abiyasa mengundurkan diri sebagai raja Astina dan menyerahkan singgasana kepada Pandu Dewanata,Bisma pun ikut meninggalkan istana dan hidup sebagai pertapa di Talkanda.Namun karena tetap merasa bertanggung jawab terhadap keamanan dan kesejahteraan Astina,Bisma masih sering datang berkunjung ke istana.

Grafis Wayang Perang Bisma dengan Srikandi
Dalam pertikaian antara Kurawa dan Pandawa,sesungguhnya Resi Bisma memang berpihak pada Pandawa.Namun ia terikat pada kesetiaannya pada tanah kelahirannya,yaitu Astina.Dalam Baratayuda,pada waktu Bisma menjadi senapati perang di pihak Kurawa.Di pihak Pandawa yang menjadi senapatinya adalah Resi Seta.Namun Resi Seta dapat dikalahkan oleh Bisma dengan pusaka Jungkat Penatas dari ibunya,Dewi Gangga.Kemudian atas nasihat Prabu Kresna,pihak Pandawa menampilkan Dewi Srikandi sebagai panglima perangnya.Sesuai dengan kutukan Dewi Amba,tatkala Bisma berhadapan dengan Dewi Srikandi,ia sadar bahwa arwah Dewi Amba datang menjemput kematiaanya.Bisma segera turun dari kereta perangnya dan berjalan kaki menyongsong Srikandi yang menghujaninya dengan anak panah.Ketika berhadapan dengan Bisma,timbul keraguan di hati Srikandi yang sebenarnya menaruh hormat pada Resi Bisma.Karena tidak sampai hati,Srikandi lalu bergerak mundur.Perasaan ragu ini diketahui oleh Bisma,agar tidak sungkan menghadapinya,Bisma sengaja membuat lawannya marah.Bisma segera membidikkan anak panahnya tepat pada tali pengikat penutup dada Srikandi,bidikan itu membuat penutup dadanya terlepas.Sehingga bukan main marahnya Dewi Srikandi dipermalukan seperti itu.Segera ia membidikkan anak panah pusaka Kyai Sengkali,namun karena kelelahan jalannya Sengkali kurang melaju cepat.Kemudian oleh Arjuna dibantu dengan meluncurkan anak panah pusaka Ardadedali untuk mendorong anak panah Kyai Sengkali.Dengan dorongan Ardadedali,Sengkali meluncur deras menembus dada Resi Bisma.Senapati Astina itu akhirnya rebah,tidak sanggup berdiri lagi.Namun ia belum mati,karena belum menghendakinya,Bisma ingin menyaksikan jalannya perang Baratayuda sampai selesai.Dalam keadaan luka parah selama lima hari lima malam,akhirnya Bisma gugur pada hari terakhir Baratayuda,yaitu pada hari yang kedelapan belas.
Bismaka

Wayang Kulit Bismaka gagrak Jogjakarta
Prabu Bismaka adalah gelar Haryaprabu Rukma setelah menjadi raja Kumbina.Permaisurinya seorang bidadari bernama Dewi Rumbini.Mereka mempunyai dua orang anak,yaitu Dewi Rukmini dan Harya Rukmana.Setelah dewasa,Dewi Rukmini menjadi salah satu istri Prabu Kresna,raja Dwarawati.
Perkawinan Dewi Rukmini dengan Prabu Kresna sempat membuat Prabu Bismaka naik pitam,karena sebenarnya ia tidak merestui pernikahan itu.Prabu Bismaka sempat meminta bantuan para Pandawa,sehingga mereka bermusuhan dengan Prabu Kresna.Pertikaian ini akhirnya didamaikan oleh Batara Narada,yang memberitahu bahwa Dewi Rukmini memang jodohnya Kresna.
Bitarota

Wayang Kulit Bitarota gagrak Cirebon
Bitarota adalah seorang tokoh Panakawan dalam Wayang Kulit Purwa gagrak Cirebon.Ia adalah anak Semar yang kelima,selain kaki depannya yang terkena penyakit semacam borok di tumit yang menahun,kedua tangannya berlekuk-lekuk bagai ular.
Bogadenta

Wayang Kulit Bogadenta gagrak Jogjakarta
Prabu Bogadenta termasuk salah satu raja taklukan Astina yang memihak para Kurawa dalam Baratayuda.Ia adalah raja dari Kerajaan Pragnyatisa.Dalam Baratayuda ia menunggang gajah bernama Supratika yang besarnya luar biasa.Namun akhirnya gajah dan penunggangnya,Prabu Bogadenta tewas terbunuh dengan panah Arjuna.

Grafis Wayang Bogadenta gagrak Surakarta
Menurut pewayangan sesungguhnya Bogadenta berasal dari ari-ari para Kurawa.Karena permohonan Dewi Gendari,ari-ari itu berubah ujud menjadi manusia dan termasuk golongan Kurawa.Itulah sebabnya jumlah Kurawa seluruhnya bukan seratus,melainkan seratus satu.Suatu ketika dalam lakon Trajon,para Kurawa yang berjumlah seratus itu diadu berat bobotnya dengan para Pandawa yang berjumlah lima orang.Setelah semua Kurawa naik di salah satu sisi timbangan,satu persatu para Pandawa naik di sisi yang lain,dan terakhir barulah Bima yang naik.Setelah berancang-ancang,Bima yang bertubuh tinggi besar itu langsung melompat dan memeluk keempat saudaranya.Akibatnya papan timbangan itu terhentak dan semua Kurawa jatuh dari timbangan.Namun Bogadenta yang duduknya paling ujung terpental jauh sampai ke Kerajaan Pragnyatisa dan akhirnya menjadi raja di negeri itu.
Boma Narakasura

Grafis Wayang Boma Narakasura gagrak Surakarta
Boma Narakasura adalah Raja Trajutrisna yang merupakan salah satu anak Prabu Kresna.Di masa mudanya bernama Sitija atau kadang-kadang disebut juga Bomantara,yang sebenarnya adalah nama pamannya sendiri dari pihak ibu,yaitu Prabu Bomantara,raja Prajatisa.Kemudian dia berhasil membunuh Prabu Narakasura dari Kerajaan Surateleng,yang akhirnya diambil sebagai gabungan namanya,menjadi Prabu Boma Narakasura.

Wayang Kulit Boma Narakasura wanda Wisnua gagrak Jogjakarta
Ibunya seorang bidadari penguasa bumi,bernama Dewi Pertiwi.Ayahnya adalah Batara Wisnu,sehingga Sitija juga dianggap sebagai salah satu anak Prabu Kresna,karena Kresna adalah titisan Wisnu.Sitija menjadi seorang yang sakti,salah satu kekuatannya terletak pada bumi.Jika dia mati,dan badannya lalu menyentuh tanah maka dia akan hidup kembali.Kesaktiaan ini diperolehnya dari ibunya,Dewi Pertiwi.Boma mempunyai adik kandung bernama Dewi Siti Sundari yang setelah dewasa diperistri oleh Abimanyu.Adik tirinya dari lain ibu,bernama Samba.Istri Boma bernama Dewi Agnyanawati.Patihnya bernama Pancatnyana dan Arya Supawala.Mempunyai kendaraan angkasa bernama garuda Wilmana.

Wayang Kulit Boma Narakasura gagrak Surakarta koleksi Radya Pustaka
Suatu saat Dewi Agnyanawati berbuat serong dengan adik iparnya,yaitu Samba.Ketika ketahuan Prabu Boma Narakasura,dengan kemarahan yang meluap-luap ia membunuh Samba dan mencabik-cabik tubuhnya.Namun oleh ayahnya,Prabu Kresna berhasil menghidupkan kembali Samba dengan Cangkok Wijayakusuma.Apalagi Kresna juga tahu kalau sesungguhnya Dewi Agnyanawati adalah jodohnya Samba.Tindakan Kresna yang menghidupkan Samba membuat Boma Narakasura marah,apalagi dia juga mendapat hasutan dari patih Pancatnyana agar menyerbu kerajaan Dwarawati untuk menghukum Prabu Kresna yang dinilainya tidak adil memihak Samba yang jelas-jelas bersalah.

Wayang Kulit Boma Narakasura wanda Jaka gagrak Jogjakarta
Boma yang berkali-kali mati terkena senjata Cakra milik ayahnya,selalu dapat hidup kembali.Karena diam-diam ibunya,Dewi Pertiwi selalu membantunya.Setiap kali badannya menyentuh tanah,Batari Pertiwi langsung menghidupkannya kembali.Para dewa segera datang membantu,dengan memerintahkan beberapa bidadari untuk membawa jalasutra atau Anjang-anjang Kencana.Dengan bantuan Gatotkaca saat Boma tewas terkena senjata Cakra,Gatotkaca segera menangkap tubuh Boma dan melemparkannya ke dalam Anjang-anjang Kencana.Para bidadari kemudian menceburkannya ke dalam Kawah Candradimuka.Setelah Boma mati,Dewi Agnyanawati kemudian menikah dengan Samba.Dalam pewayangan Boma sering bertikai dengan Gatotkaca.Mereka pernah memperebutkan wahyu senapati,tapi kalah bersaing dengan Gatotkaca.Juga dalam lakon Kikis Tunggarana,terjadi perang antara Kerajaan Trajutrisna dan Pringgandani dalam memperebutkan wilayah perbatasan.
Bomantara

Grafis Wayang Bomantara gagrak Surakarta
Prabu Bomantara adalah raja Prajatisa yang berujud raksasa yang wilayahnya berbatasan dengan kerajaan Dwarawati.Nama itu nantinya juga menjadi nama alias Sitija alias Prabu Boma Narakasura,salah seorang anak Prabu Kresna.Itu setelah Sitija berhasil membunuh Prabu Bomantara dan mengambil alih singgasana dan kerajaannya.
Pada saat perang tanding,Sitija menggigit telinga Prabu Bomantara sehingga seluruh kesaktiannya musnah.Pada saat itu pula jiwa dan raga Prabu Bomantara menyatu dengan Sitija,sehingga Sitija yang semula berwajah rupawan berubah wujud menjadi setengah raksasa,dan berwatak jahat persis seperti Prabu Bomantara.Patihnya yang bernama Pancatnyana diampuni dan tetap dibolehkan menjadi patihnya.
Bragalba

Grafis Wayang Bragalba gagrak Surakarta
Bragalba atau Pragalba tergolong raksasa prepat(empat sekawan) yaitu tokoh raksasa yang sekali muncul dalam sebuah lakon langsung akan mati.Biasanya ia muncul berempat dalam perang kembang bersama-sama dengan raksasa lain,yaitu Buto Rambut Geni,Buto Terong,dan Buto Cakil.
Brahala
Brahala adalah sebutan bagi raksasa mahabesar dan menakutkan,jelmaan titisan Batara Wisnu yang sedang triwikrama.Dalam pewayangan Brahala digambarkan sebagai raksasa sebesar gunung dengan seribu kepala dan seribu tangan,masing-masing memegang berbagai senjata.
Di antara titisan Wisnu,Prabu Kresna dan Arjuna Sasrabahu yang paling sering melakukan triwikrama.Antara lain pada waktu Kresna hendak melamar Dewi Rukmini.Demikian juga ketika ia menjadi duta para Pandawa untuk merundingkan penyerahan kembali kerajaan Amarta dan separuh Astina dari para Kurawa.Dalam lakon Kresna Gugah,Kresna melakukan tapa tidur ngraga sukma,ia pun dalam keadaan triwikrama dan menjadi Brahala.
Tetapi ketika Kresna membunuh Sisupala karena penghinaanya dalam lakon Sesaji Raja Suya,ia tidak melakukan triwikrama dan menjadi Brahala.Padahal waktu itu Kresna dalam keadaan marah.Hal ini menyimpulkan bahwa untuk menjadi Brahala,Kresna tidak perlu marah,dan kalau marah tidak selalu menjadi Brahala.
Seperti halnya Arjuna Sasrabahu,dalam keadaan marah ia menjadi Brahala yakni sewaktu berhadapan dengan Bambang Sumantri dan berperang dengan Dasamuka.Namun ketika ia menjadi Brahala sewaktu membendung sungai Yamuna,ia tidak sedang marah.Sedangkan Ramawijaya melakukan triwikrama menjadi Brahala sewaktu permintaannya untuk mengeringkan lautan tidak dipenuhi oleh Batara Baruna.Dalam Wayang Kulit Purwa,menyebut Brahala dengan Balasrewu,sewaktu yang menjadi triwikrama adalah Prabu Kresna.Sedangkan Puntadewa bila sedang menjadi Brahala disebut Dewa Amral.

yg gambar grafis wayang itu ijin ke pak Heru S Sudjarwo,mas..ada facebooknya beliau…ijin aja,gak papa…kalo wayang2 kulitnya sebagian ada koleksi para dalang…klo saya asal tidak dikomersialkan,sumangga aja…
Terima kasih buat atensinya Kang…semoga bermanfaat…ditunggu aja ya…:)
okey..makasih…